Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu lonjakan harga minyak dunia serta mengancam jalur distribusi energi strategis di Selat Hormuz. Kondisi ini berpotensi menaikkan Indonesian Crude Price (ICP), memperbesar beban subsidi energi, menekan ruang fiskal APBN, dan mendorong inflasi domestik.
Ekonom Senior INDEF, Didin S. Damanhuri, memaparkan tiga skenario dampak harga minyak terhadap fiskal Indonesia. Pertama, jika konflik cepat berakhir harga minyak diperkirakan sekitar USD 100 per barel dengan defisit APBN 4%. Kedua, jika konflik berlangsung sekitar 1,5 bulan harga dapat naik hingga USD 150 per barel dengan defisit 5–6%.
Ketiga, dalam skenario terburuk harga berpotensi mencapai USD 180–200 per barel yang dapat meningkatkan subsidi energi hingga Rp884 triliun dan mendorong defisit APBN di atas 6%. “Oleh karena itu, pemerintah perlu menjaga disiplin fiskal dengan defisit maksimal 3% serta meningkatkan efisiensi program strategis,” kata dia Senin, 16 Maret 2026.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF M. Rizal Taufikurahman menambahkan kenaikan harga energi global berisiko memicu imported inflation dan menekan daya beli masyarakat. Ini mengingat konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 53% terhadap PDB.
Simulasi INDEF menunjukkan bahwa jika harga minyak melampaui USD 100 per barel, pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi terkoreksi sebesar 0,3–0,5%. Setiap kenaikan harga minyak USD 10 per barel diperkirakan menambah subsidi energi sekitar Rp25 triliun dengan kebijakan antisipatif, atau hingga Rp50,25 triliun tanpa intervensi.
Untuk memitigasi dampak itu, INDEF menyatakan pemerintah perlu menstabilkan rupiah, dan menahan dampak kenaikan harga energi. Selain itu, pemrintah memperkuat perlindungan sosial yang tepat sasaran, dan melakukan realokasi anggaran ke sektor berdaya ungkit tinggi.
“Pemerintah harus memperkuat koordinasi pusat dan daerah guna menjaga stabilitas harga dan aktivitas ekonomi,” kata Rizal.
Dalam keterangannya, INDEF menilai bahwa meningkatnya ketegangan geopolitik global, khususnya eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu volatilitas harga energi, semakin menegaskan pentingnya penguatan kemandirian energi bagi Indonesia. Dalam satu minggu terakhir, harga minyak dunia kembali melonjak sekitar 8 persen dan menembus USD 100 per barel, sementara harga LNG di pasar Asia juga sempat melonjak hampir 40 persen dalam satu hari perdagangan pada awal Maret 2026.
Rizal mengatakan pergerakan ini menunjukkan bahwa konflik geopolitik dapat dengan cepat memicu lonjakan harga energi global. Bagi negara yang masih bergantung pada energi fosil, volatilitas harga energi global akan secara langsung meningkatkan biaya energi dan memperbesar kerentanan sistem energi nasional.
Bagi Indonesia, kata dia, gejolak harga energi global berpotensi menambah tekanan terhadap fiskal negara. Sensitivitas APBN terhadap harga minyak masih cukup besar, di mana setiap kenaikan harga minyak USD 1 per barel diperkirakan dapat meningkatkan defisit anggaran sekitar Rp6,8 triliun.
“Dengan lonjakan harga minyak yang dalam beberapa hari terakhir mencapai sekitar 8 persen, tambahan tekanan fiskal dapat mencapai kisaran Rp45-50 triliun,” kata dia.
Kondisi ini menunjukkan bahwa ketergantungan pada energi berbasis BBM tidak hanya meningkatkan biaya energi nasional. Tapi juga memperbesar kerentanan fiskal ketika terjadi guncangan harga energi global.
Rizal mengatakan lonjakan harga energi juga berpotensi menekan nilai tukar rupiah ketika peningkatan impor energi memperlebar defisit transaksi berjalan. Dalam kondisi tersebut, pelemahan rupiah dapat semakin meningkatkan biaya energi domestik karena sebagian besar transaksi energi global masih menggunakan denominasi dolar AS.
Menurut dia, sensitivitas APBN terhadap nilai tukar juga cukup besar, di mana setiap depresiasi rupiah sebesar Rp100 per dolar AS diperkirakan dapat menambah defisit anggaran sekitar Rp0,8 triliun ini. Keterkaitan antara volatilitas harga energi global, pergerakan nilai tukar, dan sensitivitas fiskal menunjukkan bahwa guncangan di pasar energi internasional dapat dengan cepat merambat ke stabilitas ekonomi domestik.
Kondisi ini, kata dia, menunjukkan bahwa sistem energi domestik masih relatif sensitif terhadap guncangan eksternal. Ketika struktur energi masih didominasi oleh energi fosil, volatilitas harga komoditas global seperti minyak, gas, dan batu bara akan lebih mudah menimbulkan
kerentanan terhadap stabilitas energi dan ekonomi domestik.
Dalam pandangan INDEF, dinamika ini menunjukkan bahwa guncangan harga energi global tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga implikasi yang lebih luas terkait stabilitas fiskal dan makroekonomi Indonesia. “Ketika volatilitas energi global meningkat, tekanan terhadap fiskal, nilai tukar dan sistem energi domestik dapat terjadi secara bersamaan,” kata Rizal.

Discussion about this post