Kematian mendadak ikan dewa (Tor soro) di Kuningan yang hanya menyisakan sekitar 200 ekor menjadi perhatian serius IPB University. Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, Sri Nuryati, menegaskan penanganan harus diawali dengan pemeriksaan penyebab pasti, disertai perbaikan kualitas air dan peningkatan daya tahan tubuh ikan.
“Ikan merupakan organisme akuatik yang sangat bergantung pada kondisi lingkungan perairan. Jadi, apapun yang terjadi di air, itu akan sangat berpengaruh kepada kondisi fisiologis ikan,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kuningan, Jawa Barat, menyelidiki penyebab kematian ratusan ikan keramat di objek wisata Balong Girang, Kecamatan Cigugur, yang dilaporkan terjadi dalam beberapa hari terakhir. Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar di Kuningan mengatakan pihaknya sudah turun langsung ke lokasi untuk memastikan kondisi di lapangan sekaligus mengambil langkah penanganan cepat atas kejadian tersebut.
“Saya sudah cek, jumlahnya sudah di atas 150 ikan dewa sejak beberapa hari terakhir. Ini persoalan serius karena belum pernah terjadi kematian massal seperti ini,” katanya. Ia menyebutkan laporan awal yang diterima pemerintah daerah menunjukkan kematian ikan mulai terjadi sejak Rabu 28 Januari 2026 dengan jumlah sekitar 24 ekor, kemudian terus bertambah secara signifikan.
Sri Nuryati menjelaskan dalam laman IPB, insang sebagai organ yang langsung berinteraksi dengan air, menjadi bagian paling rentan terdampak perubahan kualitas lingkungan. Tingginya bahan organik, turunnya oksigen, serta perubahan suhu dapat memicu gangguan pada insang.
“Kondisi ini membuka peluang bagi mikroorganisme akuatik seperti bakteri, jamur, protozoa, maupun parasit multiseluler untuk menempel dan menginfeksi. Biasanya bakteri menjadi penginfeksi sekunder, sementara penginfeksi primer kadang berasal dari parasit, misalnya Lernaea sp.,” katanya.
Sri menyebutkan bahwa laporan awal di Kuningan (berdasarkan info di berita online) mengindikasikan adanya parasit cacing jangkar (Lernaea sp). Namun demikian, ia menegaskan penyebab pastinya harus melalui pemeriksaan laboratorium. Di samping itu, pemberian garam atau obat tanpa mengetahui penyebab utama sering kali tidak efektif.
Menurutnya, kolam yang tidak dikuras dalam waktu lama berpotensi menurunkan kualitas air. Sisa pakan yang tidak termakan akan terurai menjadi amonia yang bersifat toksik. “Amonia itu tidak baik, ikan tidak bisa mentoleransi ammonia pada konsentrasi tertentu. Itu bisa mengganggu dan akhirnya mati,” ungkapnya.
Kepadatan ikan yang melebihi standar juga memperbesar risiko stres dan penyakit. Dalam kondisi wabah, ia menyarankan pemisahan ikan yang masih hidup ke perairan dengan kualitas memenuhi baku mutu budi daya, disertai aerasi untuk mencukupi kebutuhan oksigen.
Tak hanya itu, perubahan suhu akibat hujan dapat menurunkan imunitas ikan. Ikan bersifat poikiloterm, yang berarti suhu tubuhnya bergantung pada lingkungan.
Perihal peluang pemulihan populasi ikan dewa, Sri menyatakan hal tersebut sangat ditentukan pada langkah penanganan. Ia merekomendasikan perbaikan manajemen kualitas air serta peningkatan imunitas melalui pakan yang mengandung imunostimulan dari bahan alami yang berkhasiat untuk imunostimulasi dan fitoterapi.
“Harus ada manajemen kesehatan ikan. Airnya dikelola dengan baik dan imunitasnya ditingkatkan,” ucapnya.

Discussion about this post