Jakarta, Prohealth.id – Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Piprim Basarah Yanuarso, mengatakan bahwa stunting dan obesitas adalah dua faktor yang menghalangi tumbuh kembang anak. Ia mengatakan lewat teknik antropomentri atau studi tentang pengukuran tubuh dimensi manusia dari tulang, otot dan jaringan adiposa atau lemak maka faktor penghambat tumbuh kembang anak bisa dicegah.
“Panjang badan, berat badan menurut umur, dan berat badan menurut panjang badan, penting untuk melihat obesitas atau tidak. Kalau lebih dari tiga standar deviasi (SD), berarti masuk dalam kriteria obesitas,” tutur Dr. Piprim dalam diskusi daring, Selasa, 7 Maret 2023 lalu.
Ia menyorot bagaimana peningkatan tren obesitas di berbagai belahan dunia. Di Indonesia, pada 2007 angka obesitas pada usia 15 tahun ke atas masih 18,8 persen. Namun, pada 2018, angka tersebut melonjak menjadi 31 persen, dengan DKI Jakarta di tempat tertinggi kedua.

Melihat fakta tersebut, dr. Piprim mengatakan perubahan pola makan menjadi langkah pertama menangani anak obesitas sebelum memintanya berolahraga sesuai usia.
“Sebab pola makan ini jauh lebih besar daripada pola geraknya. Kalau anak obesitas susah kalau langsung disuruh olahraga berat. Jalan kaki saja berat badannya,” katanya.
Untuk pola makan, orang tua bisa berhenti memberi anak makanan rendah nutrisi seperti makanan cepat saji dan menggantinya dengan makanan alami atau real food. Piprim mengatakan anak-anak sebaiknya dikenyangkan dengan sumber protein hewani, misalnya nasi dengan banyak lauk berupa dadar telur, ikan, atau ayam. Jumlah protein yang ditingkatkan ini untuk mencegah anak-anak menyantap karbohidrat cepat serap seperti dari camilan rendah nutrisi.
“Anak jadi lapar terus dan kebanyakan kalori karena pilihan jenis makanannya keliru, terlalu sering diberi makanan yang indeks glikemik tinggi atau tinggi karbohidrat, gula, dan tepung,” ujarnya.
Pengaruh ke gula darah
Dampaknya, gula darah anak cepat naik kemudian cepat turun. Saat gula darahnya naik seperti roller coaster lalu turun menukik, anak akan merasa lapar lagi kemudian meminta makan kembali. Piprim mengakui memutus pola makan anak yang gemar menyantap makanan cepat saji dan minuman manis tidak mudah dan butuh dukungan orang tua.
“Mungkin minuman manisnya diganti pemanis non kalori seperti stevia yang sangat manis tetapi tidak ada kalorinya, bisa jadi alternatif pemanis untuk anak-anak yang obesitas. Bahkan, anak yang tidak obesitas pun boleh juga pemanisnya pakai stevia,” kata dr. Piprim.
Oleh sebab itu, pemberian air susu ibu (ASI) kepada anak sangat disarankan. Ini karena sering kali, orang tua kebablasan memberikan susu botol kepada anak, yang merupakan kebiasaan yang turut berkontribusi ke faktor obesitas. Ia menegaskan ASI juga dapat mencegah obesitas anak.
Makanan pendamping ASI (MPASI) dengan protein hewani juga patut diutamakan. Sebagai real food (makanan yang tak diproses), protein hewani yang dipadukan dengan serat dari sayur dan buah bisa mencegah stunting dan obesitas karena bisa mengenyangkan dalam waktu lama.
“Kalori tidak hanya sekadar kalori, tetapi lihat asal kalorinya. Jika miskin protein hewani, tidak baik untuk kesehatan anak-anak kita. Banyak makanan Indonesia yang real food, pepes ikan, rendang, opor, hingga pindang telur. Ini mengenyangkan. Tidak akan snacking,” tutur dr. Piprim.
Setiap 4 Maret, dunia memperingati Hari Obesitas Sedunia. Bukan hanya orang dewasa, obesitas bisa terjadi sejak masa kanak-kanak. Malah, tren obesitas pada anak-anak dikhawatirkan terus meningkat di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Dengan makin maraknya tren obesitas kepada anak, Ketua Unit Kerja Koordinasi Endokrinologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Muhammad Faizi, berpesan agar orang tua mencegah anak terkena obesitas sedini mungkin. Kalau pun anak terlanjur obesitas maka memodifikasi pola makan dan pola hidupnya bisa dilakukan sehingga bisa mengurangi dampak obesitas.
Kriteria anak obesitas bisa diukur melalui kurva pertumbuhan yang memperhitungkan penambahan tinggi badan. Ini berbeda dari orang dewasa yang berpegang salah satunya pada indeks massa tubuh (IMT).
Editor: Gloria Fransisca Katharina Lawi
Discussion about this post