Sri (67) terlihat kesulitan menuruni setiap anak tangga di salah satu stasiun di Jakarta. Sri mengeluh kakinya kesakitan saat menuruni anak tangga, tak beruntung, di stasiun tersebut Sri tak menemukan lift untuk mempercepat turun ke lantai bawah arah pintu keluar stasiun.
Sri mengaku sudah menjadi penyandang disabilitas fisik sejak 5 tahun terakhir. Tergolong lansia, Sri mengalami penurunan fungsi kaki namun belum harus membawa tongkat dan ia pun tak memakai kursi roda. Sayangnya, hal ini justru membuat Sri kesulitan. Meski di dalam gerbong kereta mendapatkan kursi prioritas, Sri merasakan peron KRL Jabodetabek masih terlalu jauh dan menyeramkan bagi lansia disabilitas fisik seperti dirinya.
“Peron masih belum ramah disabilitas, saya ketakutan setiap mau naik dan turun kereta, meskipun petugas gerbong membantu, jantung saya deg-degan kalau mau turun di stasiun,” tuturnya kepada Prohealth.id, Minggu (10/9/2023).
“Saya berharap bukan cuma kereta antar kota saja yang diberi layanan untuk penyandang disabilitas, bagi saya pengguna KRL Jabodetabek yang penyandang disabilitas karena sakit ini, juga mendapatkan layanan diskon 20 persen,” lanjut Sri.
Sri mengakui pelayanan Kereta Api Indonesia (KAI) semakin baik dari waktu ke waktu, namun menurutnya jika ingin membuat KRL ramah disabilitas, masih banyak yang harus diperbaiki terkait fasilitas penunjangnya.” Setiap stasiun harus ada lift, ini kadang ada stasiun yang tidak menyediakan lift naik turun,” pintanya.
Sri adalah satu dari penumpang disabilitas lain yang sedang memanfaatkan kebijakan dari PT Kereta Api Indonesia.
Dalam rangka memperingati Hari Perhubungan Nasional pada 17 September 2023 mendatang, PT Kereta Api Indonesia (KAI) memberikan diskon 20 persen bagi penyandang disabilitas.
“Potongan harga 20 persen berlaku untuk tiket kereta jarak jauh kelas eksekutif, bisnis, dan ekonomi, untuk keberangkatan mulai 17 September 2023,” kata VP Public Relations KAI Joni Martinus melalui keterangan tertulis, Minggu (10/9/2023) lalu.

Joni menuturkan, pemberian diskon tiket ini merupakan wujud kepedulian KAI terhadap masyarakat yang memiliki keterbatasan fisik, intelektual, mental dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama. Selain itu, tarif reduksi menjadi bagian dari implementasi komitmen perbaikan layakan yang terus dilakukan KAI.
Joni berharap KAI memudahkan penyandang disabilitas yang ingin berpergian dengan kereta api yang aman, nyaman, dan tepat waktu.
“KAI juga telah melengkapi berbagai fasilitas khusus bagi para disabilitas, baik ketika di stasiun maupun di dalam kereta api,” tutur Joni.
Tak Ada Kualitas Tanpa Fasilitas Pendukung
Pengamat Transportasi dari Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Muhammad Hadid memandang kebijakan memberi diskon 20 persen bagi masyarakat berkebutuhan khusus oleh PT. KAI perlu diapresiasi sebagai bentuk upaya untuk menarik masyarakat dengan kebutuhan khusus untuk menggunakan kereta api.
“Meskipun begitu, fasilitas untuk masyarakat dengan kebutuhan khusus (orang tua, ibu hamil, dan lainnya), seperti pembuatan jalur untuk orang tuna netra, ramp untuk kursi roda, kursi tunggu prioritas, sampai toilet khusus untuk masyarakat kebutuhan khusus di stasiun dan di dalam kereta tetap perlu dilengkapi,” katanya melalui pesan tertulis kepada Prohealth.id pada Jumat (15/9/2023).
Hal ini penting menurut Hadid karena kereta api merupakan fasilitas publik, sehingga seluruh lapisan masyarakat yang normal maupun yang memiliki kebutuhan khusus dapat menikmati pelayanan yang sama.
“Tidak hanya kereta api, semua fasilitas publik yang digunakan oleh masyarakat umum dari berbagai macam kondisi perlu dilengkapi dengan fasilitas untuk masyarakat yang memiliki kebutuhan khusus,” lanjut dia.
Oleh karena itu menurut Hadid, pemberian diskon kepada disabilitas tanpa meningkatkan fasilitas tak berdampak signifikan. “Pemberian diskon kepada masyarakat dengan kebutuhan khusus tanpa peningkatan fasilitas untuk mereka tidak akan memberi dampak yang signifikan dalam menarik masyarakat dengan kebutuhan khusus untuk menggunakan kereta,” ujarnya.
Hadid menilai sentimen positif masyarakat terhadap layanan KRL Jabodetabek memang mengalami kenaikan. Sayangnya, persepsi positif tersebut belum berarti pelayanan yang diberikan sudah optimal dan signifikan khususnya bagi kelompok rentan.
Ia pun menyarankan, pentingnya kajian komprehensif terkait kepuasan pengguna dan performa layanan diperlukan untuk mengukur kualitas pelayanan.
Namun secara keseluruhan ia menilai perkembangan yang ada saat ini cukup baik. Sebagai contoh penambahan jalur di Pulau Jawa yang awalnya single track menjadi double track sehingga memangkas waktu perjalanan, pembukaan rute kereta api cepat. Selain itu juga dibukanya beberapa rute kereta dalam kota seperti LRT dan MRT merupakan kemajuan yang baik.
“Ini karena kota metropolitan seperti Jakarta dan kota-kota besar lainnya hendaknya memilki sarana angkutan massal seperti LRT ataupun MRT sebagai moda utama transportasi publik untuk mengurangi kemacetan,” tandasnya.
Hadid berharap KAI sebagai penyedia layanan perlu melakukan evaluasi kelayakan fasilitas atau kebutuhan fasilitas disabilitas serta pelayanan yang ada di stasiun dengan melibatkan masyarakat sebagai pengguna.
“Dengan melibatkan masyarakat sebagai pengguna maka dapat diketahui prespektif dari pengguna mengenai pelayanan yang ada yang dapat menjadi masukan untuk peningkatan pelayanan dan fasilitas kedepannya,” ungkapnya.
Hadid juga memberi catatan terhadap kebijakan diskon 20 persen untuk disabilitas dalam upaya peningkatan pelayanan KAI dalam menyediakan fasilitas terjangkau untuk masyarakat yang memiliki kebutuhan khusus perlu diapresiasi.
“Komitmen ini perlu dijaga agar teman-teman yang memiliki kebutuhan khusus ini dapat merasakan palayanan yang layak mulai dari tiba ke stasiun asal hingga keluar dari stasiun tujuan. Oleh karena itu, peningkatan fasilitas untuk masyarakat difabel perlu ditingkatkan dan diterapkan diseluruh stasiun ataupun di atas kereta tanpa terkecuali. Memang perlu waktu untuk merealisasikan itu, namun harapannya perbaikan yang dilakukan konsisten,” tutupnya.
Hari Perhubungan Nasional makin dekat, seperti dikutip dari situs resmi PT KAI, berikut adalah cara lengkap mendapatkan diskon 20 persen bagi penumpang disabilitas.
Pertama, melakukan registrasi di customer service stasiun paling lambat H-2 keberangkatan kereta api.
Kedua, registrasi reduksi disabilitas wajib menggunakan surat keterangan asli dari dokter rumah sakit/puskesmas yang menyatakan bahwa yang bersangkutan adalah penyandang disabilitas.
Ketiga, registrasi dapat diwakilkan kepada orang lain dengan membawa surat keterangan asli dari dokter rumah sakit/puskesmas, KTP asli, dan pas foto milik penumpang reduksi disabilitas yang akan didaftarkan.
Keempat, registrasi reduksi ini dilakukan hanya sekali saja. Penumpang selanjutnya dapat membeli tiket dengan tarif reduksi melalui aplikasi Access H-45 atau di loket stasiun.
Kelima, saat proses boarding dan pemeriksaan di atas kereta api, pemegang tiket dengan tarif reduksi disabilitas wajib menunjukkan bukti KTP asli atau surat keterangan asli penyandang disabilitas.
Keenam, bila pada saat proses boarding dan atau pemeriksaan di atas kereta api tidak dapat menunjukkan KTP asli atau surat keterangan asli penyandang disabilitas, maka tiket dianggap hangus dan diturunkan pada kesempatan pertama.
Ketujuh, untuk mendapat informasi lebih lanjut terkait diskon bagi penumpang disabilitas atau layanan KAI lainnya, masyarakat dapat menghubungi Customer Service KAI di Stasiun atau Contact Center KAI melalui telepon di 121, WhatsApp 08111-2111-121, email cs@kai. id, atau media sosial KAI121.
Editor: Gloria Fransisca Katharina Lawi
Discussion about this post