Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

Jauhkan Perempuan dari Kebohongan Industri Tembakau

Peringatan Hari Perempuan Internasional menjadi momentum untuk menjauhkan perempuan dari kebohongan industri tembakau.

by Sunu Dyantoro
Monday, 9 March 2026
A A
Narkoba Mengintai dalam Vape, Pemerintah Harus Bikin Regulasi

Cairan rokok elektronik. (Sumber: Global Tobacco/2023)

Bagaimana industri tembakau menargetkan perempuan sudah menjadi rahasia umum. Dampak buruk tembakau terhadap kesehatan perempuan juga sudah terbukti lewat banyak kajian dan penelitian. Perempuan juga menjadi korban kebiasaan buruk merokok pasangannya yang bukan semata-mata urusan pribadinya.

Si perokok memang pasangannya. Namun, perempuan tetaplah menanggung dampak buruk serius paparan asap rokok pasangannya. Asap mengepul ke udara, menempel di pakaian, rambut, dan kulit. Asap rokok itu bisa masuk ke tubuh tanpa disadari dan membuat kamu menjadi perokok pasif.  Peringatan Hari Perempuan Internasional 8 Maret menjadi momentum untuk menjauhkan perempuan dari kebohongan industri tembakau.

BacaJuga

Buram Wajah Republik Islam Iran setelah Khamenei Wafat

Siapa Bertanggung Jawab atas Bus TransJakarta yang “Adu Banteng”

Pernyataan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin bahwa perempuan yang menjadi perokok pasif memiliki risiko 40 persen lebih tinggi terkena kanker payudara dan kanker serviks dibandingkan perempuan yang tidak terpapar asap rokok, cukup untuk menjadi pengingat kita semua. Sayang, omongan menteri ini tidak ia implementasikan dalam dukungan aturan yang kokoh di tingkat nasional. Ia kalah dengan kuatnya kepentingan industri rokok dalam pengambilan keputusan.

Aturan tembakau di Indonesia lemah dan tertinggal dibanding negara ASEAN lain. Ini ditandai dengan penegakan hukum yang minim karena hanya administrative. Harga rokok pun sangat murah dan iklan sungguh masif. Celah hukum membuka peluang untuk menjual rokok eceran dan maraknya rokok elektronik. Pengawasan kawasan tanpa rokok (KTR) pun lemah sehingga membuat pengendalian konsumsi tidak efektif.

Perempuan perokok pasif berisiko lebih tinggi terkena kanker payudara dan kanker serviks. naik. Dua jenis kanker ini bisa dengan cepat menggerogoti tubuh, membuat aktivitas harian jadi sulit, bahkan mendekatkan pada kematian.

Di Amerika Serikat, setiap tahun lebih dari 490 ribu orang meninggal akibat penggunaan tembakau dan paparan asap rokok pasif. Penggunaan tembakau tetap menjadi penyebab utama kematian di dunia. Ini sebenarnya dapat dicegah. American Lung Association mencatat, tahun lalu, dalam laporan tahunan tentang pengendalian tembakau, tingkat penggunaan telah mulai menurun. Meski secara historis jumlah pria merokok lebih banyak dan kesenjangan gender makin mengecil. Ini karena pemasaran yang ditargetkan dan perubahan norma sosial.

Penelitian menemukan tingkat merokok perempuan tidak menurun secepat pria. Dan, tiap tahun lebih dari 200 ribu perempuan di negeri Abang Sam meninggal karena penyakit terkait tembakau. Di tingkat global jumlahnya diperkirakan 1,5 juta perempuan.

Saat ini, lebih dari 10 persen perempuan melaporkan merokok secara teratur. Artinya, mereka merokok setiap hari atau hampir setiap hari. Ini sangat mengkhawatirkan karena perempuan menghadapi risiko kesehatan yang unik dari penggunaan tembakau. Kita melihat bagaimana perusahaan tembakau besar menargetkan perempuan. Padahal dampak tembakau terhadap kesehatan perempuan sungguh besar.

Penggunaan tembakau berkonsekuensi sangat buruk bagi semua orang. Tapi perempuan memiliki risiko lebih tinggi menderita masalah kesehatan tertentu. Perempuan yang merokok menghadapi risiko jauh lebih tinggi terkena kanker. Terutama kanker paru-paru dan kanker serviks.

Kanker paru-paru telah melampaui kanker payudara sebagai penyebab utama kematian terkait kanker di kalangan perempuan di Amerika. Penelitian menunjukkan perempuan yang merokok 25 persen lebih mungkin terkena kanker paru-paru daripada pria yang merokok. Ini mungkin disebabkan perbedaan fisiologi paru-paru dan interaksi hormon.

Selain itu, merokok memiliki kaitan kuat dengan kanker serviks. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat, perempuan yang merokok dua kali lebih mungkin terkena kanker serviks dibandingkan dengan yang tidak merokok. Sebab, tembakau melemahkan kemampuan sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi HPV (Human Papilloma Virus (HPV), penyebab utama kanker serviks.

Selain meningkatkan risiko kanker, kesehatan reproduksi perempuan juga terpengaruh negatif oleh merokok dalam banyak hal. Perempuan yang merokok lebih mungkin mengalami infertilitas, keguguran, dan komplikasi selama kehamilan. Merokok sebelum dan selama kehamilan meningkatkan risiko kelahiran prematur, pertumbuhan janin yang abnormal, berat badan lahir rendah, keguguran, dan bahkan kematian janin.

Perempuan perokok juga lebih mungkin terkena penyakit pernapasan kronis, seperti penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Bahkan, merokok secara langsung terkait dengan 80 persen kematian akibat PPOK pada perempuan setiap tahunnya. Penelitian menunjukkan bahwa merokok meningkatkan risiko penyakit jantung koroner pada perempuan sebesar 25 persen lebih tinggi daripada pada pria. Sehingga, ini meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke.

Industri rokok telah lama menganggap wanita sebagai pasar sasaran. Strategi mereka telah berkembang bertahun-tahun. Industri mengeksploitasi norma gender, harapan masyarakat, dan tren mode. Pada tahun 1920-an, iklan merek rokok seperti Virginia Slims, menampilkan merokok sebagai tindakan pemberdayaan perempuan.

Slogannya, “Kamu telah menempuh perjalanan panjang, sayang.”  Rokok “ringan” atau “ramping” diperkenalkan sebagai cara bagi perempuan untuk menurunkan berat badan. Selain itu, perusahaan kecantikan dan mode menampilkan rokok sebagai sesuatu yang feminin dan seksi. Salah satu iklan itu, yang dirilis tahun 2007, memperkenalkan Camel No. 9. Sebuah nama yang mencerminkan parfum desainer populer.

Studi Universitas California di San Diego dan Truth Initiative menemukan merek ini sangat efektif mendorong gadis-gadis muda untuk mulai merokok. Gadis-gadis remaja menyebutnya sebagai rokok favorit mereka. Sejak saat itu, perusahaan tembakau besar telah menggunakan influencer media sosial dan platform online untuk secara halus mempromosikan merokok dan vaping.

Perempuan, khususnya demografi yang lebih muda, dibombardir dengan gambar-gambar rokok elektrik yang ramping dan beraroma yang dipasarkan sebagai alternatif yang trendi, sosial, dan bahkan “sehat” dibandingkan rokok tradisional. Situasi ini berkontribusi pada peningkatan penggunaan rokok elektrik yang mengkhawatirkan di kalangan perempuan muda. Menurut survei tahun 2018, sekitar 7,3 persen siswi SMA saat ini menggunakan vape dan 18,8 persen siswi SMA menggunakan rokok elektrik.

Mengingat risiko kesehatan yang parah dan taktik pemasaran yang agresif, inisiatif kesehatan masyarakat harus terus berfokus pada pengurangan penggunaan tembakau di kalangan wanita. Sayangnya, penelitian menunjukkan bahwa wanita lebih sulit berhenti karena ketergantungan fisik dan emosional yang lebih besar pada penggunaan tembakau. Wanita juga menghadapi hambatan terkait gender untuk berhenti, seperti kekhawatiran tentang kenaikan berat badan; siklus menstruasi/hormonal yang memengaruhi gejala putus nikotin; kemungkinan depresi dan perubahan suasana hati yang lebih besar, dan; kurangnya dukungan sosial.

Penggunaan tembakau di kalangan perempuan merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan. Ini diperburuk oleh strategi pemasaran agresif industri tembakau. Munculnya rokok elektrik menghadirkan tantangan baru. Situasi ini menegaskan kebutuhan mendesak akan kesadaran, pendidikan, dan regulasi berkelanjutan. Masyarakat bisa bergerak, menuju masa depan yang bebas dari asap rokok. Kita jauhkan dampak buruk tembakau dari ibu, saudara perempuan, bibi, dan anak perempuan.

ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=ZF-vfVos47A
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.