Bencana hidrometeorologi tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik dan harta benda. Namun turut mengancam kesehatan masyarakat. Mulai dari penyakit yang ditularkan melalui air, hingga tantangan dalam penyediaan layanan kesehatan di daerah terdampak.
Bertautan dengan potensi bencana hidrometeorologi di Indonesia, maka Prohealth.id mewawancarai dokter Mohammad Adib Khumaidi selaku Ketua Umum (Ketum) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) periode 2022-2025.
Wawancara ini mendalami berbagai masalah kesehatan yang sering muncul akibat bencana banjir. Selain itu akan membahas pentingnya perhatian ekstra bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas dalam penanganan kesehatannya. Lalu pengambilan langkah-langkah pencegahan untuk mengurangi risiko penyakit yang timbul akibat bencana tersebut.
Melalui wawancara ini, harapannya warga dapat lebih memahami pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana dan lebih tangguh untuk menjaga kesehatan dan keselamatan diri. Terutama selama situasi darurat. Berikut wawancara tertulis bersama Mohammad Adib Khumaidi yang juga Pengajar Program Studi Magister Manajemen Bencana Universitas Indonesia.
Apa saja penyakit yang paling umum terjadi akibat bencana hidrometeorologi seperti banjir dan bagaimana peristiwa ini dapat memicu penyebaran penyakit menular?
Bencana hidrometeorologi seperti banjir dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Khususnya penyebaran penyakit menular. Penyakit yang paling umum terkait dengan banjir meliputi penyakit yang ditularkan melalui air, penyakit yang ditularkan melalui vektor, infeksi pernapasan, hingga infeksi kulit dan mata.
Bisakah Anda menjelaskan jenis penyakit per vektor?
Penularan penyakit melalui air saat banjir seperti leptospirosis, hepatitis A dan E, serta demam tifoid. Leptospirosis ini ditularkan melalui air yang terkontaminasi urin hewan yang terinfeksi khususnya hewan pengerat. Sementara Hepatitis A dan E menyebar melalui kontaminasi feses-oral, sering kali karena sanitasi yang buruk dan air yang terkontaminasi. Demam tifoid akibat salmonella typhi yang menyebar melalui makanan dan air yang terkontaminasi.
Penyakit yang ditularkan melalui vektor yaitu malaria, demam berdarah, dan demam kuning. Genangan air akibat banjir menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk yang menularkan malaria dan demam berdarah. Demam kuning mirip dengan malaria dan demam berdarah. Penyebab demam kuning adalah nyamuk yang berkembang biak di air yang tergenang.
Lalu kondisi tempat tinggal yang padat di pusat evakuasi atau tempat penampungan sementara dapat memudahkan penyebaran infeksi pernapasan seperti influenza dan tuberkulosis. Selain itu paparan air yang terkontaminasi dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan infeksi kulit seperti dermatitis dan infeksi mata kaya konjungtivitis.
Mengapa penyakit-penyakit tersebut dominan? Apa persiapan yang bisa dilakukan untuk mencegahnya terutama penyakit yang berhubungan dengan air dan sanitasi serta saat berada di tempat pengungsian?
Banjir menciptakan kondisi yang memfasilitasi penyebaran penyakit menular melalui air yang terkontaminasi, sanitasi yang buruk, dan kepadatan penduduk.
Air banjir sering kali bercampur dengan limbah, bahan kimia, dan limbah. Akibatnya mencemari persediaan air minum dan meningkatkan risiko penularan penyakit melalui air.
Gangguan sistem sanitasi akibat banjir dapat merusak sistem pembuangan limbah sehingga menyebabkan meluapnya limbah yang tidak diolah ke lingkungan.
Kemudian air yang tergenang setelah banjir menyediakan kondisi perkembangbiakan yang ideal bagi vektor pembawa penyakit seperti nyamuk.
Di samping itu kepadatan di tempat penampungan sementara memicu kontak dekat dan kebersihan yang buruk dapat mempercepat penyebaran penyakit menular. Banjir turut merusak persediaan makanan dan mencemarinya dengan patogen sehingga meningkatkan risiko penyakit bawaan makanan.
Bagaimana langkah untuk mengurangi risiko penyakit?
Untuk mengurangi risiko wabah penyakit setelah banjir maka penting untuk memastikan akses ke air minum bersih dan sanitasi yang layak, mempromosikan praktik kebersihan seperti mencuci tangan, melaksanakan tindakan pengendalian vektor seperti kelambu dan insektisida, memberikan perawatan medis dan vaksinasi tepat waktu jika berlaku, serta mendidik masyarakat tentang risiko dan tindakan pencegahan karena menangani faktor-faktor ini sangat penting untuk mengurangi dampak kesehatan dari bencana hidrometeorologi.
Apa tantangan terbesar dalam memberikan layanan kesehatan di daerah yang terdampak bencana hidrometeorologi?
Penyediaan layanan kesehatan di wilayah yang terkena bencana hidrometeorologi seperti banjir, badai, siklon, dan kekeringan menghadirkan beberapa tantangan yang signifikan.
Tantangan ini berasal dari dampak langsung dan jangka panjang dari bencana tersebut terhadap infrastruktur, sumber daya, dan populasi.
Bisakah Anda menjelaskan dengan rinci tantangan tersebut?
Ada sejumlah tantangan terbesar. Pada infrastruktur layanan kesehatan mengalami gangguan atau tidak berfungsi seperti rumah sakit, klinik, dan apotek. Hilangnya peralatan dan perlengkapan kaya peralatan medis, obat-obatan, dan perlengkapan penting sehingga membatasi kemampuan untuk memberikan perawatan. Gangguan pasokan listrik dan air bersih dapat melumpuhkan operasi layanan kesehatan terutama untuk operasi, sterilisasi, dan kebersihan dasar.
Bagaimana dengan tantangan aksesibilitas dalam penanganan kesehatan ketika bencana?
Akses yang terbatas ke wilayah yang terkena dampak juga merupakan masalah. Jalan yang banjir, jembatan yang runtuh, dan puing-puing dapat menyulitkan petugas layanan kesehatan dan perlengkapan untuk menjangkau populasi yang terdampak. Daerah terpencil dapat terputus sama sekali sehingga menunda respons darurat dan bantuan medis.
Kemudian meningkatnya beban penyakit. Seperti penyakit yang ditularkan melalui air, penyakit yang ditularkan melalui vektor, dan infeksi pernapasan.
Sistem layanan kesehatan juga kewalahan akibat lonjakan permintaan dan kekurangan staf. Peningkatan tiba-tiba dalam cedera, penyakit, dan kasus trauma dapat membanjiri sistem layanan kesehatan lokal yang mungkin sudah kekurangan sumber daya. Petugas layanan kesehatan sendiri mungkin terkena dampak bencana sehingga mengurangi tenaga kerja yang tersedia.
Adakah tantangan dari sisi tenaga kesehatan ketika menangani bencana hidrometeorologi?
Ada. Tantangan kesehatan mental seperti trauma psikologis dan kurangnya layanan kesehatan mental. Korban sering mengalami trauma, kecemasan, depresi, dan gangguan stres pasca trauma akibat bencana dan kehilangan orang terkasih atau harta benda. Lalu dukungan kesehatan mental sering kali terbatas atau tidak tersedia di daerah yang terkena bencana sehingga memperburuk dampak psikologis jangka panjang.
Bagaimana dengan tantangan logistik dari sisi kesehatan merespon kebutuhan perawatan selama bencana?
Tantangan terjadi juga di bidang logistik dan koordinasi kaya gangguan rantai pasokan. Ini mengakibatkan keterlambatan pengiriman pasokan medis, makanan, dan air bersih sehingga menghambat upaya bantuan. Lalu koordinasi antar Lembaga. Respon yang efektif memerlukan koordinasi antara lembaga pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan organisasi internasional yang dapat menjadi rumit dan lambat.
Nah, berkaitan dengan kelompok marjinal. Bagaimana kerentanan bencana ini pada kelompok tersebut?
Ada kerentanan populasi berisiko seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit kronis. Mereka lebih rentan terhadap risiko kesehatan dan mungkin kesulitan mengakses perawatan. Selain itu kondisi kehidupan yang buruk di tempat penampungan sementara dapat meningkatkan kerentanan mereka terhadap masalah kesehatan.
Adakah catatan Anda untuk penangana bencana dari sisi sanitasi dan lingkungan?
Tantangan lainnya di lingkungan dan sanitasi. Sistem sanitasi yang kewalahan dan pengelolaan limbah yang buruk dapat meningkatkan risiko penyakit. Air banjir dapat mengandung bahan berbahaya, bahan kimia, atau limbah yang menimbulkan risiko kesehatan tambahan.

Bagaimana dengan penanganan kesehatan dari sisi kelengkapan gizi selama bencana?
Kondisi kesehatan kronis dan defisiensi gizi bisa menjadi dampak kesehatan jangka Panjang. Bencana dapat memperburuk kondisi kronis yang ada karena kurangnya akses ke pengobatan dan layanan kesehatan. Kekurangan pangan dan pertanian yang terganggu dapat menyebabkan kekurangan gizi terutama pada anak-anak dan kelompok rentan.
Bagaimana kaitan bencana hidrometeorologi ini akibat krisis iklim dengan masalah kesehatan lainnya?
Ya, di samping masalah perubahan iklim dan bencana yang berulang. Perubahan iklim meningkatkan frekuensi dan tingkat keparahan bencana hidrometeorologi sehingga mempersulit sistem kesehatan untuk pulih dan bersiap menghadapi kejadian di masa mendatang. Bencana yang berulang juga dapat menguras sumber daya dan ketahanan lokal sehingga menciptakan siklus kerentanan
Karena itu perlu pendekatan multi aspek guna menangani tantangan ini. Termasuk memperkuat infrastruktur layanan kesehatan untuk menahan bencana, meningkatkan sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan bencana, memastikan pengerahan tim medis dan perlengkapan yang cepat, berinvestasi dalam dukungan kesehatan mental jangka panjang dan program ketahanan masyarakat, serta meningkatkan koordinasi antara lembaga lokal, nasional, dan internasional.
Dengan menangani tantangan ini secara proaktif maka layanan kesehatan dapat lebih siap untuk menanggapi bencana hidrometeorologi secara efektif dan mengurangi dampaknya terhadap populasi yang terkena dampak.
Terkait anak-anak, lansia, dan disabilitas dalam penanganan kesehatannya apa perlu perhatian ekstra khusus?
Iya. Anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas secara tidak proporsional terkena dampak bencana hidrometeorologi. Karena kerentanan mereka yang meningkat sehingga kelompok ini sering kali memerlukan perhatian khusus selama terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir, badai, atau gelombang panas ekstrem.
Kelompok ini sangat rentan karena kebutuhan fisik, kognitif, dan emosional mereka yang dapat membuat mereka lebih rentan terhadap dampak buruk bencana tersebut. Memberikan mereka perhatian, sumber daya, dan dukungan ekstra sangat penting untuk memastikan keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan mereka selama kejadian tersebut.
Bagaimana contoh kerentanan pada anak-anak saat menghadapi bencana banjir?
Pada anak-anak ada kerentanan fisik, dampak emosional, dan ketergantungan. Anak-anak memiliki sistem kekebalan tubuh yang sedang berkembang dan lebih rentan terhadap dehidrasi, malnutrisi, dan penyakit yang ditularkan melalui air yang umum terjadi selama banjir atau badai. Kemudian bencana dapat menjadi momen traumatis bagi anak-anak sehingga menyebabkan dampak psikologis jangka panjang. Mereka mungkin tidak sepenuhnya memahami situasi sehingga membuat mereka lebih bergantung pada orang dewasa untuk bimbingan dan kepastian. Mereka juga bergantung pada pengasuh untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka termasuk evakuasi, tempat berlindung, dan akses ke perawatan medis yang dapat terganggu selama bencana.
Bagaimana dengan lansia?
Lansia sering kali memiliki kondisi kesehatan kronis yang dapat memburuk selama bencana karena stres, kurangnya akses ke pengobatan, atau kondisi tempat tinggal yang buruk. Misalnya penyakit jantung, diabetes, atau masalah pernapasan. Mobilitas mereka yang terbatas dapat membuat evakuasi menjadi sulit dan mungkin memerlukan bantuan untuk mencapai tempat atau tempat perlindungan yang aman. Lalu lansia yang tinggal sendiri mungkin terabaikan selama tanggap darurat sehingga meningkatkan risiko bahaya bagi mereka.
Lalu, bagaimana dengan penyandang disabilitas?
Untuk penyandang disabilitas fisik mungkin menghadapi hambatan dalam evakuasi atau mengakses tempat perlindungan yang tidak dilengkapi dengan jalur landai, lift, atau akomodasi lain yang diperlukan.
Mereka menghadapi masalah komunikasi karena memiliki disabilitas sensorik atau kognitif, sehingga mungkin kesulitan menerima atau memahami peringatan dan instruksi darurat.
Lalu ada pula ketergantungan pada alat bantu. Bencana dapat mengganggu akses ke peralatan medis penting seperti tabung oksigen atau kursi roda sehingga bisa membahayakan kesehatan mereka.
Memberikan perhatian ekstra dengan penyesuaian rencana darurat, komunikasi yang tepat sasaran, dan dukungan komunitas.
Rencana tanggap darurat harus memperhitungkan kebutuhan khusus kelompok-kelompok ini termasuk transportasi yang aksesibel, persediaan medis, dan tempat penampungan khusus.
Komunikasi yang jelas, mudah, dan aksesibel sangat penting untuk memastikan bahwa peringatan dan instruksi menjangkau semua orang. Termasuk kelompok yang memiliki gangguan pendengaran, penglihatan, atau kognitif.
Lalu keluarga, pengasuh, dan organisasi komunitas memainkan peran penting dalam memastikan populasi ini tidak tertinggal selama bencana.
Apa kecemasan akibat bencana atau situasi mental korban bencana dapat berdampak pada fisik?
Iya. Kecemasan dan kondisi mental korban bencana secara keseluruhan dapat berdampak signifikan pada kesehatan fisik mereka. Hubungan ini terdokumentasi dengan baik dalam penelitian tentang interaksi antara kesehatan mental dan fisik khususnya dalam konteks trauma dan stres.
Kecemasan memicu respons stres tubuh dengan melepaskan hormon seperti kortisol dan adrenalin. Sementara hormon-hormon ini membantu dalam situasi “lawan atau lari” jangka pendek. Paparan jangka panjang karena kecemasan kronis dapat menyebabkan masalah kesehatan fisik seperti tekanan darah tinggi, melemahnya fungsi kekebalan tubuh, dan masalah kardiovaskular.
Adakah gejala yang justru non fisik?
Itu adalah gejala psikosomatis. Ketegangan mental akibat mengalami atau mengantisipasi bencana dapat terwujud secara fisik. Korban mungkin mengalami sakit kepala, kelelahan, masalah gastrointestinal, ketegangan otot, atau bahkan kondisi nyeri kronis. Gejala-gejala ini sering dikaitkan dengan beban psikologis ketidakpastian, kehilangan, atau trauma.
Kecemasan sering mengganggu pola tidur yang menyebabkan insomnia atau kualitas tidur yang buruk. Seiring berjalannya waktu kurang tidur dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, mengganggu fungsi kognitif, dan meningkatkan risiko penyakit kronis seperti diabetes dan penyakit jantung.
Perubahan perilaku juga dapat terjadi. Tekanan mental dapat menyebabkan mekanisme penanganan yang tidak sehat seperti merokok, konsumsi alkohol berlebihan, atau pilihan makanan yang buruk. Perilaku ini dapat memperburuk masalah kesehatan fisik dan meningkatkan risiko penyakit jangka panjang.
Dampak pada kondisi kronis. Bagi individu dengan kondisi kesehatan yang sudah ada sebelumnya maka kecemasan dapat memperburuk gejala atau membuat penanganan menjadi lebih sulit. Misalnya; asma, diabetes, atau penyakit jantung. Stres dan kecemasan juga dapat menunda pemulihan dari cedera fisik yang terjadi akibat bencana.
Stres dan kecemasan kronis dapat menekan sistem kekebalan tubuh, membuat korban bencana lebih rentan terhadap infeksi atau penyakit yang khususnya mengkhawatirkan dalam situasi pascabencana di mana sumber daya perawatan kesehatan mungkin terbatas.
Di samping itu ada konsekuensi kesehatan jangka panjang. Masalah kesehatan mental yang berkepanjangan seperti depresi, gangguan stres pasca trauma atau PTSD, dapat menyebabkan tantangan kesehatan fisik jangka panjang. Misalnya PTSD telah dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dan gangguan autoimun.
Kondisi mental korban bencana, termasuk kecemasan, dapat berdampak besar dan berkepanjangan pada kesehatan fisik mereka. Oleh karena itu menangani kebutuhan kesehatan mental setelah bencana hidrometeorologi sangat penting tidak hanya untuk kesejahteraan psikologis tetapi juga untuk mengurangi risiko kesehatan fisik dan mendorong pemulihan secara keseluruhan.
Bagaimana cara agar warga dapat mempersiapkan diri agar tidak rentan terhadap penyakit saat terjadi bencana hidrometeorologi? Apa rekomendasinya untuk meningkatkan kesiapsiagaan kesehatan masyarakat menghadapi bencana hidrometeorologi?
Bencana hidrometeorologi seperti banjir, badai, dan angin topan dapat secara signifikan meningkatkan risiko wabah penyakit akibat air yang terkontaminasi, sanitasi yang buruk, dan kondisi tempat tinggal yang padat.
Warga harus mengambil langkah-langkah guna mengurangi kerentanan. Contohnya; memastikan akses ke air bersih, menjaga kebersihan yang tepat, mencegah penyakit yang ditularkan melalui air, melindungi keamanan pangan, menyiapkan perlengkapan kesehatan, tetap terinformasi, dan vaksinasi.
Memastikan akses ke air bersih dengan menyimpan persediaan air minum bersih yang cukup setidaknya satu galon per orang per hari selama minimal 3 hari. Lalu menggunakan metode pemurnian air seperti merebus, tablet klorin, atau filter portable jika terjadi kontaminasi.
Menjaga kebersihan yang tepat adalah dengan mencuci tangan sesering mungkin memakai sabun dan air bersih. Hal ini terutama sebelum makan dan setelah menggunakan toilet. Atau menggunakan pembersih tangan jika air bersih tidak tersedia. Kebersihan seperti sabun, disinfektan, dan produk menstruasi tetap tersedia.
Menghindari kontak dengan air banjir yang mungkin terkontaminasi dengan limbah atau bahan kimia, memastikan pembuangan limbah yang tepat dan menghindari buang air besar sembarangan untuk mencegah kontaminasi sumber air.
Melindungi keamanan pangan dengan menyimpan makanan yang tidak mudah rusak dalam wadah kedap air dan membuang semua makanan yang terkena air banjir atau terkena suhu yang tidak aman.
Lalu tetap terinformasi dengan memantau pembaruan cuaca dan ikuti perintah evakuasi jika perlu, mewaspadai peringatan kesehatan setempat dan wabah penyakit.
Menyiapkan perlengkapan kesehatan seperti pertolongan pertama, obat resep, obat nyamuk, dan obat bebas untuk diare, demam, dan pereda nyeri.
Kamudian memastikan vaksinasi terkini terutama untuk penyakit seperti kolera, hepatitis A, dan tifus yang umum terjadi di daerah yang terkena bencana.
Sedangkan langkah-langkah yang penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan kesehatan masyarakat yakni memperkuat sistem peringatan dini, memperkuat infrastruktur kesehatan masyarakat. Selain itu pendidikan dan pelatihan masyarakat, memperkuat koordinasi antar lembaga, mempromosikan penelitian dan pengumpulan data, memperkuat pengawasan penyakit, memastikan akses ke layanan kesehatan.
Bagaimana dengan melakukan mitigasi? Adakah catatan khusus?
Perlu penguatan sistem peringatan dini dengan meningkatkan akurasi dan aksesibilitas prakiraan cuaca. Selain itu juga peringatan bencana untuk memastikan evakuasi dan kesiapsiagaan yang tepat waktu.
Penguatan infrastruktur kesehatan masyarakat lewat sistem air dan sanitasi yang harus tangguh untuk mencegah kontaminasi selama bencana serta membangun fasilitas kesehatan darurat dan persediaan medis di daerah rawan bencana.
Pendidikan dan pelatihan masyarakat dengan melangsungkan kampanye kesadaran masyarakat secara berkala tentang pencegahan penyakit, praktik kebersihan, dan kesiapsiagaan darurat. Harus ada pelatihan bagi petugas kesehatan masyarakat untuk menanggapi wabah penyakit secara efektif selama bencana.
Memperkuat koordinasi antar lembaga. Kolaborasi antara departemen kesehatan, lembaga penanggulangan bencana, dan pemerintah daerah untuk memastikan respons yang terkoordinasi. Pengembangan rencana respons darurat terpadu yang menangani bantuan bencana langsung dan dampak kesehatan jangka panjang.
Mempromosikan penelitian dan pengumpulan data seperti penelitian tentang dampak kesehatan dari bencana hidrometeorologi untuk mengidentifikasi populasi yang rentan dan daerah berisiko tinggi serta menggunakan data untuk menginformasikan keputusan kebijakan dan alokasi sumber daya.
Dari sisi medis, apa saja yang harus disediakan untuk menunjang mitigasi?
Pengawasan penyakit diperkuat dengan menetapkan sistem pengawasan penyakit untuk mendeteksi dan menanggapi wabah dengan cepat serta memantau kualitas air dan kondisi sanitasi di daerah yang terkena bencana.
Kemudian akses ke layanan kesehatan dengan menyediakan klinik kesehatan keliling dan layanan telemedicine di daerah yang terkena bencana serta memastikan kesinambungan perawatan untuk kondisi kronis dan dukungan kesehatan mental bagi populasi yang terkena dampak.
Dengan mengambil langkah-langkah ini maka penduduk dapat mengurangi kerentanan mereka terhadap penyakit selama bencana hidrometeorologi dan sistem kesehatan masyarakat dapat lebih siap untuk melindungi masyarakat dalam menghadapi keadaan darurat tersebut.
Pewawancara: Ignatius Dwiana
Editor: Gloria Fransisca Katharina Lawi
Discussion about this post