Ni Made Shellasih telah aktif menjadi bagian Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia sejak Januari 2019 lalu. Sebagai peneliti di salah satu pusat riset di bawah naungan Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) UI itu, dara yang akrab disapa Shella mulai mengenal lebih jauh isu pengendalian tembakau.
“Pas gabung di PKJS langsung fokus ke kenaikan harga produk tembakau, jadi lebih banyak tahu,” ucap Shella kepada Prohealth.id, 4 Juni 2022 lalu.
Perkenalan perdana, alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini dengan isu pengendalian zat adiktif terjadi pada tahun 2016. Dia bergabung dengan Pergerakan Anggota Muda Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI).
“Kami waktu itu rutin melakukan kajian soal tobacco control, dan aku sempat jadi pengurus Jakarta dari 2016-2017, dan pengurus nasional sampai 2019,” tutur Shella mengenang awal mula terlibat dengan isu pengendalian tembakau.
Ketika menempuh pendidikan di SMA Negeri 3 Kota Tangerang Selatan medio 2011-2014, Shella sempat mendapat keresahan tentang rekan-rekannya yang merasa keren dengan merokok. Ia mengatakan sebagian temannya memilih tidak makan daripada tidak merokok.
“Jadi ada istilah mending lapar daripada tidak nyebat,” ujarnya.

Padahal, kata dia, iklan rokok tidak secara gamblang menawarkan produknya. Ia pun sempat bertanya-tanya mengapa iklan rokok yang hanya sekedar kata-kata bisa membuat anak muda begitu kepincut untuk mengkonsumsinya.
“Setelah aku terjun ke isu tobacco control akhirnya baru paham bahwa itu strategi industri untuk membuat anggapan bahwa merokok itu keren. Kena banget kesan mereka ke anak muda,” ujar Shella.
Fakta itu, kata Shella, terjawab dengan data Kementerian Kesehatan, dari hasil survei pada 5.125 siswa dalam rentang umur 13-15 tahun pada 2019 menunjukkan 40,6 persen siswa pernah mengkonsumsi tembakau dan/atau tanpa asap.
“Ada 39,6 persen pernah mengkonsumsi rokok atau jenis tembakau lainnya, lalu 2,9 persen pernah konsumsi tembakau tanpa asap, dan 7,9 persen tidak pernah merokok tapi rentan potensi merokok di masa yang akan datang karena tawaran dari temannya yang perokok,” urai Shella.
Menurut Shella, salah satu yang membuat dirinya miris ketika melakukan penelitian bersama tim PKJS, ia menemukan banyak keluarga yang mengalihkan anggaran kebutuhan rokok untuk membeli rokok. Padahal anak keluarga itu sudah stunting, tetapi bantuan sosial yang didapatkan malah digunakan untuk membeli rokok.
“Waktu itu ketemu keluarga pemulung, bapaknya sampai berhutang hanya untuk merokok, padahal pendapat hariannya tidak mencukupi untuk kebutuhan sekeluarga,” ucapnya.
“Aku tidak menyalahkan perokoknya karena mereka hanya korban dari adiksi, tapi aku harap masyarakat bisa lebih peduli dengan kesehatan,” kata Shella menambahkan.
Berbicara terkait kebijakan pemerintah, Shella mengkritik sikap beberapa kementerian yang saling lempar tanggung jawab dalam urusan pengendalian tembakau. Dia pun memberi contoh sikap tersebut yang terlihat dalam pembatasan iklan rokok di internet. Kementerian Komunikasi dan Informasi serta Kementerian Kesehatan terlihat tidak melakukan sinergi yang baik. Sehingga masih banyak berseliweran iklan rokok di ranah dunia maya.
“Walaupun aku sebenarnya harus mengapresiasi juga kinerja kementerian keuangan yang telah rutin menaikkan cukai tembakau, meski belum sesuai dengan harapan untuk bisa membatasi pertumbuhan perokok anak,” katanya.
Editor: Gloria Fransisca Katharina Lawi
Discussion about this post