Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

Mengendalikan Demam Berdarah Dengue Penyebab Kematian Tinggi

Pengalaman selama ini membuktikan intervensi tunggal tidak cukup untuk membendung penyebaran dengue.

by Admin
Wednesday, 11 February 2026
A A
DBD dan Malaria Masih Intai Masyarakat Indonesia

Demam berdarah. Sumber: Kementerian Kesehatan/2022.

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara Tjandra Yoga Aditama menyodorkan lima upaya untuk mengendalikan dengue. Ia memberikan pendapatnya ini sebagai respons atas Forum Regional Asia Tenggara untuk Pencegahan dan Pengendalian Dengue di Jakarta pada 9-10 Februari 2026. Kegiatan ini dihadiri perwakilan negara ASEAN.

Dengue atau demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit infeksi virus akut yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus. Penyakit ini umumnya berjangkit di daerah tropis atau subtropis yang menyebabkan demam tinggi mendadak (39-40°C), nyeri sendi dan otot, sakit kepala, dan ruam.

BacaJuga

Satu dari Dua Orang yang Menghadapi Kebutaan Akibat Katarak Butuh Akses ke Operasi

Penelitian Sebut Kopi Mengandung Senyawa Antidiabetik, Dosen UGM: Jangan Salah Kaprah

Buat Tjandra, kegiatan ini mengingatkannya ketika ia sebagai DirJen Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan. Menurut dia, Kementeerian Kesehatan pernah menyelenggarakan “ASEAN Dengue Conference” yang menghasilkan “Jakarta Call for Action on Combating Dengue”.

Kegiatan ini dicanangkan pada saat peluncuran resmi Hari Dengue ASEAN atau “ASEAN Dengue Day” tanggal 15 Juni 2011 di Museum Nasional Jakarta. “Peringatan hari Dengue ASEAN 2011 di Jakarta ini adalah yang pertama kali dilakukan,” kata dia.

Tjandra menyatakan, data Kementerian Kesehatan menunjukkan di tahun 2025 tercatat 161.752 kasus dengue dengan 673 kematian. Artinya angka kematian atau case fatality rate (CFR) sebesar 0,42%.

Artikel ilmiah yang dipublikasikan “International Journal of Infectious Diseases” September 2025 menyatakan angka kematian dengue dunia adalah 0.07%. Jadi angka kematian di Indonesia masih cukup tinggi. “Sehingga, untuk mencapai target “Zero Dengue Deaths” di tahun 2030 memerlukan perjuangan yang amat keras,” ucap dia.

Secara umum, menurut Tjandra, setidaknya ada sembilan langkah penting dalam pengendalian dengue. Pertama dan utama adalah pengendalian vektor, dalam hal ini nyamuk. Ada 3 faktor utama di sini: penerapan 3M plus secara konsisten dilakukan, upaya maksimal pengelola kesehatan, dan partisipasi aktif masyarakat.

Kedua adalah surveilans yang baik. Tentu program perlu disesuaikan dengan fluktuasi perubahan iklim dari waktu ke waktu. Ketiga adalah tiga upaya penanganan kasus, yaitu deteksi dini dengan terjamin ketersediaan alat diagnostik, “rapid diagnostic test” (RDT). Selain itu ada sistem rujukan yang baik, dan pelayanan yang baik di rumah sakit untuk kasus-kasus yang berat.

Keempat, perluasan cakupan dan mutu vaksinasi serta penggunaan pendekatan inovatif seperti nyamuk Wolbachia. Kelima adalah upaya respon penanganan wabah bila sudah terjadi. “Kelima hal di atas harus ditunjang dengan komitmen politik yang jelas untuk pengendalian dengue,” tutur Tjandra.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan tengah memfinalisasi Rencana Aksi Nasional (RAN) Pengendalian Dengue periode 2026–2029. Langkah strategis ini diambil sebagai respons terhadap tantangan urbanisasi dan perubahan iklim yang kian nyata. Ini sekaligus upaya mengejar target global “Nol Kematian akibat Dengue pada Tahun 2030”.

Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit (P2) Kemenkes, Murti Utami, menegaskan pengalaman selama ini membuktikan intervensi tunggal tidak lagi cukup untuk membendung penyebaran dengue.

Menurut dia, urbanisasi yang tinggi, perubahan iklim, dan peningkatan mobilitas masyarakat menuntut pendekatan yang lebih terintegrasi dan preventif. “Kita harus memadukan surveilans yang kuat, pelibatan masyarakat, kolaborasi lintas sektor, dan inovasi berkelanjutan agar selangkah lebih maju dari penyakit ini (Dengue),” kata Murti, dikutip dari laman Kemenkes.

Ia menyatakan, pertemuan ini dihadiri oleh pejabat tinggi kementerian kesehatan se-ASEAN, Sekretariat ASEAN, WHO, pemerintah daerah, sektor swasta, dan para ahli. Mereka sepakat untuk menyusun rekomendasi kebijakan terintegrasi demi melindungi sekitar 670 juta penduduk ASEAN dari ancaman demam berdarah.

Empat Pilar Utama Pengendalian Dengue sebagai implementasi dari pendekatan terintegrasi. RAN 2026–2029 akan berfokus pada empat pilar utama:

1. Meningkatkan deteksi dini dan diagnosis kasus agar penanganan dapat dilakukan sesegera mungkin.

2. Memperkuat tata laksana klinis dan sistem rujukan untuk menekan risiko kematian.

3. Memajukan pencegahan terintegrasi yang mencakup pengendalian vektor (nyamuk), pemanfaatan inovasi teknologi seperti Wolbachia, strategi vaksinasi, serta komunikasi risiko yang efektif kepada masyarakat.

4. Memperkuat sistem surveilans terpadu dan peringatan dini (early warning system) untuk memastikan respons cepat saat terjadi wabah.

“Seluruh upaya dalam empat pilar ini akan ditopang oleh tata kelola yang kuat, pembiayaan yang berkelanjutan, kemitraan strategis, serta riset dan inovasi yang terus-menerus,” kata Murti.

Melengkapi pilar itu, Direktur Penyakit Menular, Prima Yosephine, menekankan pentingnya integrasi dalam pelaksanaan di lapangan. Menurutnya, pencegahan tidak boleh hanya fokus pada satu aspek.

“Kita harus mengontrol lingkungannya, vektor nyamuknya, dan manusianya melalui vaksin. Ketiganya harus jalan bersamaan secara komprehensif. Jangan sampai kita bicara vaksin tapi lingkungannya dibiarkan kumuh,” kata Prima.

ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=ZF-vfVos47A
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.