Jakarta, Prohealth.id – Anak-anak di sejumlah negara mengalami Human Metapneumovirus (HMPV).
Kejadian peningkatan kasus HMPV pun menarik perhatian medis. Asal tahu saja, HMPV berasal dari keluarga Paramyxoviridae. Serupa dengan virus campak dan gondong. Tetapi ini berbeda dengan SARS-CoV-2 penyebab Covid-19.
Pakar Epidemiologi Universitas Airlangga (UNAIR) Muhammad Atoillah Isfandiari mengatakan, virus ini menular melalui saluran napas. Namun, gejalanya biasanya tidak parah.
“Kecuali pada individu dengan kekebalan tubuh yang lemah,” katanya melalui siaran pers pada Januari ini.
HMPV sering muncul setiap tahunnya terutama di musim dingin. Tingkat kematiannya sangat rendah. Perkiraan kasus serupa di Indonesia tidak akan berbeda. Namun kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia harus lebih waspada karena sistem imun mereka lebih lemah. HMPV yang menimpa balita bisa memicu radang paru atau pneumonia yang membutuhkan perawatan di rumah sakit.
Pencegahan terhadap virus pernapasan ini misalnya dengan menghindari kontak dekat dengan orang yang menunjukkan gejala batuk, bersin, pilek, atau demam. Penggunaan masker di tempat ramai, menjaga pola tidur dan asupan protein, serta menghindari kontak dengan yang sedang sakit adalah langkah penting.
Ada sistem pemantauan untuk mendeteksi dan memantau kasus penyakit yang menunjukkan gejala mirip flu. Ini sebutannya adalah Influenza Like Illness (ILI). Sistem pemantauan ILI dapat membantu mendeteksi HMPV lebih dini.
“Potensi HMPV menjadi wabah global masih tetap ada. Namun dari tingkat kematian, HMPV sejauh ini belum menunjukkan ancaman yang serius.”
Virus penyebab infeksi saluran pernapasan akut ini sudah ada sejak lama. Pertama kali temuan kasusnya di Belanda pada 2001. Virus ini umumnya tidak menimbulkan kekhawatiran besar meski terjadi peningkatan kasus HMPV di Tiongkok pada Desember 2024 lalu.
Virus ini sangat mudah menular melalui droplet dari batuk atau bersin penderita. Masa inkubasi sekitar 3 – 6 hari dan gejala umumnya berlangsung sekitar 5 hari. Sebagian besar kasus bersifat ringan dan sembuh dengan sendirinya.
Dokter Spesialis Paru Prof. dr Erlina Burhan pada media briefing oleh Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) yang berlangsung pada Januari 2024 lalu menyatakan sistem imun sangat berpengaruh atas penularan. Bilamana sistem imunnya baik, maka virusnya akan dimusnahkan oleh sistem imun.
“Tetapi kalau sistem imunnya kurang baik memang kemudian terjadi penurunan,” jelas dr. Erlina.
Namun HMPV dapat berisiko pada anak-anak, lansia, atau individu dengan kondisi medis tertentu. Misalnya; asma, diabetes, atau gangguan imun. Gejala dapat mencakup demam, batuk kering, nyeri otot, sakit kepala, dan kelelahan, dengan kemungkinan komplikasi seperti pneumonia atau serangan asma. Sementara pada bayi bisa mengakibatkan bronkiolitis.
Ketua Satgas COVID-19 PB IDI ini melanjutkan, untuk mendeteksi HMPV harus dengan pemeriksaan DNA dari virusnya seperti swab tenggorok.
“Bisa juga dikultur. Tetapi ini jarang sekali dilakukan karena susah. Lalu kalau memang sudah terjadi sesak nafas atau mungkin menimbulkan pneumoni bisa rontgen atau CT scan.”
Pencegahan utama adalah dengan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Seperti misalnya’ mencuci tangan, mengenakan masker, menghindari kontak dengan orang yang terinfeksi, dan membersihkan benda-benda.
Belum ada vaksin atau obat antivirus khusus untuk HMPV. Sementara untuk terapi biasanya bersifat suportif. Contohnya; istirahat, obat pereda demam, dan pemberian oksigen. Obat antivirus seperti Ribavirin bisa digunakan pada kasus yang lebih parah.
Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mengimbau kepada pemerintah untuk memperkuat surveilans epidimologi. Terutama kalau dari bandara internasional ada penumpang yang datang dari luar dan batuk-pilek sebaiknya melalui pemeriksaan medis.
Kata dr. Erlina, penting menyampaikan kepada orang yang datang atau di bandara untuk penerapan protokol kesehatan yang efektif.
“Lalu pemerintah juga perlu melibatkan komunitas untuk edukasi dan sosialisasi,” ujarnya.
Di samping itu hanya mengedepankan kewaspadaan tanpa perlu khawatir. “Sejauh ini waspada saja. Tidak perlu khawatir apalagi panik. Karena sebagai besar dan HMPV ini bersifat ringan. Bilamana gejalanya menjadi berat kalau terjadi koinfeksi virus lainnya,” pungkas Erlina Burhan. ***
Editor: Gloria Fransisca Katharina Lawi
Discussion about this post