Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

Stigma Kusta Penyakit Kutukan yang Sebenarnya Bisa Sembuh

Strategi utama mengendalikan kusta adalah menemukan kasus sebanyak mungkin agar dapat segera diobati.

by Sunu Dyantoro
Thursday, 12 March 2026
A A
Stigma Kusta Penyakit Kutukan yang Sebenarnya Bisa Sembuh

Kementerian Kesehatan menegaskan komitmennya untuk mempercepat eliminasi kusta di Indonesia melalui strategi deteksi dini, pengobatan tuntas, serta pemberian pencegahan bagi kontak erat pasien. Hal ini disampaikan dalam Puncak Peringatan Hari Kusta Sedunia yang diselenggarakan di auditorium Siwabessy gedung Prof. Sujudi Kemenkes RI pada Rabu, 11 Maret 2026.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, mengatakan kusta merupakan penyakit menular yang telah ada sejak ribuan tahun lalu dan sering dikaitkan dengan stigma serta diskriminasi di masyarakat. Padahal secara ilmiah, penyakit ini disebabkan oleh bakteri dan dapat disembuhkan.

BacaJuga

Waspada Kejadian Luar Biasa Campak, IDAI Serukan Imunisasi

Cara Cegah Penyakit Ginjal, Jangan Merokok Salah Satunya

Ia mengatakan kusta sering diasosiasikan dengan negara miskin karena sejak ribuan tahun lalu penyakit ini tidak bisa dijelaskan secara ilmiah sehingga muncul berbagai stigma. “Padahal sekarang kita sudah tahu penyebabnya adalah bakteri dan obatnya sudah tersedia,” ujar Budi dalam keterangannya.

Ia menekankan strategi utama dalam mengendalikan kusta adalah dengan menemukan kasus sebanyak mungkin agar dapat segera diobati dan menghentikan penularan. Budi mengajak jangan takut jika kasus yang ditemukan banyak.

“Justru itu menunjukkan sistem deteksi kita bekerja dengan baik. Temukan sebanyak-banyaknya agar bisa segera diobati, karena obatnya ada dan pengobatannya bisa selesai,” kata Budi.

Menurut Budi, pengobatan kusta relatif sederhana dan dapat diselesaikan dalam waktu sekitar enam bulan apabila pasien menjalani terapi secara rutin hingga tuntas. Selain itu, Kementerian Kesehatan juga memperkuat skrining kusta melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) agar kasus dapat ditemukan lebih dini di masyarakat.

Budi memastikan strateginya jelas, menemukan sebanyak-banyaknya, obati sampai selesai, dan berikan pencegahan kepada kontak erat pasien. Dengan cara ini penularan bisa dihentikan.

Khusus di wilayah Indonesia Timur, Kemenkes juga mendorong pemeriksaan tambahan untuk mendeteksi kemungkinan resistensi obat melalui pemeriksaan genetik, sehingga pasien dapat segera mendapatkan terapi yang tepat.

Plt. Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menyampaikan peringatan Hari Kusta Sedunia menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen nasional dalam menghapus stigma serta mempercepat eliminasi penyakit ini.

Ia mengatakan peringatan Hari Kusta Sedunia merupakan momentum global untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, memperkuat komitmen pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan, serta menghapus stigma dan diskriminasi terhadap orang yang pernah mengalami kusta.

Ia menjelaskan rangkaian kegiatan peringatan tahun ini meliputi skrining mandiri keluarga, lomba penulisan bagi jurnalis, hingga puncak acara yang diisi dengan kampanye edukasi dan pemberian penghargaan kepada fasilitas kesehatan yang aktif menemukan kasus baru.

Penghargaan diberikan kepada beberapa puskesmas yang berhasil menemukan kasus kusta baru terbanyak, antara lain di Kabupaten Tangerang, Kabupaten Brebes, dan Kota Jayapura.

“Melalui peringatan Hari Kusta Sedunia tahun ini, kami menegaskan kembali komitmen untuk memperkuat sinergi nasional menuju eliminasi kusta serta Indonesia bebas stigma terhadap penyintas kusta,” kata Andi.

Kementerian Kesehatan mengajak seluruh masyarakat untuk tidak takut memeriksakan diri jika menemukan gejala kusta, serta mendukung upaya penghapusan stigma agar pasien dapat memperoleh pengobatan secara cepat dan tuntas.

WHO Goodwill Ambassador for Leprosy Elimination, Yohei Sasakawa, pada Juli 2025 menegaskan komitmennya menjadikan Indonesia sebagai salah satu fokus utama dalam program Zero Kusta di dunia. Menurutnya,  Indonesia memiliki tantangan yang unik sekaligus peluang besar untuk menjadi contoh global dalam penghapusan kusta.

Di Indonesia, kata dia, ada lebih dari 17.000 pulau, dan mereka juga punya budaya serta sejarahnya sendiri. Jadi, itu salah satu tantangannya.

Ia menekankan, dibandingkan penyakit lain, kusta sering kali tertinggal dalam prioritas pengendalian karena jumlah penderitanya relatif lebih kecil. Dari segi jumlah pasien, kusta jauh lebih sedikit—dua digit atau tiga digit dibandingkan penyakit lainnya.

Meski demikian, Sasakawa menegaskan bahwa yang membuat kusta istimewa adalah dampak stigma dan diskriminasi yang tidak dialami oleh penyakit lain.

“Bahkan jika orang tersebut sembuh total dari kusta, mereka masih akan disebut sebagai pasien kusta. Anda mungkin tidak pernah mengatakan mantan pasien TB atau mantan pasien malaria,” kata Sasakawa.

Inilah yang membuat ia mendedikasikan lebih dari 50 tahun hidupnya untuk pemberantasan kusta. Ia mengatakan, kusta satu-satunya penyakit yang juga disebutkan dalam Alkitab. Karena alasan-alasan itu, penyakit ini telah ditempatkan di bawah diskriminasi yang ditakuti, yang tidak ada pada penyakit lain.

Dalam upaya menghilangkan stigma, Sasakawa mendorong pendekatan yang melibatkan pemimpin agama dan lembaga pendidikan. Menurut dia, menteri kesehatan saja tidak akan dapat mencapai Nol Kusta. Kami juga membutuhkan dukungan dari sekolah. Mereka harus bertanggung jawab untuk mencoba menemukan lesi kulit di antara anak-anak di tingkat sekolah.

“Kami membutuhkan dukungan dari para pemimpin agama karena mereka akan berperan penting menghilangkan diskriminasi dan stigmatisasi ini,” ungkapnya. Ia juga menekankan pentingnya dialog lintas agama untuk mendukung pemulihan martabat penyintas.

Kusta masih menjadi tantangan kesehatan di sejumlah wilayah Indonesia. Penyakit menular yang sering disalahpahami sebagai kutukan atau aib ini sebenarnya bisa disembuhkan bila ditemukan lebih awal. Sayangnya, stigma membuat banyak orang terlambat berobat hingga akhirnya mengalami kecacatan yang sebetulnya bisa dicegah.

ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=ZF-vfVos47A
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.