Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menggelar survei independen yang bertujuan untuk memperoleh wawasan para ahli ekonomi pada lanskap ekonomi Indonesia. Survei sekaligus memperkuat komitmen terhadap diskusi kebijakan yang berwawasan dan perkembangan masa depan negara.
• Survei ini secara khusus mengumpulkan persepsi para ahli mengenai kondisi ekonomi dan sosial, serta perkembangan kebijakan, dengan membandingkannya dengan periode sebelumnya dan mengevaluasi ekspektasi masa depan.
• Survei ini dilakukan dari 24 Februari hingga 9 Maret 2026 melalui platform survei online.
• Ini adalah semester pertama dari survei ahli ekonomi di 2026. Survei tahun 2025 dijalankan di Maret dan Oktober.
Sampel terdiri dari 85 ahli ekonomi dari berbagai latar belakang, dari akademisi, lembaga penelitian, think tanks, sektor swasta, dan organisasi/institusi multinasional. Para pakar berasal dari berbagai daerah di Indonesia: Jakarta, Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Banten, Gorontalo, Bali, Maluku Utara, Kalimantan Selatan, Lampung, Jawa Timur, dan Jambi.
Responden dari luar negeri berasal dari Australia, Inggris, Belanda, Selandia Baru, Singapura, Korea Selatan, dan Tiongkok, serta institusi multinasional.
Sebagian besar ahli, 41 dari 85 (48%), menilai bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini telah memburuk dibandingkan kuartal sebelumnya. Sementara itu, 32 (38%) tidak melihat adanya perbaikan maupun penurunan. Kecenderungan ini menyisakan hanya 12 (14%) yang menilai kondisi saat ini sebagai membaik.
Rata-rata respons sebesar -0,39 mencerminkan kecenderungan para ahli yang menilai perekonomian sedang memburuk atau stagnan, dengan skor keyakinan yang tinggi sebesar 7,37 dari 10. Hasil ini masih konsisten dengan persepsi survei sebelumnya pada Oktober dan Maret 2025, menunjukkan bahwa setelah tiga survei berturut-turut dalam rentang 18 bulan, para ahli masih meyakini bahwa kondisi perekonomian Indonesia tidak kunjung membaik.
Para ahli umumnya menilai bahwa tekanan inflasi terhadap perekonomian Indonesia meningkat dibandingkan tiga bulan lalu. Sebagian besar, yakni 57 dari 85 ahli (67%), menilai bahwa inflasi telah meningkat, sementara 23 (27%) melihatnya tidak berubah, dan hanya 5 (6%) yang menilainya mereda.
Rata-rata respons sebesar +0,71 mencerminkan kecenderungan yang jelas ke arah meningkatnya tekanan inflasi pada periode saat ini. Ini merupakan sinyal yang mengkhawatirkan, karena meningkatnya tekanan inflasi berarti harga barang dan jasa semakin tinggi, yang secara bertahap menggerus daya beli masyarakat Indonesia.
Hasil ini menunjukkan lonjakan yang cukup berarti dari rata-rata survei sebelumnya sebesar +0,47, mengindikasikan bahwa kekhawatiran para ahli terhadap inflasi tidak hanya bertahan tetapi juga semakin menguat. Skor keyakinan yang relatif tinggi sebesar 7,60 dari 10 menyertai penilaian ini.
Dalam mengevaluasi kondisi pasar tenaga kerja saat ini, sebagian besar ahli yaitu 30 dari 85 (35%) menilainya tidak berubah dibandingkan tiga bulan lalu. Namun, bobot mereka yang menganggap kondisinya semakin ketat sebesar 44 ahli (56%) cukup untuk menarik penilaian keseluruhan ke wilayah negatif, menyisakan hanya 11 (13%) yang menilai pasar tenaga kerja melonggar.
Rata-rata respons sebesar -0,55 mencerminkan pasar tenaga kerja yang oleh para ahli secara umum dinilai stagnan namun dengan kekhawatiran yang cukup berarti di baliknya. Skor keyakinan yang relatif moderat sebesar 7,46 tetap menunjukkan jawaban yang kuat dan pasti dari para responden.
Melemahnya pasar tenaga kerja umumnya menjadi pertanda meningkatnya pengangguran dan terhambatnya pertumbuhan upah, yang menekan pendapatan rumah tangga di seluruh penjuru negeri. Dengan memburuknya kondisi ekonomi dan inflasi yang lebih tinggi, stagflasi bisa menjadi ancaman nyata bagi perekonomian.
Para ahli umumnya menilai lingkungan bisnis saat ini memburuk dibandingkan tiga bulan lalu. Porsi terbesar, 38 dari 85 (45%), menilai kondisi lebih buruk, diikuti 25 (29%) yang melihatnya tidak berubah, dan 14 (16%) yang menilainya jauh lebih buruk. Dua kategori negatif ini secara gabungan menggambarkan iklim bisnis yang suram, dengan hanya 8 (9%) yang melihat kondisi membaik.
Rata-rata respons sebesar -0,67 dengan skor keyakinan yang relatif tinggi sebesar 7,66 mencerminkan kecenderungan negatif yang jelas dalam penilaian para ahli terhadap lingkungan bisnis saat ini. Hasil ini menunjukkan penurunan dari penilaian yang sempat membaik pada putaran sebelumnya (-0,45), mengonfirmasi bahwa perbaikan singkat dalam sentimen para ahli tidak bertahan lama karena kondisi kembali dinilai berada dalam lintasan menurun.
Para ahli menilai kondisi ekonomi saat ini secara umum sejalan dengan survei sebelumnya, dengan hanya satu indikator yang menunjukkan perubahan yang signifikan secara statistik. Kondisi ekonomi masih dinilai negatif seperti sebelumnya, dengan perubahan yang hampir tidak berarti. Hal yang sama berlaku untuk kondisi pasar tenaga kerja dan lingkungan bisnis, yang keduanya mengalami penurunan persepsi meski tidak signifikan secara
statistik.
Namun demikian, para ahli semakin meyakini bahwa tekanan inflasi terus meningkat belakangan ini, dengan hasil statistik yang signifikan mencerminkan keyakinan yang kuat di antara mereka.
Melihat ke depan dalam tiga bulan ke depan, para ahli umumnya memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi akan tetap tidak berubah dari angka terkini. Sebagian besar, yakni 36 dari 85 ahli (42%), berbagi pandangan ini, diikuti 28 (33%) yang mengantisipasi memburuknya kondisi dan 21 (25%) yang memperkirakan perbaikan.
Rata-rata respons sebesar -0,11 berada tepat di titik netral, mencerminkan ekspektasi kolektif akan stagnasi secara umum dengan kecenderungan sedikit ke bawah. Skor keyakinan yang relatif moderat sebesar 7,47 mengindikasikan adanya ketidakpastian di kalangan para ahli.
Prospek pertumbuhan yang lesu umumnya mengarah pada aktivitas bisnis yang stagnan dan pengeluaran konsumen yang berhati-hati dalam beberapa bulan ke depan. Angka ini mencerminkan sedikit perbaikan dari rata-rata putaran sebelumnya sebesar -0,13, meski perbedaannya sangat kecil dan tidak cukup untuk mengindikasikan pergeseran yang berarti dalam sentimen para ahli.
Para ahli secara bulat mengantisipasi bahwa tekanan inflasi akan meningkat dalam tiga bulan ke depan relatif terhadap angka terkini. Porsi dominan, yakni 64 dari 85 ahli (75%), memperkirakan tekanan akan meningkat, sementara 18 (21%) tidak melihat perubahan, dan hanya minoritas kecil sebesar 3 (4%) yang mengantisipasi mereda.
Rata-rata respons mencapai angka yang kuat sebesar 0,91 dengan skor keyakinan yang relatif tinggi sebesar 7,60, menunjukkan konsensus yang luas dan kuat bahwa inflasi akan semakin intens dalam waktu dekat. Para ahli sebagian mengaitkan prospek ini dengan ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung, karena gangguan pada rantai pasokan global dan pasar energi akibat konflik cenderung merambat ke tingkat harga domestik.
Hasil ini juga menandai peningkatan yang cukup berarti dari rata-rata putaran sebelumnya sebesar +0,55, mengindikasikan bahwa kekhawatiran para ahli terhadap inflasi tidak hanya bertahan tetapi juga terus berkembang.

Discussion about this post