Ada anggapan bahwa anak makin gemuk makin sehat. Situasi ini lalu membuat orang tua galau ketika membandingkan berat badan anaknya dengan anak lain. Padahal anak sehat itu berat badan maupun tingginya sesuai dengan grafiknya.
Dokter Spesialis Anak Agustini Utari dalam media briefing “Dampak Penggunaan Obat Steroid pada Bayi dan Anak” mengatakan bahwa obatt untuk anak harus tepat guna. Sayangnya masih banyak orang tua yang tidak memahami ini malah mencari cara instan menggemukkan anak. Seperti yang tengah viral saat ini, anak mengonsumsi obat-obatan steroid.
Steroid atau kortikosteroid merupakan obat untuk untuk peradangan dan pada anak-anak yang tidak bisa menghasilkan hormon kortisol.
“Sebetulnya obat-obat ini menyerupai hormon kortisol hasil dari kelenjar anak ginjal. Steroid yang kita kenal sebagai nama hormon steroid itu dihasilkan kelenjar anak ginjal ini,” katanya, akhir Oktober lalu.
Di dalam adrenal atau kelenjar anak ginjal itulah yang menghasilkan kortisol. Kortisol ini berguna untuk mempertahankan gula darah di dalam tubuh, mengatur tekanan darah, dan membantu mengatasi infeksi.
Tubuh akan membentuk kortisol dalam jumlah yang lebih tinggi saat anak mengalami infeksi trauma misalnya kecelakaan atau operasi.
Kondisi medis tertentu membutuhkan obat-obatan steroid. Contohnya, adrenalinnya tidak berfungsi dengan baik sejak lahir akibat mutasi genetik seperti Hiperplasia Adrenal Kongenital (HAK). Karena tidak bisa menghasilkan kortisol maka penggunaan obat ini bisa seumur hidup.
Steroid juga bermanfaat pada penyakit autoimun, asma, leukimia pada anak, dan transplantasi organ. Meski banyaj manfaat, tetapi bukan tanpa efek samping.
Ada beberapa efek samping bisa terjadi ketika memakai steroid dalam jangka waktu lama atau dalam dosis tinggi. Salah satu efek samping yang bisa terjadi adalah peningkatan berat badan. Misalnya pipinya menjadi nampak gemuk atau tembem. Selain itu bisa menimbulkan gangguan tidur, peningkatan gula darah, peningkatan tekanan darah, hingga menekan sistem kekebalan tubuh. Dampak jangka panjang pemakaian steroid terus-menerus bisa menyebabkan tulang menjadi rapuh, mengalami osteoporosis, dan tulangnya mudah patah.
“Kalau pada anak akan mengganggu lempeng pertumbuhan. Lempeng pertumbuhan anak akan terhambat. Akibatnya, tulangnya tidak bisa bertambah panjang. Anak akan kelihatan gemuk tetapi pendek karena tidak bisa tumbuh,” jelas Ketua Unit Kerja Koordinasi Endokrin Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) ini.
Di samping itu menjadi berisiko tinggi mengalami diabetes, kencing manis, atau katarak. Kalau penggunaannya sudah dalam jangka waktu lama kemudian berhenti secara mendadak bisa mengalami insufisiensi adrenal. Kelenjar adrenal seharusnya menghasilkan kortisol tetapi karena mendapatkan dari luar maka tubuh akan tidak menghasilkan dulu.
Sumber di otak yaitu hipofisis akan menghasilkan hormon adrenokortikotropik (ACTH). ACTH ini akan merangsang kelenjar adrenal menghasilkan kortisol. Ketika pemberian steroid terdeteksi dalam jumlah banyak maka ACTH ini akan tertekan karena merasa di luar sudah terlalu banyak sehingga tubuh tidak menghasilkan. Ketika tubuh sudah tidak menghasilkan dan mendadak penggunaan steroid berhenti, maka tubuh ini tidak bisa beradaptasi langsung.
“Penggunaan steroid dalam jangka waktu lama tidak boleh stop mendadak. Jadi ada tahapan-tahapannya,” ucapnya.
Penyalahgunaan steroid ini bisa menimbulkan efek samping. Terkait hal tersebut maka orang tua perlu memperhatikan lambang pada bungkus obat.
Obat-obat itu kalau tepat guna bagi pasien yang membutuhkan akan sangat bermanfaat dan menjadi penyelamat. Namun ketika digunakan tanpa ada indikasi maka akan menjadi racun yang merugikan bagi tubuh.
“Artinya obat yang sebetulnya harus dengan resep dokter disarankan penggunaannya sesuai indikasi medis. Konsultasikan dulu obat-obatan itu dengan dokter ya?” pesan dr. Agustini.
Editor: Gloria Fransisca Katharina Lawi
Discussion about this post