Prohealth.id — Mulainya periode proses pembelajaran bersamaan dengan puncak musim hujan di Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menekankan perlunya para orangtua, pengasuh, tenaga pendidik, pihak sekolah dan pemerintah daerah untuk memberikan prioritas utama bagi kesehatan dan keselamatan anak.
“IDAI memahami bahwa proses belajar mengajar di sekolah sangat penting bagi perkembangan sosial, emosional, dan intelektual anak. Namun, kesehatan dan keselamatan anak harus menjadi prioritas utama. Oleh karena itu, kami menyampaikan beberapa kiat komprehensif sebagai upaya pencegahan dan kewaspadaan kolektif,” jelas Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia, DR Dr Piprim Basarah Yanuarso, SpA, Subsp Kardio(K), dalam rilis resminya (6/1).
Hal ini mengingat bahwa aktivitas sekolah akan padat saat curah hujan tinggi dan kelembapan meningkat yang akan menjadi rawan bagi penularan penyakit seperti influenza, diare, demam berdarah, hingga potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir.
Beberapa hal yang menjadi perhatian IDAI, antara lain memastikan anak mendapatkan imunisasi dasar dan lanjutan sesuai usia, termasuk vaksin seperti campak, difteri, pertusis, influenza, dan lain-lain, makanan yang bernutrisi tinggi, terutama protein hewani, cukup cairan, hindari makanan gula tinggi dan junk food, istirahat yang cukup yaitu 8-10 jam sesuai usia, hingga segera periksakan ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala demam, batuk, pilek, diare, atau lemas.
Hal lainnya yang menjadi perhatian IDAI adalah mengajarkan anak etiket batuk dan perilaku hidup bersih sehat, seperti menutup mulut dan hidung saat batuk dan bersin, cuci tangan dengan sabun sebelum makan, setelah menggunakan toilet dan bermain, menggunakan masker bila mengalami sakit, dan hindari berbagi penggunaan alat makan, minum, dan alat kebersihan pribadi.
Selain itu, IDAI juga menyarankan untuk menerapkan Menguras, Menutup, Mendaur Ulang (3M) dan pastikan lingkungan sekolah dan rumah bebas dari genangan air, gunakan losion anti nyamuk, kelambu atau pakaian panjang. Untuk menghindari diare dan leptospirosis (kencing tikus), pastikan pastikan anak selalu memakai alas kaki saat bermain atau berjalan di area yang mungkin terkontaminasi. Konsumsi air dan makanan yang bersih dan matang.
Sementara, terkait dengan musim hujan dan bencana hidrometeorologi, IDAI menekankan komunikasi yang insentif antara pihak orangtua dan sekolah, terutama terkait dengan kondisi kesehatan anak. Siswa diimbau untuk disiplin menerapkan protokol kesehatan dan saling mengingatkan. Pastikan juga data kontak darurat baik pihak orangtua maupun sekolah selalu mutakhir. Pihak sekolah juga perlu mengajarkan anak prosedur evakuasi dan titik kumpul sekolah serta orangtua perlu mengetahui tentang rencana tanggap darurat sekolah. Selain itu, perlu juga menyiapkan tas siaga bencana untuk anak di sekolah dan di rumah (berisi jas hujajn, makanan tahan lama, air minum, obat pribadi, pakaian ganti, senter kecil, peluit, dan kontak darurat keluarga).
Waspada genangan air, pohon tumbang, dan arus lalu lintas saat hujan lebat.
IDAI mendorong sekolah untuk memastikan ketersediaan sarana cuci tangan, air bersih, dan toilet yang higienis, serta melakukan pembersihan dan disinfeksi rutin pada area dan permukaan benda yang sering disentuh. IDAI juga mendorong penguatan kerjasama antar sekolah dengan puskesmas setempat untuk pemantauan kesehatan warga sekolah dan edukasi.
IDAI juga berharap pemerintah daerah dapat mengoptimalkan penyediaan fasilitas kesehatan, memastikan lingkungan sekolah aman dari risiko banjir/longsor, dan mengkoordinasikan sistem peringatan dini.
“Kami, para dokter anak, sangat mengharapkan kolaborasi semua pihak. Dengan upaya bersama, kita dapat menciptakan lingkungan yang sehat dan aman bagi anak-anak kita untuk belajar dan bertumbuh kembang optimal, meski di tengah tantangan musim ini. IDAI siap bersinergi dengan semua pihak terkait untuk memastikan hak kesehatan dan pendidikan anak terpenuhi dengan baik,” tegas DR Dr Hikari Ambara Sjakti, Subsp HemaOnk(K) Sekretaris Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Discussion about this post