Jakarta, Prohealth.id – Perdana Menteri Singapura mengambil langkah progresif terhadap perlindungan anak-anak dan masa depan negara. Singapura baru saja menegaskan rokok elektronik sebagai produk yang setara dengan narkoba.
Yayasan Lentera Anak pun ikut bergeming dalam keberanian Singapura yang tidak kompromi dengan industri rokok. Pemerintah Indonesia seharusnya mencontoh tindakan negara tetangga yang memikirkan perlindungan anak-anak dan masa depan kesehatan secara serius.
Lisda Sundari, Ketua Lentera Anak Indonesia menilai pemerintah harus berani memanfaatkan Peraturan Pemerintah (PP) No 28 tahun 2024 tentang Kesehatan. Utamanya dalam melindungi anak-anak dan masa depan.
Lisda menegaskan langkah berani Singapura menyetarakan vape dengan narkoba adalah tamparan keras bagi industri yang selama ini memasarkan rokok elektronik sebagai produk harm reduction. Narasi itu hanyalah ilusi yang menjebak anak-anak muda ke dalam adiksi baru.
“Sikap Singapura menegaskan bahwa perlindungan anak menjadi prioritas dan ini harus menjadi benchmark bagi negara lain. Termasuk Indonesia,” katanya kepada Prohealth.id, (27/8/2025) tentang tanggapan yang harus dilakukan pemerintah indonesia.
Lisda juga menyebut pemerintah Indonesia tidak boleh setengah hati dalam upaya melindungi anak-anak. Klausul di dalam PP 28 tahun 2024 seharusnya bisa untuk diterapkan secara tegas oleh institusi dan lembaga terkait. Namun masalahnya, selama ini industri rokok tak jengah dengan aturan di atas kertas. Contohnya; masih masifnya iklan rokok di berbagai jalanan utama, dan sekitaran sekolah.
“Pemerintah Indonesia harus ambil langkah cepat untuk menghentikan maraknya iklan, promosi, dan penjualan rokok dan rokok elektronik. Terutama di sekitar sekolah dan ruang bermain anak,” ujarnya.
Jumlah perokok elektronik semakin mengkhawatirkan. Terbukti dari ata Global Adult Tobacco Survey (2021) menyebut angka rokok elektronik sekarang menyentuh 6,2 juta pengguna. Dari jumlah itu 44 persen ditempati perokok di usia 18-29 tahun yang menempati peringkat tertinggi pengguna rokok elektronik.
Pekan lalu salah satu Youtuber Tyler Oliveira dari level mancanegara pernah membuat video investigasi rokok di masyarakat indonesia. Dalam video yang dibuat Oliveira belasan narasumber yang diwawancara masih membantah rokok tidak sehat.
Para perokok yang di wawancara Oliveira beralasan kebiasaan merokok sudah sejak dulu terjadi. Bahkan sebagian lagi mengaku tidak pernah terpikirkan untuk berhenti merokok. Video Oliveira sendiri banjir komentar masyarakat indonesia yang resah dan gelisah dengan indonesia yang tidak ramah dengan kesehatan, terutama untuk anak-anak dan masa depan.
Indonesia menempati angka perokok nomor tiga di dunia, dengan jumlah 70,2 juta sebagai perokok. Situasi dan kondisi yang mengkhawatirkan Lentera Anak mendorong pemerintah untuk mengatasi kondisi ini.
Editor: Gloria Fransisca Katharina Lawi
Discussion about this post