Konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat tidak dapat dipahami semata sebagai benturan militer. Dari perspektif ekonomi internasional, konflik ini mencerminkan perebutan kendali atas ruang strategis ekonomi global yang berkaitan dengan energi, jalur pelayaran, serta keamanan rantai pasok dunia.
Dosen Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga, Probo Darono Yakti, menyatakan posisi Iran yang berada di kawasan Teluk menjadikannya aktor penting dalam sistem ekonomi global. Kawasan ini berhubungan langsung dengan distribusi energi dunia dan jalur perdagangan internasional.
Probo menyatakan, setiap eskalasi konflik di Iran hampir selalu berimplikasi pada ekonomi politik global. “Negara yang mampu mengamankan pasokan energi dan mengendalikan rute logistik akan memiliki leverage ekonomi yang lebih besar,” kata dia dalam laman kampus, Selasa, 10 Maret 2026.
Menurut Probo, salah satu titik strategis dalam konflik ini adalah Selat Hormuz. Jalur ini menjadi rute vital bagi perdagangan energi dunia. Pada 2024, sekitar 20 juta barel minyak per hari setara dengan sekitar 20 persen konsumsi minyak global melewati selat itu.
Selain itu, hampir seperlima perdagangan LNG dunia juga melalui jalur yang sama. “Karena itu, konflik Iran memiliki bobot sistemik, bukan sekadar konflik regional,” ujarnya.
Eskalasi konflik juga berdampak langsung pada pasar energi global. Menurut Probo, pasar energi tidak hanya dipengaruhi oleh pasokan riil, tetapi juga oleh persepsi risiko. Dalam beberapa waktu terakhir, harga minyak global mengalami kenaikan signifikan akibat gangguan tanker, perlambatan produksi, serta kekhawatiran terhadap kemungkinan pembatasan akses Selat Hormuz.
Dampaknya, kata dia, menjalar ke berbagai sektor, mulai dari biaya listrik, industri pelayaran, hingga harga pangan. Kondisi ini juga memengaruhi aktivitas industri di kawasan Asia karena terganggunya pasokan energi dan bahan baku petrokimia.
Bagi Indonesia, kata Probo, situasi ini menimbulkan tantangan tersendiri. Sebagai negara pengimpor energi, Indonesia rentan terhadap kenaikan harga minyak dan gangguan pasokan global. “Ketika jalur energi terganggu, dampaknya tidak hanya pada minyak mentah, tetapi juga LPG, fuel oil, hingga bahan baku industri lainnya,” ungkap Probo.
Ia menyatakan konflik geopolitik seperti ini juga memicu pergeseran pada pasar keuangan global. Investor cenderung memindahkan modal ke aset yang lebih aman, sementara lonjakan harga energi dapat memicu inflasi impor dan meningkatkan ketidakpastian investasi.
Dalam jangka menengah, ucap dia, konflik ini juga berpotensi mengubah peta kerja sama energi global. Negara-negara konsumen besar kemungkinan akan mempercepat diversifikasi sumber energi dan memperkuat kontrak jangka panjang dengan pemasok alternatif.
Menurut Probo, negara berkembang menjadi pihak yang paling rentan karena ruang fiskal yang terbatas dan ketergantungan energi yang tinggi. Oleh karena itu, Indonesia perlu memperkuat strategi diversifikasi energi, menjaga stabilitas ekonomi domestik, serta mempercepat transisi energi.
Ia mengatakan keamanan energi, keamanan maritim, dan stabilitas ekonomi global kini saling terhubung. “Karena itu, respons terhadap konflik seperti ini harus dilihat tidak hanya dari sisi militer atau diplomasi, tetapi juga dari perspektif geoekonomi,” ucapnya.

Discussion about this post