Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

Riset: Warga di Area Rawan Bencana Air Punya Ketangguhan Jangka Pendek

Hasil penelitian menemukan warga di area rawan bencana air di tiga kota yang diteliti pada umumnya cukup bahagia dan memiliki ketangguhan jangka pendek.

by Admin
Thursday, 26 February 2026
A A
Urgensi Anak Indonesia Belajar Tanggap Bencana

Bencana banjir. (Sumber: Canva/2023)

Konsorsium Resilient Indonesian Slums Envisioned (RISE) telah melakukan penelitian tentang banjir, kekeringan, dan sanitasi buruk di tiga kota rawan banjir sepanjang 2021-2025. Tiga kota itu Pontianak (Kalimantan Barat), Manado (Sulawesi Utara), dan Bima (Nusa Tenggara Barat) yang mengalami dampak urbanisasi dan perubahan iklim.

Principal Investigator Konsorsium RISE, Bagus Takwin mengatakan dalam keterangan pers, Kamis, 26 Februari 2026, penelitian itu bertujuan untuk menjelaskan fenomena banjir dan masalah air di area perkotaan. Selain itu, kata dia, penelitian juga untuk mengembangkan roadmap tata kelola inklusif, serta meningkatkan ketangguhan dan kebahagiaan.

BacaJuga

Perjanjian Dagang dengan Amerika Serikat Melemahkan Ekosistem Pers Indonesia

KPK Didesak Mengawasi Dapur MBG yang Dikelola Yayasan Berafiliasi Polri

Bagus berharap hasil riset dan pemodelan RISE dapat diadopsi oleh kota-kota dengan karakteristik serupa maupun mengarahkan kebijakan dalam mengatasi perubahan iklim dan bencana secara nasional. Terutama, kata dia, mengingat diproyeksikan bahwa penduduk Indonesia yang tinggal di kota akan mencapai 70% pada 2045 dan sebagian besar akan hidup di wilayah sekitar atau pinggirian kota.

“Kami meneliti Pontianak karena berada di titik khatulistiwa yang krusial dan mengalami banjir yang panjang sejarahnya. Dan makin lama makin padat urbanisasi,” kata Bagus.

Ia mengatakan Bima dan Manado juga mengalami persoalan banjir sebagai akibat perubahan iklim. Faktor lainnya yaitu karena belum banyak kajian tentang banjir dan sanitasi buruk di tiga wilayah tersebut.

Menurut Bagus, hasil penelitian sementara menemukan warga di area rawan bencana air di tiga kota yang diteliti pada umumnya cukup bahagia dan memiliki ketangguhan untuk jangka pendek. Namun, kata Bagus, dalam jangka panjang mereka belum mengindikasikan kemampuan untuk memelihara kebahagiaan dan kemampuan bertahan terhadap bencana.

“Itu yang perlu kita pikirkan, ke depan bagaimana meningkatkan resiliensi dan kebahagian mereka. Supaya bisa, bukan hanya menghadapi banjir, tapi bisa melakukan mitigasi,” ucap Bagus.

Penelitian itu telah dituangkan dalam produk pengetahuan seperti artikel jurnal, buku, ringkasan kebijakan, roadmap, dan modul penelitian. Menurutnya, penelitian dengan pendekatan transdisipliner ini cukup menantang karena para peneliti berasal dari beberapa negara dan disiplin ilmu yang berbeda. Antara lain dari Indonesia, Belanda, Amerika Serikat, dan India. Termasuk pelibatan warga dalam riset yang membutuhkan pendekatan khusus agar berjalan dengan baik.

Ia berharap ada penelitian terapan sebagai lanjutan dari penelitian ini supaya hasilnya bisa diterapkan di masyarakat. Termasuk sumber pendanaan untuk penelitian terapan tersebut.

Bagus juga menekankan perlu ada kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan kelompok akademis dalam penanganan bencana banjir serta dampaknya.

Principal Investigator Proyek RISE dari School of Social Sciences, Radboud University, Edwin de Jong menambahkan, hasil riset ini melebihi dari ekspektasi awal karena banyak publikasi yang telah dibuat tim riset. Baik dari sisi sosial, psikologi, antropologi dan disiplin ilmu lainnya.

“Kami mulai dengan sekitar 20 atau 30 orang dan akhirnya sampai pada 40 hingga 50 orang yang masih sangat terlibat dan mencoba untuk membuat dampak, serta perbedaan,” kata Edwin de Jong.

Ia menambahkan tim riset sedang mengembangkan project baru sebagai keberlanjutan dari program ini. Ia berharap dapat menemukan sumber daya baru karena riset ini masih setengah perjalanan.

Ketua Yayasan Bina Lentera Insan (LSM di Manado) Asep Rahman menilai riset ini penting karena menggunakan berbagai perspektif disiplin ilmu dan sesuai dengan kondisi di Manado. Namun, kata dia, yang menjadi tantangan adalah cara mengimplementasikan hasil riset tersebut menjadi kebijakan dan berdampak kepada masyarakat.

“Riset ini benar-benar menjadi bahan kebijakan, dan bagi kami NGO bisa menjadi bahan diskusi, sekaligus bahan advokasi ke pemerintah kota,” ujar Asep.

Ia menambahkan lembaganya juga siap membantu menindaklanjuti hasil riset tersebut. Salah satunya yaitu dengan membahasakan bahasa riset yang masih akademik menjadi bahasa yang lebih mudah dipahami masyarakat.

Ketua Divisi Perempuan Perkumpulan Gemawan (Pontianak), Siti Rahmawati menilai riset ini menarik karena hasil kerja kolaboratif multipihak, termasuk melibatkan pemerintah kota Pontianak. Isu dalam penelitian tersebut juga sesuai dengan kondisi di Pontianak yang memiliki masalah banjir dan kawasan kumuh.

“Sekarang penduduk lumayan padat, ada perpindahan dari kabupaten ke kota. Di Pontianak akhirnya padat dan muncul kawasan-kawasan kumuh,” tutur Rahmawati.

Begitu pula banjir yang terus bertambah titik-titik lokasinya, meskipun berlangsung sekitar 1-2 jam. Ia berharap pemerintah kota Pontianak memiliki program yang sejalan dalam penanganan banjir ke depan.

Program Development Manager Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial, Ilham B Saenong mengatakan, setidaknya ada tiga hal yang perlu dipenuhi agar rekomendasi riset dapat dijalankan para pemangku kepentingan. Pertama yaitu komitmen semua pihak untuk melanjutkan kolaborasi dari riset atau pengetahuan menjadi praktik yang berguna bagi masyarakat.

Proyek ini, kata dia, sudah menghasilkan beberapa model yang secara konseptual itu modelnya adalah sosial ekologi. “Artinya dengan lensa sosial ekologi, maka pendekatan pembangunan untuk mengatasi kerentanan dari kawasan kumuh perkotaan itu bisa dilakukan tidak hanya dengan membangun infrastruktur tapi juga bagaimana kondisi sosial, ekonomi dan ekologi warga,” kata Ilham.

Ia menambahkan masyarakat sipil juga perlu melakukan advokasi bersama di setiap daerah untuk memastikan kebijakan maupun program yang mendukung ketahanan dan kebahagiaan warga. Terakhir yang juga penting yaitu memperkuat kapasitas warga lokal maupun pemerintah lokal. Sebab, kata dia, tata cara pelaksanaan rekomendasi membutuhkan diskusi dan perencanaan yang lebih baik agar dapat berjalan secara partisipatif.

Kepala Bidang Riset dan Inovasi Daerah BAPPERIDA Kota Pontianak, Eko Prihandono, mengatakan pihaknya dalam menjalankan program atau kegiatan selalu berbasis data dan riset. Karena itu, hasil riset RISE penting bagi pemerintah kota sebagai bahan pertimbangan dalam membuat kebijakan.

“Ini sangat penting karena hasil riset akan memberikan rekomendasi disertai dasar-dasar kajian eko-prinsip (prinsip ekologis). Sehingga kebijakan yang kami ambil akan lebih tepat, berdaya guna untuk menyejahterakan masyarakat Kota Pontianak,” kata Eko.

Selanjutnya, kata Eko, pemerintah kota Pontianak akan menyosialisasikan hasil riset ini ke seluruh perangkat daerah dan pemangku kepentingan di Kota Pontianak. “Harapannya semua pihak bisa merumuskan agenda bersama dan mencapai hasil sesuai dengan yang diharapkan,” ucapnya.

RISE Project adalah inisiatif penelitian transdisipliner yang mengkaji ketahanan sosial-ekologis di permukiman kumuh Indonesia. Dengan fokus pada tiga kota studi – Bima, Manado, dan Pontianak – kegiatan ini mengembangkan pemahaman komprehensif tentang tantangan dan solusi berkelanjutan untuk komunitas urban yang rentan.

Proyek ini bertujuan untuk menambah pengetahuan tentang bagaimana membangun ketangguhan terhadap bencana yang berkaitan dengan air dan meningkatkan kebahagiaan masyarakat di permukiman kumuh di Indonesia. Pengetahuan yang diperoleh dari proyek lintas disiplin ini akan digunakan untuk mengembangkan program pendidikan dan pelatihan bagi para pembuat kebijakan dan pelaku di lapangan.

Proyek ini dibiayai oleh Dewan Riset Belanda (NWO) dan Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (RISTEKBRIN) melalui program MERIAN yang berfokus pada perencanaan wilayah dan urbanisasi berkelanjutan. Kami juga menerima dukungan pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Universitas Radboud, Universitas Indonesia, Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial, Deltares, dan Open University.

ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=ZF-vfVos47A
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.