Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

Lonjakan Investasi AI Menandai Fase Baru Ritel Menjelang Hari Raya

Teknologi mengubah standar ekspektasi konsumen terhadap pengalaman belanja secara menyeluruh.

by Admin
Tuesday, 24 February 2026
A A
Kontribusi Kecerdasan Buatan Dalam Transformasi Layanan Kesehatan Asia Tenggara

Teknologi AI dan anak-anak. (Sumber foto: Canva/2025)

Menjelang Ramadan dan Idul Fitri, studi global bersama National Retail Federation (NRF) menunjukkan meski hampir tiga perempat konsumen (72%) masih berbelanja di toko fisik, hampir separuhnya (45%) kini memanfaatkan kecerdasan buatan (AI). Mereka menggunakan AI untuk mendukung perjalanan belanja mereka, mulai dari riset produk, menafsirkan ulasan, hingga mencari promosi.

Temuan ini menandai perubahan nyata pada ekspektasi konsumen, ketika perangkat digital semakin melengkapi pengalaman belanja di toko. Perubahan ini mencerminkan ekspektasi konsumen yang terus berkembang. Mereka kini semakin terintegrasi dalam memanfaatkan kanal ritel fisik dan digital.

BacaJuga

AMSI: Kepentingan Perdagangan Internasional dan Perlindungan Industri Media Nasional Harus Imbang

Kesepakatan Tarif Indonesia-Amerika Serikat: Pola Baru Eksploitasi Negara Berkembang

Managing Director IBM Indonesia, Juvanus Tjandra, menyatakan meski banyak pembeli masih ingin melihat dan mencoba produk secara langsung, mereka kini datang ke toko dengan preferensi yang lebih terarah dan tujuan pembelian yang lebih jelas. “AI dimanfaatkan untuk melakukan riset produk sebanyak 41%, menafsirkan ulasan 33%, serta mencari penawaran terbaik 31%,” kata dia dalam keterangan, Selasa, 24 Februari 2026.

Selain memengaruhi riset sebelum pembelian, kata dia, teknologi juga mengubah standar ekspektasi konsumen terhadap pengalaman belanja secara menyeluruh. Sebanyak 35% responden masih menginginkan toko yang menarik secara visual dengan proses belanja tanpa antrean.

Namun, kata Juvanus, solusi berbasis AI kini hampir sama pentingnya. Satu dari tiga konsumen mencari super app yang mengintegrasikan belanja dengan berbagai layanan lain. Sebanyak 30%, kata dia, mengharapkan ekosistem rumah pintar dengan personal shopper berbasis AI serta pengiriman otonom, dan 29% menginginkan proses pembelian yang lebih mudah melalui platform sosial.

Ia menyatakan, tren ini sangat relevan bagi Indonesia. Berdasarkan data International Trade Administration, Indonesia merupakan pasar e-Commerce terbesar di Asia Tenggara, dengan kontribusi lebih dari 52% dari total volume bisnis online ASEAN. Pada 2023, nilai pasar diperkirakan mencapai USD 52,93 miliar dan diproyeksikan meningkat menjadi USD 86,81 miliar pada 2028. Data ini menegaskan peran platform digital yang semakin penting dalam perjalanan belanja masyarakat.

Juvanus mengatakan, industri ritel Indonesia telah memasuki fase transformatif yang penting. AI tidak lagi sekadar meningkatkan efisiensi, melainkan menjadi fondasi untuk membangun koneksi yang lebih mendalam, aman, dan cerdas, dengan konsumen yang semakin digital dan ingin selalu terhubung.

“Pelaku ritel yang mengintegrasikan AI ke dalam strategi data dan pengalaman pelanggan akan menentukan era pertumbuhan berikutnya,” ujar Juvanus.

Sektor perdagangan, lanjut dia, termasuk ritel, berkontribusi sekitar 12,96% terhadap PDB Indonesia, menegaskan perannya sebagai salah satu pilar utama perekonomian nasional. Didorong oleh pertumbuhan ekonomi yang kuat, kata dia, serta meningkatnya populasi konsumen muda yang adaptif terhadap teknologi, sektor ritel Indonesia terus mencatatkan pertumbuhan dan memberikan kontribusi signifikan terhadap PDB.

Ia mengatakan, dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa, Indonesia menawarkan pasar yang luas dan prospektif bagi pelaku ritel. Potensi ekonomi yang kuat serta perubahan perilaku konsumen membuka peluang pertumbuhan yang signifikan di industri ritel.

Seiring AI mengubah cara konsumen membuat keputusan, brand dan pelaku ritel perlu mengantisipasi perubahan dan merancang pengalaman yang lebih relevan untuk para konsumen. Di antaranya mendesain ulang perjalanan pelanggan dengan berfokus pada momen-momen keputusan di masa depan.

“Identifikasi titik di mana konsumen memanfaatkan AI untuk melakukan riset, membandingkan pilihan, dan mencari nilai, serta pastikan setiap momen tersebut terhubung secara mulus hingga tahap pembelian,” kata dia.

Selain itu, kata Juvanus, memanfaatkan agen untuk mengurangi ketidakpastian sejak tahap awal. Ia mengatakan, dengan menempatkan pencarian promo, interpretasi ulasan, serta dukungan untuk pembelanjaan personal yang dapat mempengaruhi proses pengambilan keputusan konsumen, bukan hanya untuk menurunkan beban layanan.

ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=ZF-vfVos47A
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.