Prohealth.id — Pegiat Perempuan Anti Merokok Watty Anggraeni, mengkritisi kebijakan pemerintah yang dinilai masih belum tegas dalam pengendalian tembakau selama setahun terakhir. Menurutnya, kebijakan tersebut belum mampu melindungi ruang sehat bagi perempuan dan anak, khususnya di ranah publik.
Watty menilai pemerintah masih berkompromi dengan industri rokok, terutama dalam kebijakan standar kemasan rokok yang berada di di Kementerian Kesehatan.
Kebijakan tersebut juga dianggap masih mengakomodasi kepentingan industri rokok dan menunjukan lemahnya komitmen pemerintah dalam melindungi kesehatan masyarakat.
“Seharusnya kebijakan standar kemasan rokok jadi kesempatan pemerintah menunjukan komitmen melindungi kesehatan masyarakat terutama perempuan dan anak,” ujarnya lewat pesan singkat kepada Prohealth (28/12).
Di sisi lain, Watty menyoroti bahwa perempuan kerap menjadi korban dari mudahnya akses mendapatkan rokok. Ia mengaku sering menerima laporan keresahan dari banyak perempuan terkait aktivitas merokok di berbagai ruang publik.
“Terutama di kampus, sekolah, di jalan, atau di tempat umum yang bebas asap rokok. Kita sebagai perempuan pengen hak buat bernapas di udara yang bersih, kalo mau merokok yah di tempat khusus dong,” katanya.
Watty menegaskan, asap rokok sangat mengganggu, terutama bagi ibu hamil, anak-anak. Bau asap rokok menyengat kerap menyebabkan sesak napas, pusing, kadang mual, hingga mata perih.
”Kami ini perokok pasif dan paling rentan karena tidak merokok, tapi kenapa kita harus menanggung dampaknya,” ujarnya.
Tagih Komitmen Pemerintah
Watty menambahkan, seharusnya para perokok ditempatkan di area khusus sebagaimana diatur dalam peraturan daerah (Perda) Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di setiap daerah, yang berlaku di berbagai daerah. Aturan tersebut mengatur larangan merokok di tempat-tempat publik demi melindungi masyarakat dari paparan asap rokok.
Keresahan serupa juga dirasakan Ira Safaat, 22, mahasiswa Universitas Bina Bangsa (UNIBA). Ia mengaku kerap menjadi korban dari perilaku orang yang merokok sembarangan. Ditambah, menurut pengakuan Ira, ia kerap menegur para perokok terutama ketikaa di jalan saat berkendara.
“Gua masih banyak nemuin orang merokok di jalan sambil bawa motor, pas gua berangkat, atau pulang ngampus, posisinya mereka kan di depan yah, otomatis si abunya jadi kena orang yang di belakang. Yah gua tegurlah, mereka biasanya langsung minggir atau buang rokoknya,” katanya (28/12).
Bagi Ira, orang yang merokok sembarangan menunjukan perilaku egois manusia. Menurt Ira, dalam setahun terakhir tindakan tegas dari pemerintah juga absen, ditambah tidak ada yang progres menerbitkan orang merokok di ranah publik.
“Perokok itu egois karena mentingin diri sendiri tanpa melihat dampak di sekitarnya,” ujarnya “Harusnya implementasi aturan KTR itu dipertegas pemerintah secara tindakan, bukan hanya di atas kertas saja dalam setahun terakhir,”
Editor : Fidelis Satriastanti

Discussion about this post