Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada Yogyakarta telah menyampaikan surat terbuka ke United Nations Children’s Fund (UNICEF), Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa. Surat dikirim untuk merespons tragedi kemanusiaan seorang anak di Ngada Nusa Tenggara Timur yang bunuh diri tak mampu membeli pulpen dan buku yang harganya kurang dari 10 ribu.
Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, menyatakan tragedi ini meruntuhkan seluruh pencapaian statistik pemerintah Indonesia yang dipamerkan Presiden Prabowo Subianto. Angka-angka itu, kata dia, jelas jauh dari realitas masyarakat.
“Presiden Prabowo hidup dalam imajinasinya sendiri,” kata Tiyo dalam surat terbuka yang diterima Prohealth, Selasa, 10 Februari 2026.
Tiyo mengatakan, pemerintah gagal menentukan prioritas kemanusiaan. Menjadi ironi yang kejam, ujar dia, ketika pemerintah mampu menyumbang dana sebesar Rp 16,7 triliun untuk Board of Peace yang kontroversial. Sedangkan, seorang anak bunuh diri karena tidak memiliki Rp10 ribu untuk membeli pulpen dan buku demi bersekolah.
Menurut BEM UGM, anggaran pendidikan dirampas untuk kebijakan populis tanpa arah yang potensial jadi ladang korupsi: Makan Bergizi Gratis setiap hari menggerogoti Rp 1,2 triliun uang rakyat. “Sebuah program yang tidak menyentuh akar persoalan ketimbangan pendidikan dan kemiskinan struktural,” kata Tiyo.
BEM UGM juga menilai Prabowo buta pada realitas dan tidak mau belajar. Dengan tegas, kata BEM UGM, pesan penting kami sampaikan kepada UNICEF, “Help us to tell.”
BEM UGM melanjutkan pernyataannya, “Prabowo how stupid he is as president.” “Bantu kami beri tahu Prabowo Subianto betapa bodohnya dia sebagai presiden.”

Discussion about this post