Ekspansi pertambangan dan hilirisasi nikel di beberapa wilayah Indonesia seperti Morowali dan Halmahera seiring dorongan transisi kendaraan listrik berisiko memberikan tekanan bisnis jangka panjang, jika dijalankan tanpa mempertimbangkan tata kelola lingkungan dan sosial yang kuat. Dampak kerusakan alam dan ekosistem yang timbul akibat kegiatan ini berpotensi menciptakan risiko operasional, investasi hingga daya saing di pasar global.
Riset yang dipublikasikan Earth & Life Symbio (E&L) bertajuk “Nature-related Risks and Business Implications in Indonesia’s Nickel Supply Chain: How Nature-related Impacts Translate into Business Risks” menyoroti sejumlah praktik tambang dan hilirisasi yang merusak lingkungan di kawasan IMIP dan IWIP. Keduanya terletak di dalam kawasan Wallacea Biodiversity Hotspot atau pusat keanekaragaman hayati Wallacea.
Emily Liu, Analis Keuangan dan Alam Earth and Life Symbio menjelaskan, pembukaan lahan untuk pertambangan dan pembangunan infrastruktur pendukung mengakibatkan dampak ekologis hilangnya hutan, degradasi habitat satwa, permasalahan pengelolaan dan kualitas air, hingga terancamnya kehidupan masyarakat setempat. Kondisi ini akan mempengaruhi keputusan regulator, kepercayaan investor untuk memberikan pembiayaan, ketahanan operasional, dan kinerja bisnis jangka panjang.
“Investor semakin mempertimbangkan risiko yang berkaitan dengan alam. Seperti yang diilustrasikan oleh kasus Weda Bay, ketika hilangnya hutan –lokasi yang sensitif secara ekologis, dan hak-hak masyarakat adat beririsan dengan intervensi regulasi, isu-isu yang berkaitan dengan alam dapat memengaruhi keputusan investasi institusional. Risiko-risiko ini bergeser dari tanggung jawab sosial perusahaan ke alokasi modal dan manajemen risiko investasi,” Emily Liu mengatakan.
Laporan ini menyebutkan sekitar 2.700 hektare hutan hujan tropis telah beralih fungsi untuk kepentingan pertambangan dan industri di Weda Bay sejak 2019. Kegiatan pertambangan ini telah meluas hingga ke luar area tambang yang direncanakan semula.
Di Morowali, sekitar 58.000 hektare dari 22 konsesi pertambangan nikel di sekitar IMIP tumpang tindih dengan kawasan kunci keanekaragaman hayati atau Key Biodiversity Areas (KBA), sementara sekitar 77% tumpang tindih dengan hutan tropis primer. Kegiatan pertambangan di wilayah tersebut menggunakan sekitar 8.200 hektar hutan, dengan tambahan 4.100 hektare di luar area konsesi untuk jalan, kawasan industri, dan infrastruktur pendukung.
Dominasi Indonesia dalam produksi nikel telah menjadikan kinerja ESG di negara ini semakin penting bagi rantai nilai pasok global. Namun, ESG perusahaan masih banyak berfokus pada pengelolaan karbon, uji tuntas rantai pasok, keterlacakan, dan transparansi informasi ESG. Sedangkan pendekatan sistematis untuk mengelola risiko terkait alam masih jauh dari standar internasional, khususnya dalam aspek perlindungan sosial, pengelolaan keanekaragaman hayati, dan pengungkapan informasi.
Perbedaan tersebut menciptakan tantangan tambahan bagi perusahaan yang terlibat dalam rantai pasok global. Khususnya ketika perusahaan menghadapi Regulasi Baterai Uni Eropa yang menetapkan berbagai ketentuan di sepanjang siklus hidup baterai, dari ketelusuran jejak karbon, uji tuntas (due diligence) pengadaan bahan baku, penerapan paspor baterai, hingga peningkatan keterbukaan informasi. Namun regulasi yang semakin ketat belum diimbangi dengan praktik dan ekspansi pertambangan yang baik.
Emily menegaskan saat ini kepatuhan pada ESG saja tidak cukup. Daya saing jangka panjang akan semakin bergantung pada pengintegrasian pertimbangan lingkungan, sosial, dan tata kelola ke dalam pengambilan keputusan serta manajemen risiko di seluruh perusahaan.
“Perusahaan yang mampu mengintegrasikan risiko terkait alam ke dalam tata kelola perusahaan, perencanaan investasi, dan manajemen rantai pasok akan berada dalam posisi yang lebih baik untuk memperkuat ketahanan operasional, mempertahankan akses pasar, serta merespons ekspektasi pemangku kepentingan yang terus berkembang,” Emily menambahkan.
Earth & Life Symbio (E&L) adalah organisasi nirlaba berbasis di Singapura yang mendorong pertumbuhan industri rendah karbon dan berdampak positif bagi alam di Asia melalui kolaborasi lintas sektor manufaktur dan energi untuk mewujudkan aksi iklim yang terukur dan berkelanjutan.

Discussion about this post