pengOrganisasi non profit Nexus for Health Environment, and Development Foundation (Nexus3) Foundation menemukan tanah, telur, hingga batako yang berada di radius 3 kilometer dari tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang terkontaminasi dioksin dan furan hasil dari pembakaran sampah dengan menggunakan insenerator. Dioksin dan furan merupakan senyawa kimia yang mengandung racun.
Nexus3 Foundation mengambil lima sampel tanah, enam sampel telur dan satu sampel fly ash dan batakonya di kawasan TPA Bantar Gebang. Hasilnya, tanah dan telur terkontaminasi dioksin dan furan paling parah. Tak hanya itu, pengujian atas lima sampel tanah terbukti ada kontaminasi senyawa Organik Polutan Persisten (POPs) yakni PFAS, SCCPs, MCCPs, PBDEs dan Dechiorane Plus.
Sama dengan dioksin, POPs juga mengandung racun berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan. POPs dapat menyebabkan kanker, gangguan saraf hingga reproduksi. Sementara itu, hasil uji dari enam sampel telur menunjukan kadar dioksin dan furan yang melebihi batas aman melampaui ketetapan Food and Dru Supervisory Uni Eropa.
“Semua sampel memiliki kadar PCB, BFRs, PFASz yang melebihi batas aman,” kata Annisa Maharani, Toxic and Zero Waste Program Officer Nexus3 Foundation.
Dalam webinar “Dioksin dan Kesehatan Lingkungan: Dampak Pembakaran Sampah dan Paparan Ternak di Area TPA,” Kamis (7/11/2024), Annisa menjelaskan dioksin dan furan biasanya mengendap di jaringan lemak, seperti di dalam tubuh hewan dan telur.
“Makanya kenapa dia biasanya terdapat konsumsi daging. Karena daging kan biasanya terbentuk dari lemak,” ujarnya.
“Kayak telur . Telur ayam yang kuning itu sebenarnya lemak. Jadi biasanya lebih banyak terakumulasi di situ,” imbuhnya.
Berdasarkan temuan Nexus3, kedua senyawa racun yang terdapat dalam semua sampel telur itu merupakan tipe dioxin dan furan yang paling toksik, yakni tipe 23478 PCDF dan 12378 Penta CDD.
Annisa mewanti-wanti kontaminasi dioksin dan furan tak hanya bisa terjadi pada hewan, melainkan juga tanaman. Misalnya, pada musim hujan, dioksin akan terbawa oleh air hingga menyerap ke tanah dan tumbuhan. Selanjutnya, kontaminasi terhadap hewan dan tanaman juga berpotensi menyebar ke manusia jika terkonsumsi.
“Nah, itu di mana kita bisa masuk paparan dioxin ke tubuh kita. Itu biasanya lebih dari konsumsi. Konsumsinya apa aja gitu,” ucap dia.
Penyebab dominan
Insenerator di TPA Bantar Gebang sebelumnya menjadi sorotan sebagai salah satu solusi untuk manajemen sampah yang membludak. Insenerator juga mendapat klaim bebas dari dioksin. Namun, klaim itu berkebalikan dengan hasil riset Nexus3.
Nexus3 melakukan riset penyebab dioksin terbanyak di Bantar Gebang dengan menguji tiga teknologi atau cara pembakaran sampah.
Pertama, Nexus3 menguji dua sampel fly ash dan bottom ash dari pilot insenerator Bantar Gebang yang konon menggunakan teknologi tersandarisasi (proven tech).
Kedua, mereka juga menguji tiga sampel abu rsidu dari hasil inseneratir skala kecil yang menggunakan teknologi uji coba (pilot tech). Ketiga, abu residu dari tungku bakar yang tidak menggunakan teknologi apapun.
Hasilnya, dioksin dari bottom dan fly ash pilot insenerator terdeteksi dengan kadar tinggi. Rinciannya, kadar dioksi dari fly ash sebanyak 80.372 ng/g dan bottom ash 514.878 ng/g. Sebaliknya, abu residu dari tungku bakar yang tidak menggunakan teknologi apapun justru kadarnya lebih rendah hampir 16 kali lipat.
“Abu residu yang di tungku bakar itu ya, malah lebih rendah gitu kan. 5.115 ng/g,” sebutnya.
Editor: Gloria Fransisca Katharina Lawi
Discussion about this post