Cibinong, Prohealth.id – Peneliti Pusat Riset Biomedis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Monica D. Hartanti mengembangkan inovasi skrining untuk meningkatkan deteksi dini dan mengurangi biaya pengobatan.
Salah satu inovasinya adalah analisis VOC urine (Volatile Organic Compounds). Yang mana, urin mengandung senyawa volatil yang dapat menjadi penanda kanker serviks.
“Dengan dukungan kecerdasan buatan (AI), harapannya metode ini meningkatkan akurasi deteksi,” ungkap Monica ke Prohealth.id dari keterangan tertulis, Jumat, 24 Januari 2025 lalu.
Selain itu, pengembangan metode mRPA-NALFIA yang bekerja mirip tes kehamilan. Metode ini menggunakan Recombinase Polymerase Amplification (RPA) untuk memperbanyak DNA dalam satu siklus pada suhu konstan tanpa mesin PCR. Sehingga, dapat memperoleh hasil dalam waktu kurang dari lima menit melalui visualisasi strip test.
Meskipun inovasi seperti mRPA-NALFIA dan analisis VOC urine menunjukkan potensi besar, Monica mengakui tantangan tetap ada. Termasuk peningkatan sensitivitas dan spesifisitas serta faktor eksternal yang memengaruhi hasil VOC.
“Perlu dataset besar untuk melatih AI agar lebih akurat dalam mendeteksi penanda kanker,” ujar dia.
Hasil awal klasifikasi machine learning dari 20 persen data menunjukkan akurasi 61 persen, dengan target peningkatan hingga 80 persen. “Penelitian terus berlanjut untuk mengoptimalkan analisis dan membedakan antara subjek non-kanker dan kanker,” ujar Monica.
Langkah selanjutnya mencakup studi validasi dengan lebih banyak sampel, optimasi algoritma AI untuk analisis multi-biomarker. Selain itu juga pengembangan perangkat lunak yang ramah pengguna.
“Selain itu, kolaborasi dengan penyedia layanan kesehatan lokal agar teknologi ini lebih terjangkau. Serta dapat diadopsi secara luas oleh masyarakat,” tambahnya.
Setelah optimasi, sambung Monica, inovasi mRPA-NALFIA dan urine VOC analysis dengan akurasi hingga 80 persen berpotensi menjadi metode skrining yang lebih murah, cepat, dan nyaman bagi pasien.
“Meski tetap memerlukan pemeriksaan lanjutan untuk diagnosis pasti, harapannya teknologi ini menjadi alternatif skrining awal yang lebih efektif. Selain itu berkontribusi pada upaya pencegahan dan deteksi dini kanker serviks di Indonesia,” harapnya.
Lebih lanjut Monica menjelaskan, kanker serviks umumnya karena Human Papillomavirus (HPV) tipe 16 dan 18. Namun, penelitian menunjukkan bahwa HPV tipe 52 juga berperan dalam perkembangannya.
Fokus penelitian pada tiga tipe utama HPV (16, 18, dan 52) menemukan bahwa tipe 52 sering muncul. Sehingga perlu metode deteksi yang lebih cepat dan hemat biaya daripada teknik konvensional.
Menurut Monica, infeksi HPV yang berkembang menjadi kanker serviks sering tidak terdeteksi sejak awal. Padahal, biaya pengobatannya sangat besar, mencapai Rp3-4 triliun pada 2019-2020.
Oleh karena itu, skrining sebelum kanker berkembang menjadi langkah penting dalam upaya pencegahan. “Sayangnya, metode skrining saat ini masih memiliki kendala seperti sensitivitas rendah, biaya tinggi. Kemungkinan hasil negatif palsu, serta hambatan psikologis bagi pasien,” tutur Monica.
Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN Indi Dharmayanti mengungkapkan, virus HPV menular melalui kontak seksual. Tetapi dapat dicegah dengan vaksinasi HPV, skrining rutin menggunakan pap smear atau inspeksi visual asam asetat (IVA), serta pengelolaan lesi pra-kanker secara efektif.
Data Global Cancer Observatory (Globocan) 2020 menunjukkan, kanker serviks menempati peringkat keempat sebagai jenis kanker paling umum pada Wanita. Pasalnya, dengan lebih dari 600.000 kasus baru dan 340.000 kematian per tahun.
Untuk mendukung target eliminasi kanker serviks dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2030, Indi menyebut perlu pendekatan terpadu yang mencakup tiga strategi utama. Pertama, vaksinasi HPV pada 90 persen anak perempuan sebelum usia 15 tahun.
Kedua, skrining dini pada 70 persen wanita usia 35 hingga 45 tahun. Ketiga, pengobatan 90 persen kasus lesi pra-kanker dan kanker invasif. Indi menyatakan, peringatan Cervical Cancer Awareness Month 2025 menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran dan edukasi masyarakat tentang deteksi dini serta pencegahan kanker serviks.
“BRIN terus berkomitmen mendukung upaya eliminasi kanker serviks,” pungkas Indi.
Editor: Gloria Fransisca Katharina Lawi
Discussion about this post