Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

IIS UGM Desak Indonesia Keluar dari BoP

Agresi militer Israel dan AS menjadi ancaman nyata bagi distabilitas kawasan Timur Tengah.

by Sunu Dyantoro
Thursday, 5 March 2026
A A
Forum Alumni Komisioner Komnas HAM Desak Indonesia Keluar dari BoP Trump

Serangan udara dan rudal Amerika Serikat dan Israel ke Iran menargetkan pangkalan militer, fasilitas pertahanan, dan struktur kepemimpinan Iran. Operasi militer bersama ini mereka namakan Operation Lion’s Roar. Serangan ini memicu balasan dari Iran yang melancarkan gelombang rudal balistik dan drone ke wilayah Israel, pangkalan militer AS, dan negara sekutu di kawasan Teluk sebagai respons atas agresi itu.

Merespon peran diplomasi Indonesia dalam konflik Timur Tengah, Institute of International Studies (IIS), Departemen Ilmu Hubungan Internasional Fakutas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Fisipol Universitas Gadjah Mada mengutuk agresi Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. IIS menyatakan Agresi militer itu merupakan bentuk crime of aggression atau kejahatan agresi terhadap perdamaian. Sebab, serangan dilakukan di tengah proses negosiasi Nuklir antara AS dan Iran.

BacaJuga

Sudah 22 Tahun, Mengapa RUU PPRT Tak Juga Disahkan

Forum Alumni Komisioner Komnas HAM Desak Indonesia Keluar dari BoP Trump

Menurut IIS, agresi militer Israel dan AS menjadi ancaman nyata bagi distabilitas kawasan Timur Tengah dan potensi ekstasi perang yang lebih besar. “Sebagai warga negara, kami menuntut pemerintah Indonesia untuk mengutuk agresi militer AS dan Israel dan membawa persoalan ini ke PBB untuk memberikan sanksi tegas dan menyelesaikan persoalan secara adil,” ujar Ketua Departemen Ilmu Komunikasi, Ririn Tri Nurhayati, dalam keterangan yang dikirim Kamis, 5 April 2026.

Merespon poin pertama itu, peneliti IIS UGM sekaligus aktivis internasional traktat larangan senjata nuklir, Muhadi Sugiono, mengatakan harapan yang tersisa saat ini hanya rezim nuklir internasional, Traktat Nonproliferasi Nuklir (NPT). Tiga pilar utama NPT yaitu non-proliferasi, pelucutan senjata, dan tujuan damai.

Ia mengatakan, pada keadaan agresi militer saat ini, Iran tidak lagi mendapat perlindungan dari perjanjian itu. “Jika AS dan NPT tidak menjamin keamanan mereka, satu-satunya cara adalah membangun senjata nuklir, dan Iran memiliki potensi. Jadi, proliferasi nuklir akan menjadi sangat signifikan,” ungkap Muhadi

Poin Kedua, IIS mendesak Indonesia keluar dari Board of Peace (BoP). Adanya agresi militer menjadi refleksi kritis bagi keputusan Indonesia untuk bergabung dalam BoP. Sebab, dua anggota BoP, AS dan Israel menjadi agresor yang menjadi ancaman bagi Indonesia.

“Keterlibatan Indonesia dalam BoP bukan hanya gagal menguatkan peran diplomasi Indonesia, namun justru mengobarkan independensi kebijakan politik Indonesia. Oleh karena itu, kami menuntut Indonesia keluar dari BoP,” tutur Ririn.

Berdasarkan poin kedua, dosen HI UGM lainnya, Diah Kusumaningrum, berpendapat bahwa BoP merupakan dewan perdamaian, tetapi pada kenyataannya yang diperlihatkan justru pertikaian. Menurutnya, Indonesia perlu melakukan evaluasi terhadap alasan yang diambil untuk bergabung dengan BoP.

Diah mengatakan, pada situasi sekarang, keterlibatan Indonesia dalam BoP diartikan bahwa Indonesia tidak sejalan dengan nilai kebangsaan, nilai anti-kolonialisme, Dasasila Bandung, dan prinsip politik luar negeri. “Reputasi Indonesia untuk generasi mendatang, sejarah akan mencatat Indonesia menjadi bagian dari agresor apabila tetap bergabung dengan BoP,” kata Diah.

Pada poin Ketiga, IIS mendesak agar Indonesia mengutamakan Solidaritas Selatan di tengah aksi unilateral brutal. Bukan sebaliknya justru merespon dinamika geopolitik dan tindak unilateral menjadi bagian dari kelompok aktivis.

Seharusnya, menurut IIS, Indonesia menguatkan kerja sama kawasan dan menggalang solidaritas negara-negara selatan. Komitmen Dasasila Bandung dapat menjadi dasar kedaulatan dan solidaritas negara-negara selatan sebagai identitas dan nilai dalam diplomasi Indonesia.

Peneliti IIS UGM, Randy Wirasta Nandyatama, mengatakan prinsip kebijakan luar negeri yang sangat penting yaitu berbasis pada kondisi dan ide norma yang ada di dalam negara. Selama ini, nilai perjuangan yang selalu dibangun sejak kemerdekaan merupakan komitmen terhadap negara-negara selatan sebagai basis reputasi Indonesia di kancah Internasional.

Menurut Randy, nilai perjuangan itu menjadi elemen penting dalam membangun kredibilitas bangsa. “Untuk merealisasikan peran perdamaian, pemerintah harus aktif mencoba forum internasional yang menjadi pondasi untuk memperkuat pada kondisi politik saat ini,” kata Randy.

Poin terakhir, IIS UGM melawan personalisasi kebijakan luar negeri tanpa deliberasi bermakna dengan publik. Pasalnya, pemerintah Indonesia saat ini cenderung menunjukkan personalisasi pandangan presiden dalam kebijakan luar negeri.

Kecenderungan ini ditandai dengan minimnya diskusi publik. Keputusan berbasis pandangan dan kalkulasi politik personal dapat berpotensi bertentangan dengan politik bebas aktif dan komitmen global Indonesia. “Melembagakan kembali pengambilan kebijakan luar negeri melalui Kementerian Luar Negeri diiringi dengan meneguhkan kembali ruang publik menjadi pilihan mutlak,” kata Ririn.

Guru Besar Departemen Hubungan Internasional Fisipol UGM, Poppy S. Winanti, mengatakan personifikasi kebijakan luar negeri menjadi penting dilihat dari aspek kredibilitas Indonesia di mata dunia yang cukup mampu menentukan diri, dengan kebijakan luar negeri yang bebas dan aktif.

Namun, keputusan yang diambil dari beberapa peristiwa terakhir, masih kurangnya melibatkan diskusi publik. “Tidak adanya deliberasi, tidak adanya proses diskusi publik akan membuat keputusan-keputusan kebijakan luar negeri bisa melenceng dari semangat kebijakan luar negeri yang bebas dan aktif,” tuturnya.

ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=ZF-vfVos47A
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.