Berbuka puasa bukan sekadar melepas lapar dan dahaga, tetapi juga momen penting untuk memulihkan energi tubuh setelah lebih dari 12 jam berpuasa. Pemilihan makanan, khususnya buah, menjadi faktor utama agar tubuh kembali bertenaga dan tetap sehat selama menjalankan ibadah Ramadan.
Guru Besar Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, Katrin Roosita, menjelaskan selama berpuasa tubuh mengalami keterbatasan asupan energi, terutama glukosa yang merupakan sumber utama energi bagi otak.
Ketika cadangan glikogen di hati menipis, tubuh akan beralih menggunakan asam lemak sebagai sumber energi alternatif. “Proses inilah yang menghasilkan keton, yang dapat dimanfaatkan oleh tubuh sebagai energi alternatif,” tuturnya.
Menurut Katrin dalam keterangan tertulis Sabtu, 21 Februari 2025, saat berbuka puasa agar segera mengisi kembali cadangan energi dengan sumber karbohidrat sederhana seperti glukosa dan fruktosa.
Kedua jenis gula alami ini banyak ditemukan dalam buah-buahan. Salah satu yang paling dianjurkan adalah kurma, yang memiliki kandungan fruktosa tinggi. Ia menambahkan fruktosa memiliki keunggulan dibandingkan glukosa yang berasal dari gula tebu atau tepung.
“Keunggulan fruktosa adalah tidak menyebabkan lonjakan kadar gula darah secara drastis, sehingga lebih aman, terutama bagi penderita diabetes,” ujarnya.
Selain itu, Katrin merekomendasikan buah dengan kadar air tinggi seperti semangka, melon, dan pepaya. Buah-buahan tersebut tidak hanya mengandung fruktosa, tetapi juga kaya akan air, vitamin, dan mineral yang membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh.
“Pepaya, misalnya, mengandung beta-karoten sebagai provitamin A yang bermanfaat bagi tubuh,” ungkapnya.
Di sisi lain, ia mengingatkan tidak semua buah cocok dikonsumsi saat perut kosong. Jeruk nipis sebaiknya dihindari karena tingkat keasamannya yang tinggi dapat mengganggu lambung.
Durian juga perlu dibatasi karena kandungan gulanya yang tinggi berpotensi memicu lonjakan glukosa darah. Sementara itu, nangka memiliki serat yang sulit dicerna dan dapat menyebabkan kembung, serta salak perlu dikonsumsi dengan bijak dengan tetap mempertahankan lapisan putih kulit arinya.
Katrin juga menyarankan konsumsi buah dua hingga tiga porsi per hari, setara 100–150 gram. Pola konsumsi ini membantu memenuhi kebutuhan glukosa, fruktosa, serat, vitamin, dan mineral.
Ia menegaskan, meski waktu makan selama Ramadan lebih singkat, asupan gizi tetap harus diperhatikan. “Agar tubuh tetap sehat dan bugar sepanjang ibadah puasa,” tuturnya.

Discussion about this post