Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia atau PKJS UI menggelar acara khusus untuk meningkatkan kesadaran tentang peran perempuan dalam meningkatkan kesehatan masyarakat.
Dalam kegiatan talk show dengan tema “Kepemimpinan Perempuan dalam Kesehatan Masyarakat” atau Women’s Leadership in Public Health, PKJS UI menghadirkan tokoh perempuan dari berbagai pemangku kepentingan. Mereka adalah para perempuan yang bergelut pada sektor pemerintah, swasta, dan organisasi sosial masyarakat. Tujuannya, tentu membahas pentingnya peran perempuan dalam meningkatkan standar kesehatan masyarakat.
Badan Pusat Statistik (BPS) telah menetapkan beberapa indikator kesehatan untuk mengukur kualitas kesehatan masyarakat Indonesia. Beberapa di antaranya adalah gizi buruk yang dapat menyebabkan stunting, serta tingkat kematian ibu dan kematian bayi.
Salah satu masalah yang paling berhubungan dengan perempuan adalah sumber data dari Studi Status Gizi Indonesia tahun 2021 yang mencatat prevalensi stunting balita di Indonesia sebesar 24,4 persen. Angka tersebut masih jauh lebih tinggi dari batas toleransi WHO, yaitu 20 persen untuk stunting.
Ramona Sequeira, President Global Portfolio Division, Takeda mengatakan dalam forum tersebut bahwa momentum Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada tanggal 8 Maret, merupakan waktu bagi Takeda untuk mendukung dan merayakan peran perempuan dalam mendorong percepatan peningkatan kesehatan masyarakat di berbagai negara di seluruh dunia. Apalagi perempuan berperan penting dalam upaya peningkatan berbagai indikator kesehatan, termasuk mengatasi gizi buruk serta menurunkan angka kematian ibu dan anak.
“Kami bangga bahwa Takeda memiliki posisi untuk mendukung perempuan dalam peran tersebut melalui program dengan jangkauan yang luas terhadap masyarakat dan (memberikan) solusi kesehatan inovatif kami guna menciptakan kesehatan yang lebih baik bagi masyarakat dan masa depan lebih cerah untuk dunia “better health for people and a brighter future for the world,” katanya dari siaran pers yang diterima Prohealth.id.
Asal tahu saja, Takeda pada tahun 2022 meluncurkan empat program Corporate Social Responsibility (CSR) global di seluruh dunia, tiga di antaranya menyertakan Indonesia sebagai salah satu wilayah program. Program tersebut misalnya, pertama, program lima tahun untuk memastikan perkembangan kognitif anak dengan menghentikan keracunan timbal.
Kedua, program empat tahun untuk memenuhi kebutuhan kesehatan reproduksi perempuan dan anak perempuan dengan meningkatkan akses terhadap perawatan berkelanjutan yang berfokus pada perempuan.
Ketiga, program empat tahun yang bertujuan mengakhiri kekerasan terhadap perempuan yang disebut “Perempuan sebagai Pusat (Perhatian)”.

Aryana Satrya, Ketua PKJS-UI menambahkan perempuan perlu memanfaatkan peran penting mereka dalam mempercepat peningkatan kesehatan masyarakat.
“Perhatian utama kami adalah memastikan bahwa baik laki-laki maupun perempuan dapat memperoleh informasi dengan baik dan memastikan bahwa mereka dapat mengambil peran tersebut secara optimal,” jelasnya.
Angka kematian ibu dan anak tentunya menjadi perhatian utama yang perlu disikapi dalam upaya peningkatan indikator kesehatan negara. Oleh karena itu, beberapa cara pencegahan yang tersedia untuk melindungi kesehatan anak adalah imunisasi dan vaksinasi penyakit menular yang terbukti dapat menghindari penyakit serius bahkan kematian.
Sementara itu, dr. Siti Nadia Tarmizi, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menjelaskan bahwa kesehatan keluarga dipengaruhi oleh gaya hidup yang diterapkan.
Perempuan sebagai ibu menurut dr. Siti Nadia berperan dalam dalam membentuk dan menentukan gaya hidup yang dipilih oleh keluarga. Peran ibu menentukan bagaimana perempuan di Indonesia lebih berdaya dan memiliki pengetahuan dalam kesehatan, karena dia akan menjadi penggerak utama dalam keluarga dan masyarakat.
“Perempuan berhak untuk mencapai derajat kesehatan setinggi-tingginya dan berhak memiliki akses maupun kontrol atas makanan bergizi, air bersih, maupun layanan kesehatan,” jelas dr. Siti Nadia.
Penasehat Senior di Kantor Staf Presiden Brian Sriprahastuti menyatakan bahwa jika berbicara kepemimpinan perempuan, seringkali masyarakat melihat kepemimpinan perempuan dari representasi jumlahnya semata.
Brian yang juga merupakan Analis Kebijakan dan Aktivis Perempuan dan Hak Anak, mengatakan sekalipun secara jumlah di suatu perusahaan antara laki-laki dan perempuan seimbang, namun di level pengambilan keputusan, biasanya tidak imbang.
“Harusnya perempuan tidak dilihat dari representasi secara jumlah saja, tapi posisi yang bisa mengambil kebijakan, terutama kebijakan publik,” tambah Brian.
Bicara tentang peran perempuan dalam jaminan sosial, Asih Eka Putri, Anggota Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) juga menjelaskan bahwa jaminan sosial sangat penting bagi keluarga.
“Istri harus mencari tahu bagaimana jaminan sosial keluarganya. Apakah perusahaan membayarkan (premi jaminan sosial), apakah sudah dibayarkan,” tuturnya.
Menurut Asih, seringkali pada saat terjadi risiko, ada kejadian kecurangan, tidak dilaporkan dengan sebenarnya, dan sebagainya. Untuk itu diperlukan keterbukaan di keluarga.
“Maka peran perempuan penting sekali untuk mengingatkan diri sendiri, suami, ayah, agar selalu tidak terputus iuran jaminan sosialnya,” ungkap Asih.
Hal ini pun sesuai dengan yang disampaikan oleh Suci Arumsari, Direktur Utama dan Co-Founder Alodokter, yang menyatakan bahwa peranan perempuan dalam dunia kesehatan sangat menentukan. Ia bahkan menegaskan bahwa ksehatan bukan menjadi satu keperluan khusus untuk satu orang, namun untuk kita semua.
“Namun, kesempatan bagi perempuan untuk menunjukkan kemampuannya di bidang pekerjaan apapun sangat terbatas. Padahal, perempuan bisa memberikan yang terbaik dari yang terbaik,” tambah Suci.
Mulya Rahma Karyati selaku Konsultan Dokter Anak, menekankan pada perempuan memiliki tanggung jawab perempuan yang multitasking. Ia menilai, suatu negara bisa maju kalau perempuannya terdidik.
“Karena perempuan ini yang akan hamil, melahirkan, menyusui, membesarkan, dan mendidik anak-anak. Untuk para perempuan, tuntutlah ilmu setinggi-tingginya, namun kembalilah ke Indonesia untuk membangun bangsa,” ujar Mulya.
Perempuan dan ketahanan pangan
Dalam forum terpisah, Nutripreneur Widya Harry Apriadji menjelaskan para perempuan masa kini menghadapi tantangan berat utamanya karena macam makanan yang memicu penyakit. Sebut saja beberapa penyakit degeneratif seperti kanker dan jantung yang disebabkan oleh pola hidup.
Untuk mencegah penyakit tersebut, menurut Wied, panggilan akrab Widya Harry, penting untuk mengutamakan konsumsi pangan lokal dan bukan pangan kemasan atau berpengawet.
“Makanan harus mudah ditanam, protein juga diternak sendiri. Bahkan tanaman pangan organik ini harus dalam kanting bekas,” tuturnya.
Dia juga menyebut beberapa tanaman liar atau edible yang memiliki khasiat obat. Sebut saja; sintrong, krokot, rumput teki, sirih cina, kedondong laut, mangkokan, pegagan atau regedeg. Beberapa contoh lain adalah bunga papaya, bunga lily, dan sedap malam yang bisa dimanfaatkan dalam sop kimlo.
Ada juga daun tanaman berbuah seperti jambu air, belimbing manis, daun salam, belimbing sayur, daun kedondong, daun labu, daun papaya, dan daun kopi.
“Perempuan penting untuk mampu kreatif dalam melakukan diversifikasi pangan yang dikonsumsi sehari-hari untuk menjaga nutrisi,” terang Wied.
Selain itu untuk menjaga keberlanjutan, dia mengimbau agar dalam rumah tangga para perempuan diberikan otoritas untuk memanfaatkan lahan kosong sebagai tempat menanam tanaman pangan.
Ketua Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Margaret Aliyatul Maimunah ikut menambahkan bahwa perempuan merupakan pemegang kebijakan di keluarganya.
Oleh karenanya, ia menegaskan bahwa ini adalah posisi yang sangat strategis dan penting, karena mereka yang menjadi penentu, termasuk pada isu stunting.
“Kita menguatkan hal tersebut, dan melakukan intervensi pada keluarga, lingkungan sekitar, dan struktur di atas kita. Kita melakukan intervensi kepada NU secara kelembagaan mempunyai fokus terhadap isu stunting,” terangnya.
Contoh lain adalah Fatayat NU juga menerapkan kawasan bebas asap rokok di rumah. Maka perempuan menjadi salah satu kunci dan menjadi pemimpin dalam menjamin kesehatan keluarga.
Discussion about this post