Pada tahun ajaran baru pemerintah telah menetapkan kegiatan belajar mengajar (KBM) dilakukan secara langsung dengan sebutan resmi Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Akan tetapi sejak awal Juni 2022, di Indonesia terjadi kenaikan angka Covid-19.
Kenaikan ini dipicu oleh subvarian baru yakni BA.4 yang sebenarnya sudah mulai dilaporkan pada Januari 2022 lalu di Afrika Selatan, dan diikuti dengan subvarian BA.5 pada Februari 2022. Di Indonesia, BA.4 dan BA.5 justru baru mulai menjadi perhatian pada akhir Mei 2022.
Data terbaru yang dikutip dari Satgas Covid-19, pada 17 Juli 2022, kasus aktif jumlah terpapar Covid-19 naik 27.550 kasus. Totalnya saat ini sudah 6.134.953 kasus dengan penambahkan konfirmasi kasus 3.540.
Berkaca dari kondisi tersebut, apakah PTM menjadi pilihan tepat untuk dilakukan saat tahun ajaran baru? Tim Prohealth.id selama kurang lebih satu pekan dari tanggal 8-14 Juli 2022 mengadakan survei kepada orang tua di seluruh Indonesia mengenai kebijakan PTM. Adapun responden yakni orang tua siswa yang memiliki anak usia Sekolah Dasar (SD) dan tersebar di beberapa kota di Indonesia.
Para responden diminta untuk mengisi survei ini guna mengetahui persepsi orang tua, terhadap penyelenggaraan PTM untuk anak-anak mereka di tengah kenaikan kasus Covid-19. Berikut temuan lengkap dari hasil survei persepsi.
Mengetahui ada kenaikan angka kasus Covid-19
Selama satu pekan penyebaran survei, terjaring 121 responden yang berpartisipasi dalam survei bertema ‘Survei Persepsi Orang tua terhadap Pembelajaran Tatap Muka’. Tercatat sebanyak 121 responden berpartisipasi dalam survei ini, ada 81 persen yang mengisi adalah para ibu, dan sisanya 19 persen yang adalah para ayah.


Mengenai kenaikan angka Covid-19, sebanyak 84,3 persen responden juga menyatakan tahu bahwa pada awal Juni 2022 ini ada kenaikan kasus. Bahkan ada 90,1 persen responden yang juga mengakui penyebaran subvarian baru dari Omicron yakni BA.4 dan BA.5. Menariknya, para responden mengaku mendapatkan informasi tersebut justru dari media sosial sebanyak 54,5 persen. Sedangkan televisi menempati urusan kedua sebagai sumber untuk mendapatkan informasi seputar perkembangan Covid-19 yaitu 50,4 persen.
Selain Covid-19, para orang tua juga mengetahui jenis penyakit infeksi lain yang berbahaya untuk anak seperti hepatitis akut, cacar monyet, flu singapura, dan lainnya yang tengah menyebar di masyarakat.
Edukasi anak mengenai prokes tetapi tidak optimal
Terkait dengan protokol kesehatan (prokes) Covid-19, semua responden atau sebanyak 100 persen mengaku tetap mengedukasi anak mereka mengenai hal ini. Namun tingkat edukasi yang besar tidak berbanding lurus dengan tingkat implementasi. Ada 51,7 persen atau 62 responden yang mengaku masih menjalankan protokol kesehatan sesuai arahan Kementerian Kesehatan.
Bahkan survei juga menemukan, hanya 56,7 persen atau 68 responden yang memiliki untuk konsisten mengingatkan anak menerapkan prokes. Angka ini mencerminkan bahwa tingkat ketaatan pada prokes cenderung menurun.
Mengenal bahaya subvarian Covid-19
Penyebaran subvarian Covid-19 memang cenderung beragam sehingga membuat publik lebih sulit untuk memahami dan menyikapinya. Menurut juru bicara satuan tugas Covid-19 Rumah Sakit (RS) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, dr Tonang Dwi Ardyanto, SpPK(K), PhD ada beberapa penyebab penyebaran subvarian Covid-19 sangat beragam dan perlu diwaspadai.
Pertama, seberapa lama dan seberapa banyak virus bisa bertahan dalam tubuh sekaligus berkembang. Semakin lama bisa bertahan, semakin banyak bisa berkembang, semakin tinggi peluang penularan dan munculnya varian baru.
Kedua, penyebaran juga dipengaruhi oleh kesempatan virus menular ke orang lain yang masih rentan karena belum memiliki antibodi kuat. Semakin banyak yang sudah memiliki antibodi kuat, semakin kecil peluang menular, dan semakin lambat kecepatan penularannya.
Lebih lanjut dia menjelaskan, SARS CoV-2 varian Wuhan dilaporkan memiliki R0 sebesar 3. R0 adalah sifat bawaan dasar pada suatu varian. R0 ini cenderung sama di semua tempat, karena sifat bawaan.
Namun setelah terjadi penyebaran, maka ada Rt yang menunjukkan R0 pada satu tempat dan waktu tertentu. Karena itu Rt bisa berbeda-beda antar satu tempat dan tempat lain. Begitu juga antara 1 waktu dengan waktu yang berbeda.
Sebagai perbandingan berikutnya, R0 Flu Spanyol adalah 1,8, Ebola sebesar 2 dan SARS sebesar 3. Kemudian R0 meningkat saat menyebar varian Alpha dan Beta. Saat menyebar varian Delta, nilai R0 adalah 5,1 atau sekitar 6. Saat menyebar varian Omicron BA.1, R0 nya dilaporkan 9,5 hampir sama dengan Chickenpox (R0 = 10). “Chickenpox kita kenal sebagai Cacar air disebabkan virus Varicella zooster.”
Dia pun menjelaskan, saat muncul sub varian BA.2, dilaporkan R0 sebesar 1,4 kali daripada BA.1 yaitu sebesar 13,3. Sekarang, pada subvarian BA.4 dan BA.5 dilaporkan juga sebesar 1,4 kali daripada BA.2 yaitu 18,6. Angka R0 18,6 ini bahkan melebihi R0 Measles atau campak, yang dilaporkan antara 12-18.
“Dengan kecepatan itu, maka sebenarnya jumlah kasus Omicron BA.4 dan BA.5 ini besar. Layak diduga lebih besar daripada Delta atau Omicron BA.1 dan BA.2,” tutur dr. Tonang.
Meski demikian ada beberapa faktor yang saat ini membuat kenaikan kasus Covid-19 belum setinggi yang diprediksikan.
Pertama, memang kalaupun benar terjadi penyebaran, tapi dengan sudah relatif banyak yang tervaksinasi atau pernah terinfeksi, maka diharapkan tidak berat kondisinya. Maka sangat mungkin luput dari perharian karena tidak sampai membutuhkan layanan di RS.
Kedua, karena cakupan tes PCR saat ini rendah. Jauh lebih rendah daripada saat varian delta. “Waktu itu, cakupan kita belum tinggi, tapi setidaknya cukup memotret jumlah kasus. Kalau saat ini, jumlah tes nya lebih rendah.”
Lantas, benarkan dua subvarian ini jauh lebih ringan daripada varian sebelumnya?
Menurut dr. Tonang, masyarakat perlu berhati-hati menyimpulkan hal ini. Perlu diingat jumlah virus dalam tubuh. Walaupun secara bawaan derajat sakit yang ditimbulkan rendah, tetapi bila jumlahnya meningkat dengan cepat di dalam tubuh, maka tetap ada risiko jebolnya pertahanan tubuh.
“Ini sama dengan ketika Omicron BA.2 ternyata bisa menimbulkan derajat lebih berat daripada BA.1, lebih karena kemampuan tumbuhnya lebih tinggi. Akibatnya, efeknya lebih signifikan daripada BA.1 kalau dibiarkan tumbuh berkembang,” sambung dr. Tonang.
Begitu juga pada BA.4 dan BA.5 yang kecepatan tumbuhnya lebih tinggi daripada BA.2 “Maka kita tetap harus hati-hati.”
Untuk menghambat kecepatan pertumbuhan di dalam tubuh itu ada dua Langkah taktis yang bisa dilakukan. Pertama, mencegah sesedikit mungkin masuknya Omicron BA.4 dan BA.5 ke dalam tubuh, termasuk tubuh anak-anak. Kedua, memperkuat daya tahan tubuh yakni antibodi maupun secara seluler, agar jika virus masuk, tidak bisa berkembang biak.
“Karena itu dua jalan yang harus kita lakukan. Pertama, sebaiknya tetap mengenakan masker setiap kali merasa tidak yakin atau khawatir paparan virus tinggi. Kedua, pastikan antibodi kita,” terangnya.
Tetap Setuju PTM Dilaksanakan
Meskipun para responden mengetahui saat ini terjadi kenaikan angka Covid-19, nyatanya banyak dari orang tua yang justru memilih PTM tetap diadakan. Sebanyak 84,2 persen responden tetap setuju PTM dilaksanakan untuk putra putri mereka.

Salah satu alasan paling dipilih untuk ini karena pembelajaran tanpa guru dirasa kurang efektif. Pilihan ini dijawab oleh 57 responden atau 55,3 persen.
“Tetap melakukan pembelajaran tatap muka tetapi harus dengan protokol kesehatan yang ketat. Karena melakukan pembelajaran dari rumah pun kurang efisien, karena anak lebih banyak main hp dibandingkan belajarnya,” tulis salah satu responden dalam survei.
Sejumlah responden juga menuliskan alasan untuk tetap melakukan PTM dengan syarat melengkapi semua vaksinasi sampai dengan booster. Ada juga responden yang mengimbau agar pembelajaran berlangsung secara hybrid yaitu luring maupun daring, sehingga tidak 100 persen luring agar meminimalisir risiko penularan penyakit.
“Walau kasus Covid-19 melandai, pakai masker dan tempat cuci tangan harus diterapkan. Kalau perlu setiap anak juga mengenakan face shield.”
Sementara yang menyatakan tidak setuju terhadap PTM karena alasan lain hanya 11 responden atau setara dengan 37,9 persen, sementara orang tua yang tidak setuju PTM karena takut anak tertular penyakit ada 10 responden atau setara 34,5 persen. Orang tua juga masih mencemaskan anak mereka tertular penyakit infeksius lain non Covid-19 misalnya hepatitis akut dan cacar monyet. Total persentase responden yang mencemaskan penyakit baru ini jumlahnya sama yaitu 34,5 persen dan dengan jumlah responden yang sama yaitu 10 orang.
“Kebersihan lingkungan sekolah juga sama pentingnya, terutama anak-anak juga ada kegiatan di luar kelas, sehingga dari pihak sekolah pun harus teliti dan sabar untuk terus menerus membantu mengingatkan anak didiknya agar tetap mengikuti protokol Kesehatan,” tulis salah satu responden.
Selain itu, ada responden yang juga menyoal kebersihan lingkungan sekolah khususnya toilet. Dengan penyebaran penyakit baru non Covid-19, para orang tua meminta sekolah untuk menjamin kebersihan dan higienitas lingkungan sekolah agar mengurangi potensi penularan penyakit pada anak.
Padahal ada 42,1 persen responden yang mengaku pernah tertular Covid-19 sepanjang pandemi berlangsung.
Selain itu, ada 27,3 persen responden yang mengakui bahwa anak-anak mereka pernah terinfeksi Covid-19. Meski demikian, orang tua tetap menunjukkan keinginan untuk membiarkan anak kembali ke sekolah.

Usulan untuk mengubah cara komunikasi
Dalam survei ini, Prohealth.id juga menemukan sejumlah usulan penting dari para responden terkait cara komunikasi risiko khususnya selama pandemi Covid-19 dan penyakit lainnya.
“Sebaiknya informasi mengenai kondisi yang pandemi dan lainnya yang terkait dengan masyarakat luas disampaikan dengan cara yang lebih informatif tidak hanya condong pada menakut nakuti. Karena pada dasarnya sebelum ada Covid-19, banyak penyakit lain yang sudah tersebar di lingkungan kita. Tapi kondisi stres dikarenakan informasi yang berlebihan justru cenderung lebih dapat mengakibatkan orang jatuh pada fase sakit yang dikarenakan stres atau rasa takut berlebihan.”
Ikut rekomendasi IDAI
Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI), dr Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K) mengatakan, subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 memang jauh lebih mudah menular dibanding varian awalnya, pada anak di Indonesia dan subvarian baru ini potensial menyebabkan gelombang kasus berikutnya. Data terkini menunjukkan adanya peningkatan kasus Covid-19 pada bayi dan anak yang membutuhkan perawatan.
“Selain itu juga ada peningkatan kasus Multisystem Inflammatory System in Children (MIS-C) dan potensi kasus Long Covid-19 pada anak di Indonesia,” katanya.
IDAI juga menyoroti dengan musim liburan panjang ini, kesadaran untuk mematuhi protokol kesehatan yang mengalami penurunan. Padahal anak memiliki risiko yang sama dengan dewasa untuk terinfeksi Covid-19, bahkan berpotensi mengalami komplikasi MIS-C dan Long Covid-19, sehingga pencegahan adalah yang utama.
“Kami juga menghimbau orangtua untuk tidak membawa anak ke tempat keramaian di masa liburan sekolah, serta mengajarkan anak supaya cakap dan disiplin menerapkan protokol kesehatan. Protokol kesehatan terbukti efektif mencegah berbagai penyakit infeksi, termasuk Covid-19, sehingga kebiasaan baik yang terbentuk selama masa pandemi harus dipertahankan, bahkan semakin ditingkatkan pada situasi adanya kenaikan kasus,” kata dr Yogi Prawira, SpA(K), Ketua Satgas Covid-19 IDAI.
IDAI berharap pemerintah meningkatkan 3T (testing, tracing dan treatment) serta menampilkan data terkini kasus Covid-19 terkonfirmasi secara akurat dan transparan, termasuk pada usia bayi dan anak.
Selain itu, IDAI juga meminta pihak sekolah, dinas pendidikan dan pemerintah daerah setempat berkolaborasi dengan orang tua dan dinas kesehatan dalam memastikan keamanan dan keselamatan anak, antara lain dengan melakukan testing pada anak dengan gejala Covid-19, dan patuh serta disiplin mengerjakan protokol Kesehatan, serta tidak membawa anak ke luar rumah apabila ada gejala demam, atau batuk, pilek, dan diare.
Protokol kesehatan terutama fokus pada: Penggunaan masker wajib untuk semua orang berusia di atas 2 tahun, mencuci tangan, menjaga jarak, tidak makan bersamaan. Penting pula orang tua dan pihak sekolah memastikan sirkulasi udara terjaga, serta mengaktifkan sistem penapisan aktif per harinya untuk anak, guru, petugas sekolah dan keluarganya yang memiliki gejala suspek Covid-19.
Editor: Gloria Fransisca Katharina Lawi
Discussion about this post