Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

Buram Wajah Republik Islam Iran setelah Khamenei Wafat

Teheran mampu mempertahankan program nuklir dan rudal balistiknya bertahun-tahun meski ada tuntutan internasional.

by Sunu Dyantoro
Monday, 2 March 2026
A A
Buram Wajah Republik Islam Iran setelah Khamenei Wafat

Wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menjadi ancaman terbesar buat Republik Islam Iran. Republik teokrasi di tanah Persia ini telah berumur hampir 50 tahun. Meski begitu, duka Iran ini tak berarti teokrasi yang mengendalikan negara ini bakal tamat.

Iran punya presiden Masoud Pezeshkian. Namun, kekuasaan sesungguhnya ada di tangan pemimpin tertinggi atau rahbar. Selama ini, pergantian kekuasaan Republik Islam Iran baru terjadi sekali. Yakni setelah kematian pendirinya, Ayatollah Ruhollah Khomeini, pada 1989 lalu. Khomeini digantikan Khamenei.

BacaJuga

Siapa Bertanggung Jawab atas Bus TransJakarta yang “Adu Banteng”

Tarif Trump yang Ugal-ugalan dan Mencoreng Wajah Prabowo

Iran memiliki struktur tata negara teo-demokrasi unik. Sistem ini didasarkan pada konsep wilayatul faqih atau pemerintahan faqih. Ini adalah pemerintahan yang menggabungkan teokrasi Islam dan demokrasi. Kekuasaan tertinggi dipegang pemimpin tertinggi. Ia mengawasi eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Adapun lembaga negara utama meliputi pemimpin tertinggi, presiden, majelis atau parlemen, dan dewan penjaga.

Pada masa transisi setelah meninggalnya Khamenei, Iran mengumumkan pemerintahan dikendalikan Presiden Masoud Pezeshkian, Kepala Yudisial Gholamhossein Mohseni Ejei, dan seorang anggota Dewan Garda. Menurut konstitusi Iran, pengganti Khamenei harus dipilih oleh lembaga yang sama yang dahulu memilihnya: Majelis Ahli Kepemimpinan.

Majelis ini beranggotakan 88 ulama yang secara formal dipilih rakyat setiap delapan tahun. Pada praktiknya hanya ulama paling loyal pada Republik Islam yang diizinkan mencalonkan diri. Karena itu, mayoritas anggota majelis saat ini merupakan ulama garis keras seperti Ayatollah Khamenei.

Konstitusi Iran mengatur, Majelis Ahli Kepemimpinan harus memilih Pemimpin Tertinggi baru secepatnya. Khamenei pun dipilih pada hari yang sama dengan wafatnya Ayatollah Ruhollah Khomeini pada 1989. Kali ini, dengan alasan Amerika Serikat dan Israel masih menyerang Iran, akan sulit menghimpun 88 ulama itu dalam waktu cepat.

Giselle Ruhiyyih Ewing dari Politico dalam analisisnya menyatakan, selama bertahun-tahun, mantan Presiden Ebrahim Raisi difavoritkan untuk menggantikan Khamenei setelah kematian pemimpin tertinggi. Tapi ia tewas dalam kecelakaan helikopter pada tahun 2024.

Sejak saat itu, putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, disebut sebagai salah satu calon pengganti. Ia adalah sosok yang agak misterius. Pengaruhna banyak berperan di balik layar. Mojtaba memainkan peran penting dalam mengelola kekayaan ayahnya. Tetapi Mojtaba bukanlah satu-satunya nama yang dipertimbangkan. Khamenei memilih tiga kandidat yang dapat menggantikannya selama perang 12 hari Juni lalu. Nama-nama mereka belum diumumkan kepada publik.

Ketidakpastian suksesi menciptakan peluang bagi lawan-lawan Iran. Apalagi Trump mendesak warga Iran untuk memanfaatkan momentum ini. “Setelah kami selesai, ambil alih pemerintahan Anda. Itu akan menjadi milik Anda,” katanya. “Ini mungkin satu-satunya kesempatan Anda untuk beberapa generasi.”

Namun, teokrasi Khamenei telah terbukti tangguh menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari pemberontakan besar-besaran 2009 lalu atas tuduhan kecurangan pemilu, hingga protes nasional baru-baru ini. Demonstrasi dalam sekala luas pada Januari lalu ini berupaya menggulingkan pemerintahan Iran dan mendapat dukungan Trump.

Direktur senior Foundation for Defense of Democracies Iran, Ben Taleblu, menyatakan Iran pasca-Khamenei belum tentu berarti Iran pasca-Republik Islam. Selama ini terbukti, Republik Islam mampu bertahan dari tekanan domestik dan asing yang signifikan.

Ia berpendapat pemerintah Iran bertahan dengan beroperasi “secara strategis di area abu-abu.” Teheran mampu mempertahankan program nuklir dan rudal balistiknya selama bertahun-tahun meski ada tuntutan internasional. Iran telah menunjukkan ketegasannya untuk menindak warganya dan menggunakan kekerasan untuk menundukkan protes.

Selama masa jabatannya sebagai ayatollah, Khamenei memimpin jaringan proksi regional. Ia melakukan kekerasan terhadap pasukan AS dan sekutu Amerika di seluruh Timur Tengah. Di dalam negeri, rezim Khamenei mengendalikan rakyat Iran dengan ketat, membatasi kebebasan individu secara drastis, terutama bagi perempuan dan beberapa kelompok minoritas.

Represi Khamenei memicu reaksi keras dari warga Iran selama bertahun-tahun. Ini seiring dengan semakin kuatnya gelombang ketidakpuasan, dan brutalitas respons pemerintah. Pada bulan Desember lalu, pasukan pemerintah membunuh ribuan demonstran dan menangkap puluhan ribu lainnya.

Ada pihak yang siap turun tangan setelah Khamenei jatuh. Reza Pahlavi, putra Shah terakhir Iran, dengan cepat mengeluarkan pernyataan tak lama setelah serangan dimulai. Rezim Khamenei “sedang runtuh,” kata Pahlavi dalam komentar yang diunggah ke media sosial, Reza Pahlavi memuji Trump atas apa yang ia gambarkan sebagai “intervensi kemanusiaan.”

“Namun, terlepas dari kedatangan bantuan ini, kemenangan akhir tetap akan diraih oleh kita,” kata Pahlavi. “Kitalah, rakyat Iran, yang akan menyelesaikan tugas ini dalam pertempuran terakhir ini. Waktu untuk kembali ke jalanan semakin dekat.”

Pahlavi, yang tinggal di AS, berupaya memposisikan diri sebagai pemimpin oposisi utama rezim Islamis. Meski begitu, tingkat dukungan warga Iran untuk Reza Pahlavi yang diasingkan itu, masih belum jelas. Situasi politik Iran setelah meninggalnya Khamenei pun samar.

ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=ZF-vfVos47A
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.