Kikil atau tunjang dikenal sebagai makanan yang kaya kolagen. Kikil merupakan bagian jaringan ikat sapi berupa tulang rawan yang membungkus tulang maupun jari-jari kaki sapi tanpa bulu yang menempel di atasnya.
Meski kandungan lemaknya relatif rendah dibandingkan beberapa bagian daging sapi, konsumsi kikil tetap perlu dibatasi. Hal itu sebagaimana diungkapkan pakar gizi hasil ternak dan teknologi pangan dari Fakultas Peternakan IPB University, Astari Apriantini dalam keterangannya.
“Kikil memiliki rasa yang gurih dan mengandung gizi yang cukup tinggi, terutama protein. Protein pada kikil sebagian besar berbentuk kolagen,” ujarnya, Selasa, 10 Maret 2026.
Astari menjelaskan, sekitar 30 persen kandungan kolagen dapat ditemukan pada kikil hewan mamalia seperti sapi, kambing, dan kerbau. Dalam 100 gram kikil, kandungan protein dapat mencapai sekitar 96 persen, tidak mengandung karbohidrat, dan hanya sekitar empat persen lemak.
Menurutnya, kandungan kalori kikil juga relatif lebih rendah dibandingkan daging sapi karena komposisinya lebih banyak terdiri atas air dan kolagen. “Kalori pada kikil sekitar 146 kalori per 100 gram, sedangkan pada daging sapi berkisar antara 174 hingga 273 kalori,” jelasnya.
Selain protein, Astari menuturkan, kikil juga mengandung sejumlah mineral penting seperti natrium, selenium, zat besi, kalium, dan kalsium. Selenium berperan penting dalam menjaga fungsi sistem kekebalan tubuh, zat besi membantu mencegah anemia. Sementara kalium berperan dalam menjaga fungsi saraf, kontraksi otot, serta detak jantung yang normal. Kalsium, kata dia, juga penting untuk menjaga kepadatan tulang dan kesehatan gigi.
Meski kaya kolagen, ia menjelaskan tubuh tidak dapat menyerap kolagen dari makanan dalam bentuk utuh. Kolagen harus dipecah terlebih dahulu menjadi peptida agar dapat diserap melalui usus.
“Peptida hasil pemecahan kolagen ini kemudian digunakan tubuh sebagai bahan penyusun protein, misalnya untuk membantu pembentukan kulit, rambut, dan kuku,” katanya.
Kolagen memiliki berbagai manfaat bagi tubuh, antara lain membantu menjaga elastisitas kulit, memperkuat tulang dan sendi, serta mendukung kesehatan rambut dan kuku. Selain itu, kolagen juga berpotensi membantu mempercepat penyembuhan luka dan menjaga kesehatan jaringan tubuh.
Ia juga mengingatkan bahwa kikil juga mengandung purin yang dapat diolah tubuh menjadi asam urat serta kolesterol sekitar 79 mg per 100 gram. Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan daging sapi yang berkisar 65–90 mg, namun tetap perlu diperhatikan.
Kikil mengandung kolesterol dan purin dalam jumlah sedang. Sehingga konsumsinya sebaiknya dibatasi, terutama bagi orang dewasa, penderita asam urat, atau mereka yang memiliki riwayat penyakit metabolik.
Ia menyarankan satu porsi kikil sekitar 75 gram dalam sekali makan. Selain itu, kata dia, cara pengolahan juga perlu diperhatikan agar kandungan lemak, kolesterol, dan kalori tidak meningkat.
“Jika dikonsumsi dalam jumlah kecil dan diolah dengan cara yang lebih sehat, seperti direbus menjadi sop, soto, atau campuran bakso tanpa santan dan minyak berlebih, kikil masih aman untuk dinikmati sesekali,” tuturnya.

Discussion about this post