Di tengah meningkatnya tren gaya hidup sehat dan maraknya informasi kesehatan di media sosial, berbagai mitos tentang gizi masih terus bertahan di masyarakat.
Beberapa mitos yang beredar misalnya, anak bertubuh gemuk kerap dianggap sebagai tanda sehat dan cukup gizi. Makan malam sebagai penyebab utama kenaikan berat badan. Sementara nasi sering dituding sebagai penyebab utama perut buncit. Benarkah demikian?
Guru Besar Pangan dan Gizi IPB University, Ali Khomsan menilai anggapan itu lahir dari cara pandang lama yang belum sepenuhnya memahami prinsip gizi seimbang. Ia menjelaskan, ukuran kesehatan tidak dapat ditentukan hanya dari tampilan fisik.
Ia mengatakan persepsi yang keliru justru berisiko memicu berbagai penyakit kronis sejak usia muda. “Kalau zaman dulu gemuk dianggap lambang kemakmuran atau kesejahteraan, sekarang kita menyadari gemuk juga membuat seseorang lebih mudah terekspos penyakit tidak menular,” ujarnya dalam keterangan untuk Prohealth.id, Kamis, 26 Februari 2026.
Ia menjelaskan, indikator anak sehat seharusnya mengacu pada kesesuaian berat badan dan tinggi badan berdasarkan standar medis. Kegemukan menjadi faktor risiko penting munculnya hipertensi, diabetes, hingga gangguan metabolik lainnya. “Hipertensi, diabetes, penyakit gula, salah satunya disebabkan oleh faktor risiko penting yaitu kegemukan,” jelasnya.
Ia menyatakan, kekhawatiran orang tua terhadap anak bertubuh kecil juga kerap menimbulkan salah persepsi. Ali menegaskan anak kecil belum tentu mengalami stunting.
Stunting, kata dia, ada ukurannya. Setiap posyandu mengetahui standarnya. “Misalnya anak usia lima tahun tingginya hanya 90 sentimeter, maka itu stunting karena indikatornya tinggi badan,” terangnya.
Menurut Ali, standar itu tersedia di puskesmas maupun kader posyandu sehingga masyarakat dapat memperoleh penilaian yang objektif dan terukur. Ia juga meluruskan anggapan bahwa makan malam menjadi penyebab utama kenaikan berat badan.
Menurutnya, persoalan sebenarnya terletak pada jeda waktu antara makan dan tidur. “Tubuh membutuhkan jeda empat sampai lima jam antara makan dan waktu tidur agar proses pencernaan berlangsung optimal,” katanya.
Karena itu, ia lebih menganjurkan makan sore. Terutama bagi kelompok usia paruh baya yang metabolisme tubuhnya mulai menurun.
Selain pola waktu makan, nasi juga sering dianggap sebagai penyebab utama kegemukan. Namun, Ali menilai persoalan itu lebih berkaitan dengan kebiasaan konsumsi.
“Mengapa nasi sering dianggap bermasalah? Karena nasi itu enak. Ketika orang makan nasi enak, dia cenderung makan lebih banyak,” ungkapnya.
Ia menambahkan, jika sumber karbohidrat lain seperti singkong atau ubi dikonsumsi berlebihan, dampaknya terhadap berat badan tetap sama.
“Saya melihatnya bukan semata karena kalorinya, tetapi karena kuantitas yang dikonsumsi. Orang makan nasi biasanya jumlahnya lebih banyak,” kata dia.
Melalui edukasi gizi yang tepat, ia berharap masyarakat makin memahami kesehatan tidak ditentukan oleh satu jenis makanan atau bentuk tubuh tertentu. Kesehatan, kata dia, meliputi keseimbangan pola makan dan gaya hidup secara keseluruhan.

Discussion about this post