Isu fatherless atau ketiadaan peran ayah dalam pengasuhan anak semakin umum diperbincangkan. Namun, Guru Besar Bidang Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga Fakultas Ekologi Manusia IPB University, Euis Sunarti, menegaskan kondisi ini tidak bisa dipahami secara sederhana hanya dari hadir atau tidaknya sosok ayah secara fisik.
Melalui keterangan pada Senin, 2 Maret 2026, Euis menjelaskan, istilah fatherless merujuk pada ketiadaan peran ayah, bukan semata-mata ketiadaan fisik. Ada ayah yang tinggal serumah, tapi secara emosional dan pengasuhan justru tidak hadir. “Sebaliknya, ada anak tanpa ayah biologis tetapi tetap mendapatkan fungsi keayahan dari lingkungan,” ujarnya.
Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2024 menunjukkan sekitar 20,1 persen anak Indonesia berpotensi tumbuh tanpa pengasuhan ayah. Angka ini berasal dari indikator anak tinggal bersama ibu saja, tinggal bersama kakek-nenek tanpa ayah, atau ayah yang bekerja lebih dari 12 jam per hari.
Euis menilai, data ini perlu dipahami sebagai peringatan untuk meningkatkan perhatian terhadap pengasuhan anak, bukan untuk menyimpulkan kegagalan keluarga. “Itu warning agar kita meningkatkan kesadaran. Jangan langsung memaknai semua kondisi itu berdampak buruk,” katanya.
Ia menekankan, dampak fatherless sangat bergantung pada keberadaan sistem pendukung. Peran ayah dapat tergantikan oleh figur lain seperti kakek, paman, guru, bahkan lingkungan sosial yang positif. Dalam banyak kasus, anak tetap tumbuh sukses meskipun kehilangan ayah, terutama jika ibu mampu memberikan pemahaman yang baik mengenai kondisi keluarga.
“Banyak anak yatim yang berhasil tanpa penyimpangan perilaku karena kebutuhan emosionalnya tetap terpenuhi. Jadi bukan soal ada atau tidaknya ayah, tetapi apakah fungsi pengasuhan itu hadir,” jelasnya.
Sebaliknya, ia menemukan dalam sejumlah survei bahwa anak justru bisa mengalami luka emosional ketika ayah hadir secara fisik tetapi mengabaikan kebutuhan perhatian anak. “Ada anak yang mengatakan lebih baik dimarahi daripada dicuekin. Artinya, kebutuhan perhatian itu sangat mendasar,” katanya.
Ia juga mengajak masyarakat membangun kepedulian sosial terhadap anak-anak di sekitar lingkungan. Tetangga, keluarga besar, hingga komunitas dinilai memiliki peran penting menciptakan ruang tumbuh yang sehat. Karena itu, konsep Kampung Ramah Keluarga yang ia usung sejak beberapa tahun lalu semakin relevan dibutuhkan.
Menurutnya, orang tua perlu menjadikan anak sebagai prioritas dengan menciptakan core memory positif melalui kebersamaan yang dirancang secara sadar. “Tidak selalu soal lamanya waktu. Menyapa, mendengarkan, atau membuat agenda khusus bersama anak bisa membuat kehadiran ayah benar-benar dirasakan,” ungkapnya.
Ia mengingatkan agar narasi Indonesia sebagai negara dengan tingkat fatherless tinggi tidak menimbulkan stigma negatif terhadap ayah. “Gunakan data untuk meningkatkan kesadaran, bukan menyalahkan. Banyak keluarga Indonesia tetap kuat karena dukungan lingkungan dan nilai kebersamaan,” tuturnya.

Discussion about this post