Hari Raya Idul Fitri membuat masyarakat beraktivitas khas Lebaran seperti silaturahmi, perjalanan mudik, hingga menikmati beragam hidangan. Idul Fitri 2026 jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Warga Muhammadiyah dan sebagian warga NU berlebaran sehat sebelumnya.
Di balik suasana penuh kebahagiaan tersebut, penderita penyakit autoimun perlu memberikan perhatian khusus terhadap kondisi kesehatannya. Ini agar saat melakukan beragam kegiatan dapat terhindar dari kekambuhan (flare up).
Staf pengajar Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Anshari Saifuddin Hasibuan, menjelaskan penyakit autoimun merupakan kondisi ketika sistem kekebalan tubuh keliru menyerang jaringan sehat dalam tubuh. Beberapa contoh penyakit autoimun yang cukup sering dijumpai di masyarakat antara lain lupus, rheumatoid arthritis, psoriasis, serta penyakit tiroid autoimun seperti Hashimoto dan Graves’ disease.
“Walau penyakit autoimun belum dapat disembuhkan sepenuhnya, kondisi ini tetap dapat dikendalikan dengan baik sehingga pasien tetap dapat menjalani aktivitas, termasuk menikmati momen Idul Fitri bersama keluarga,” ujar Anshari.
Namun, ia mengingatkan pola hidup selama libur Lebaran berpotensi tinggi memicu flare up. Perubahan pola makan menjadi tinggi lemak, gula, dan garam, kurangnya waktu istirahat, meningkatnya stres akibat aktivitas sosial, hingga kelalaian dalam mengonsumsi obat merupakan faktor yang kerap menjadi pencetus flare up.
Dalam menghadapi situasi ini, Anshari menekankan pentingnya pengelolaan penyakit secara menyeluruh. Baik melalui terapi obat (farmakologis) maupun pengaturan gaya hidup (nonfarmakologis).
Dari sisi pengobatan, pasien diimbau untuk tetap disiplin mengikuti anjuran dokter. Terapi yang umum diberikan meliputi obat antiinflamasi untuk mengurangi nyeri, kortikosteroid untuk menekan peradangan, obat imunosupresan, hingga terapi biologis pada kasus tertentu.
Ia mengingatkan agar pasien memastikan ketersediaan obat selama masa libur dan tidak mengubah dosis tanpa konsultasi medis. “Gunakan pengingat seperti alarm agar jadwal minum obat tidak terlewat di tengah kesibukan Lebaran,” katanya.
Gaya hidup sehat juga menjadi kunci dalam menjaga kestabilan kondisi autoimun. Pasien dianjurkan untuk tetap menjaga pola makan seimbang dengan memperbanyak konsumsi sayur dan buah, serta membatasi makanan tinggi lemak, gula, garam, serta menjaga asupan cairan.
Kualitas tidur juga harus dijaga, dengan istirahat 7–8 jam per malam atau tidur singkat di sela aktivitas bila diperlukan. Pengelolaan stres melalui relaksasi, meditasi, atau aktivitas spiritual, serta dukungan keluarga, dapat membantu menjaga ketenangan.
Aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki atau peregangan tetap dianjurkan untuk menjaga kebugaran dan mengurangi keluhan pada sendi. Namun, aktivitas berlebihan sebaiknya dihindari, terutama jika kondisi tubuh sedang tidak optimal.
Anshari mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan dan mencegah infeksi, mengingat infeksi dapat memicu kekambuhan pada beberapa penyakit autoimun. Mencuci tangan secara rutin, menggunakan masker saat diperlukan, serta membatasi aktivitas saat kondisi tubuh menurun merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan.
“Dengan pengelolaan yang baik, pasien autoimun tetap dapat merayakan Idulfitri dengan nyaman dan aman. Kuncinya adalah mengenali batas tubuh dan tidak memaksakan diri,” tutur Anshari.

Discussion about this post