Wabah global Covid-19 yang pernah mencekam dunia belum lama berlalu. Kini, dunia kembali cemas dengan penularan virus. Kali ini datang dari virus Nipah yang telah berjangkit di sejumlah negara, termasuk India.
Virus Nipah berpotensi menular pada anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah mengingatkan besarnya potensi menularnya virus ini pada buah hati kita semua. Apalagi virus jenis ini pernah ditemukan pada kelelawar di Indonesia. Sehingga, Kementerian Kesehatan dan otoritas yang berkaitan harus mengantisipasinya.
Nama Nipah diambil dari lokasi pertama ditemukannya virus ini di sekitar Sungai Nipah di Malaysia. Virus ini menular dari hewan ke manusia. Inang alami jenis virus ini adalah kelelawar buah. Selain kelelawar, penularan juga pernah terjadi pada babi dan kuda. Ini sangat tergantung pada pola interaksi manusia dengan hewan di wilayah terkena dampak.
Tidak adanya kasus pada manusia di Indonesia tak boleh membuat pemerintah dan masyarakat lengah. Pemerintah tak boleh menganggap enteng atas penyebaran global bibit penyakit ini. Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis dengan tingkat kematian tinggi, 40 hingga 75 persen.
IDAI menyatakan virus Nipah dapat menimbulkan spektrum penyakit yang luas, mulai dari tanpa gejala, gangguan pernapasan akut, hingga ensefalitis atau radang otak yang mematikan. Penularan ke manusia melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi harus dihindari.
Masyarakat juga harus berhati-hati pada peluang penularan melalui konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi, seperti nira mentah atau buah yang tergigit kelelawar. Seperti pada Covid-19, penularan antarmanusia melalui droplet dan cairan tubuh juga bisa muncul.
Sekali lagi, anak-anak bukan kelompok yang kebal. Tingginya data wabah di berbagai negara menunjukkan rentang usia kasus mencakup bayi hingga lansia. Ini yang harus pemerintah waspadai. Jangan sampai wabah di Kerala, India, tahun 2023, yang mengakibatkan bocah tertular, terjadi di Indonesia.
Dalam mengantisipasi penularan virus ini, presiden tidak perlu berlagak sok antiasing seperti saat bencana menghajar Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Jika dalam upaya antisipasi ini perlu melibatkan negara asing atau lembaga internasional, dan akan berdampak lebih baik untuk mencegah penularannya, presiden sepatutnya tidak menolaknya.
Telat membuat antisipasi seperti pada pandemi Covid-19 tak perlu diulangi. Tak sepantasnya juga pemerintah Presiden Prabowo lamban dan cenderung meremehkan penularan virus Nipah. Jangan sampai akibat pemerintah telat mengantisipasi, masyarakat jadi panik dan tahu-tahu penyebaran virusnya telah meluas.
Buruknya hubungan antara Kementerian Kesehatan dengan sebagian organisasi profesi kedokteran tak seharusnya membuat sistem kesehatan nasional rapuh. Sehingga, cerita rumah sakit kewalahan sebelum puncak pandemi seperti pada saat lonjakan kasus Covid-19, tak terulang dalam penularan virus Nipah ini.
Sudah saatnya pemerintah Prabowo mengutamakan argumen kesehatan. Tinggalkan pertimbangan-pertimbangan politis dan delusi antekaseng dan antekasing yang justru akan membuat rakyat sengsara.***

Discussion about this post