Untuk menjangkau kelompok disabilitas kembali ke kampung halaman, badan usaha milik negara (BUMN) menggelar program Ramadan Mudik Asyik. Program dari BUMN ini hasil kerjasama dengan Bank Syariah Indonesia.
Sri Puryantini, perempuan yang akrab disapa Pungky siap menunaikan ibadah Lebaran dengan keluarga di kampung halaman. Berangkat dari rumahnya di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Pungky ikut program mudik dengan kereta melalui Stasiun Senen pada 7 April 2024 lalu. Bersama dengan suami, penyandang disabilitas ini tidak mengajak anaknya karena masih kerja.

“Ini kali ketiga mengikuti program mudik. Setiap tahun ikut, pertama dengan bus akses disabilitas, kedua dan saat ini dengan kereta api mudik gratis. Susah kalau tidak ada program ini tidak mungkin bisa pulang,” kata Pungky yang ingin bertolak ke Madiun, Jawa Timur.
Dari kecil, Pungky tinggal di Jakarta. Ia mulai menderita polio saat berusia 2 tahun. Awalnya karena ia jatuh, tetapi masa itu masih jarang vaksinasi yang tersedia. Mendadak kaki kirinya lemas, sementara kaki kanan masih normal. Sebagai disabilitas fisik akibat polio, kini Pungky memakai alat bantu tongkat. Sementara untuk perjalanan jarak jauh ia memakai kursi roda.
“Saya tak kuat naik sendiri untuk masuk (loket Stasiun Pasar Senen). Ramp ini terlalu tinggi buat saya,” ujarnya.
Pungky mengaku ia mendaftar program mudik secara gratis. Katanya, ada kenalan dari Kementerian Perhubungan, dan ia mendaftarkan melalui tautan dari mereka.
“Pengisiannya mudah dan ternyata ada seleksi menurut Kartu Keluarga (KK),” kata Pungky.
Pungky membagikan pengalaman mudik gratis kali ini. Ia menilai kualitas ramp di Stasiun Senen. Ia mengaku, sebagai perempuan ramp yang ada saat ini belum sepenuhnya membantu menopang beban tubuhnya.
“Harapannya bisa disesuaikan tapi kalau belum bisa juga tidak apa-apa untuk terminal,” ujar Pungky.
Berkaitan dengan akses toilet untuk disabilitas, Pungky mengapresiasi kelengkapan fasilitas dengan pegangan. Sayangnya, pintu toilet cukup kuat sehingga bagi disabilitas fisik mungkin agak sulit mendorong pintu tersebut.
Sehari-hari, Pungky yang bekerja sebagai pengajar keterampilan seni dan krita di unit karya YPAC Jakarta terbiasa untuk mengajari anak-anak disabilitas. Misalnya, anak-anak penyandang cerebral palsy. Tak heran jika Pungky memiliki pemahaman yang cukup baik tentang kebutuhan penyandang disabilitas.
“Untuk memperbaiki fasilitas sesuai standar sebenarnya sudah ada masukan dari teman-teman disabilitas, tapi saat pembangunan tidak ada yang memastikan sesuai standar. Maka harus melibatkan disabilitas yang mengerti,” terang Pungky.
Sehari-hari, Pungky merangkai bunga, hampers, dan beberapa kerajinan tangan. Pemesanan untuk produksi bisa melalui telepon dan akan dibuat sesuai permintaan. Fasilitas mudik gratis membuat Pungky dan suami merasa sangat terbantu karena tersedia akses dan transportasi secara cuma-cuma.

Terobosan untuk penyandang disabilitas
Inisiator Mudik Ramah Anak dan Disabilitas (MRAD) Ilma Sovri Yanti menjelaskan, program Mudik Inklusi Ramah Anak dan Disabilitas (MIRAD) sebelumnya adalah MRAD. Program ini berjalan sejak 2015 dan mulai resmi berjalan pada 2016. Mudik gratis pun menjadi media advokasi dengan mengambil momen mudik.
“Kenapa mudik? Karena mudik adalah pergerakan orang secara besar menuju wilayah satu ke wilayah lainnya. Yang paling merasakan hilangnya kesempatan mudik adalah penyandang disabilitas dan keluarganya” kata Ilma.
Melalui MIRAD, lanjut Ilma, penyandang disabilitas bisa langsung mengadvokasi dan para pengambil kebijakan untuk menyaksikan kualitas sarana-prasarana transportasi dan infrastruktur yang masih jauh dari inklusif. Bahkan, perspektif publik dan pemerintah pun belum mengakomodir keberadaan disabilitas dengan melibatkan saat pembangunan.
Sejak 2016 juga MRAD berubah menjadi MIRAD, dan mendapat dukungan dari BUMN. Kemdian lintas kementerian turut berkolaborasi menggelar layanan mudik bagi disabilitas. Inisiatif ini membangkitkan semangat pembenahan demi pembenahan sarana dan prasarana di sektor transportasi publik.
“Walaupun belum ideal, dari tahun 2016 sampai 2019 semakin meningkat dan ada kemajuan. Karena itu, tujuan MIRAD 2024 adalah untuk meningkatkan kembali perspektif masyarakat dan pemerintah agar lebih peduli dan memenuhi hak-hak disabilitas sebagai warga negara yang sama,” ujar Ilma.
Koordinator Mudik Inklusi Ramah Anak dan Disabilitas (MIRAD), Catur Sigit Nugroho bercerita, awal mula program ini berasal dari inisiatif MIRAD. Namun selanjutnya pihak Kementerian Perhubungan bekerja sama dengan MIRAD mengadakan program mudik ini. Tujuannya, tentu untuk memfasilitasi penyandang disabilitas yang kesulitan dalam mobilisasi khususnya naik dan turun bus.
Catur mengingat pada tahun 2016 lalu, program mudik gratis pernah mencoba menggunakan mobil akses. Program ini adalah uji coba dengan bantuan Bank Syariah Mandiri, dengan 7 orang peserta. Lalu pada tahun 2017 program tersebut berlanjut sampai sekarang. untung saja, katanya, jumlah eserta selalu meningkat.
“Kami ingin menyosialisasikan kepada semua pihak terutama di pemerintah supaya memberikan fasilitas transportasi yang ramah dalam sarana dan prasarana, bisa dipakai semua masyarakat tanpa terkecuali mereka yang disabilitas,” tutur Catur.

Catur pun berharap agar kerja sama antara komunitas disabilitas, masyarakat sipil, dan BUMN dapat terus ditingkatkan. Ia mendorong program mudik lebaran Idul Fitri dan Natal & Tahun Baru (Nataru) di tahun-tahun berikutnya menjadi proses edukasi dan pemenuhak hak-hak disabilitas agar transportasi publik dan fasilitas publik lainnya benar-benar inklusif.
“Dengan dukungan BUMN, ke depannya semoga semakin banyak lagi dari disabilitas yang menjadi peserta MIRAD. Sehingga, mereka bisa pulang ke kampung halaman secara nyaman dan dapat menikmati transportasi publik yang inklusif,” harap Catur yang juga pengguna kursi roda.
Mudik kali ini, sambung Catur memberangkatkan disabilitas netra, fisik, tuli, mental, dan intelektual dan rata-rata dari mereka bersama pendampingnya masing-masing. Pasalnya, pemudik disabilitas via jalur darat bertujuan ke Surabaya, Yogyakarta, Solo, Purwantoro (Wonogiri) dan Madiun. Sementara yang dengan pesawat ada 17 pemudik yang tujuannya ke Medan, Pangkal Pinang, Padang, Banda Aceh, dan Pontianak (Kalimantan Barat).
Semakin lama, Catur mengklaim mudik disabilitas makin membaik. Pasalnya pada 2017, inisiator mudik disabilitas bahkan sempat membawa toilet akses dengan truk tersendiri untuk sosialisasi disabilitas. Selain itu juga pengadaan rest area lengkap dengan toilet akses. Semua kebutuhan tersebut akhirnya tersedia pada 2018.
“Kebetulan di Kementerian sebagai Ketua Tim Inklusi Disabilitas, sosialisasi banyak stasiun ramah disabilitas kami lakukan di terminal.”
Pada tahun 2018, Catur menyebut jumlah peserta terbukti terus meningkat sampai 316 orang. Ia pun makin optimis sejak saat ini jumlah keterlibatan penyandang disabilitas akan makin banyak di tahun mendatang. Apalagi sudah banyak stasiun terfasilitasi.
“Semua berkat antusiasme mendorong kemajuan program mudik ini,” pungkasnya.
Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api Arif Anwar menyebut, program tahunan mudik gratis disabilitas untuk tahun ini ingin memberikan fasilitas dan kesempatan lebih besar pada lebih banyak penyandang disabilitas.
“Untuk dapat bersilaturahmi ke kampung halaman, tahun ini ada 360 lebih penyandang disabilitas diberangkatkan,” tutur Arif.
Maka untuk menjaga target tersebut di masa depan, Arif mengaku akan terus berkoordinasi dengan banyak pihak mengingat kapasitas kereta yang terbatas dan harus berbagi dengan peserta mudik lain.
Selaku pendukung program mudik 2024, Direktur Sales and Distribution Bank Syariah Indonesia Anton Sukarna menilai mudik adalah ritual tahunan masyarakat. Oleh karena itu pembukaan mudik gratis di beberapa daerah akan terselenggara secara rutin.
“BSI memberikan kontribusi kepada masyarakat untuk mudik dengan lebih lancar, aman, nyaman dan sampai kampung halaman dalam kondisi sehat dan selamat. Kerjasama bisa berlanjut,” tuturnya.
Dalam selebrasi mudik tersebut, Direktur Penjualan dan Distribusi Bank Syariah Indonesia, bersama Direktur Jenderal Perkeretapian Mohamad Risal Wasal, Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api Arif Anwar kompak berkomitmen akan terus bekerja sama mendukung program mudik bagi disabilitas.
“Jika ada hal-hal baik telah yang kami lakukan, tolong disampaikan. Tetapi, kalau ada yang belum ideal, kami juga terbuka terhadap masukan untuk perbaikan,” kata Risal Wasal.
Editor: Gloria Fransisca Katharina Lawi
Discussion about this post