Jakarta, Prohealth.id – Sebuah penelitian di China yang dimuat dalam Jurnal Ilmiah Toxics bulan Juni 2021 dengan judul “Large-Scale Spraying of Roads with Water Contributes to, Rather Than Prevents, Air Pollution”, menyebutkan bahwa penyemprotan air untuk menurunkan dampak polusi udara atau mencegah sebenarnya sama sekali tidak efektif. Sebaliknya, jurnal itu menyebutkan bahwa langkah tersebut justru menambah polusi.
Prof. Tjandra Yoga Aditama selaku Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI menyatakan, kebijakan pemerintah menandakan bahwa tidak ada bukti ilmiah yang pasti bahwa aksi penyemprotan air itu bisa mengurangi polusi udara. Apalagi, upaya penyemprotan air di Jakarta dalam kerangka polusi udara, berdasarkan data ilmiah menunjukkan hasil yang beragam.
Hasil penelitian secara lengkap menyebutkan “We discovered that spraying large quantities of tap or river water on the roads leads to increased PM2.5 concentration and humidity, and that daily continuous spraying produces a cumulative effect on air pollution. Our results demonstrate that spraying roads with water increases, rather than decreases, the concentration of PM2.5 and thus is a new source of anthropogenic aerosol and air pollution.”
“Jadi tegasnya penelitian ini menyatakan bahwa menyemprotkan air dalam jumlah besar ke jalan cenderung meningkatkkan konsentrasi PM2,5 dan juga kelembaban,” terang Prof. Tjandra melalui pesan singkat kepada Prohealth.id, Senin (28/8/2023).
Namun pada sisi lain, ada juga yang berpendapat berbeda, seperti dimuat di Jurnal Environmental Chemistry Letters volume tahun 2014, yang menyebutkan “I found that the water spray geoengineering method can reduce the PM2.5 pollution in the atmosphere very efficiently to 35 μg m−3 level in a very short time period from few minutes to hours or days, depending on the precipitation characteristics.”.
Penelitian dalam jurnal ini menyebutkan bahwa penyemprotan air secara geoengineering memang berpotensi menurunkan kadar polusi PM 2.5 secara efisien. Sayangnya metodologi penelitian tahun 2014 ini tidaklah selengkap penelitian dalam jurnal Toxic. Selain itu, penelitian dalam jurnal Toxic terbit pada tahun 2021 dengan hasil penelitian yang paling baru. Sehingga secara ilmiah seharusnya pemerintah bisa membandingkan ke dua penelitian itu sebelum mengambil keputusan.
Laporan penelitian lanjutan pada Maret 2022 yang dipublikasi di Jurnal ilmiah Proc. ACM Interact. Mob. Wearable Ubiquitous Technol juga memberi perspektif yang berbeda pula. Peneliti ini menggunakan metode iSpray atau Intellegent Spraying, suatu desain software baru tentang teknik penyemprotan air yang lebih baik.
Hasil penelitian mereka menyebutkan “iSpray reduces the total sprayer switch-on time by 32 percent, equivalent to 1, 782 𝑚3 water and 18, 262 𝑘𝑊 ℎ electricity in our deployment, while decreasing the days of poor air quality at key spots by up to 16 percent.” Artinya, iSpray dengan intelegensia memberi cara penyemprotan yang lebih efisien dan memberi dampak baik pula pada penanganan polusi udara.
Prof. Tjandra menjelaskan, India pernah juga mencoba menyemprotkan air di polusi udara kota New Delhi, tetapi tidak memberikan hasil yang memadai. Hal tersebut juga dituliskan di The Times of India pada November 2020 bahwa “Delhi: Spraying water may not get you clean air”. Media menyebutkan bahwa mungkin penyemprotan air akan ada gunanya hanya pada daerah yang sedang banyak membangun gedung dan banyak debu, yang kalau terbawa angin dapat menyebabkan large construction sites and locations with substantial dusty materials as dust can become airborne when winds pick up.
“Di pihak lain, di taman kota New Delhi seperti Nehru Park yang tidak terlalu jauh dari kantor KBRI kita, pernah pula dicoba disemprotkan semacam uap atau kabut air, melalui cerobong besar, jadi air dari tangki lalu disalurkan ke mesin dan disemprotkan sudah dalam bentuk uap atau kabut air, walau ini tentu juga belum ada kajian ilmiah yang tegas pula,” sambung Prof. Tjandra.
Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) ini mengingatkan bahwa pemerintah harus menganalisa secara ilmiah cara apa yang akan digunakan dan dilakukan untuk mengatasi polusi udara yang masih terus buruk pada hari-hari ini.
Tantangan pemerintah memang cukup besar mengingat erdasarkan data indeks kualitas udara (AQI), Jakarta berada di angka kisaran 170 atau masuk dalam kategori tidak sehat. Posisi ini memang tidak tetap, namun identifikasi kualitas udara di Jakarta dan sekitarnya tidak banyak berubah.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) polusi ini disebabkan oleh polutan PM2.5 yang adalah partikel udara berukuran lebih kecil atau sama dengan 2.5 mikrometer. Partikel 2.5 ini termasuk debu, jelaga, kotoran, asap, dan tetesan cair yang hanya dilihat dengan mikroskop elektron.
Serupa dengan Prof. Tjandra, Environmental Health Engineer dari University of Michigan Ivan S. Jayawan menyatakan kebijakan menyemprot air itu memang tidak dipastikan bisa mengurangi partikel PM 2.5 yang menjadi biang kerok polusi udara.
“Tidak ada efek dan jaminan penyemprotan mengurangi PM2.5,” tuturnya dalam XSpace dari CISDI pada 25 Agustus 2023 lalu.
Selain itu, Ivan juga menilai kebijakan menanam tanaman tidak bisa disebut sebagai solusi jangka pendek. Hal ini mengingat tumbuhan atau pohon hanya berfungsi untuk mengelola karbon dioksida bukan untuk menekan PM 2.5 dalam udara.
“Hal ini menunjukkan memang tidak terlihat ada komando soal polusi udara, kebijakannya beda-beda. Maka harus ada kolaborasi instansi, tapi tolong libatkan yang punya expertise di bidang polusi jangan sampai kebijakannya tidak sesuai. Jangan sampai jadi bahan lelucon di masyarakat,” tutur Ivan.
Penulis: Irsyan Hasyim & Gloria Fransisca
Discussion about this post