Kanker serviks merupakan salah satu penyakit yang menjangkit anak perempuan. Dilansir dari situs resmi Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, pasalnya 95 persen kanker serviks pada wanita disebabkan oleh virus HPV, yaitu virus papiloma atau human papilloma virus.
Masih dari situs yang sama, infeksi Human Papilloma Virus (HPV) biasa menyerang perempuan usia produktif. Infeksi ini dapat menetap, berkembang menjadi displasi atau sembuh sempurna. Setidaknya, ada dua golongan HPV yaitu HPV risiko tinggi atau disebut HPV onkogenik yaitu utamanya tipe 16, 18, dan 31, 33, 45, 52, 58, sedangkan HPV risiko rendah atau HPV non-onkogenik yaitu tipe 6, 11, 32.
Menurut Konsultan Ginekologi Onkologi, dr. Alexy Otoman Djohansyah, SpOG(K)Onk, dalam kegiatan Instagram Live yang diselenggarakan oleh Magdalene.id akhir Mei 2022 lalu, saat ini kanker serviks sedang paling berkembang jika dibandingkan kanker payudara, kanker ovarium, kanker kulit. Artinya kanker serviks ini sudah banyak terkuak. “HPV berkaitan dengan kanker serviks walaupun ada beberapa kanker serviks yang tidak berkaitan dengan HPV,” ungkap dr. Alexy.
Artinya, infeksi serviks HPV sudah termasuk penyakit risiko tinggi karena virus HPV ini membuat penyakit itu bertumbuh dan menjadi kanker di mulut rahim. “Ini [kanker serviks] adalah kanker mulut rahim primer yang disebabkan infeksi HPV yang persisten, terus menerus dan kronis. Jika terinfeksi itulah dia berisiko jadi kanker serviks,” sambung dr. Alexy.
Secara lebih rinci, dr. Alexy juga menjelaskan waktu pertumbuhan virus menjadi kanker sangat beragam. Sesuai dengan karakternya sebagai virus yang persistent, pertumbuhan kanker bisa memakan waktu lebih dari 10 tahun. Meski demikian, dalam sejumlah studi medis terbaru pertumbuhan menjadi kanker bahkan ada yang hanya memakan waktu kurang dari 10 tahun, yakni sekitar 3 tahun.

Cegah Serviks dengan Vaksinasi
Melihat tingginya potensi infeksi serviks pada anak-anak perempuan, Kementerian Kesehatan menambah vaksinasi serviks dalam jumlah imunisasi rutin wajib di Indonesia. Tak hanya vaksin HPV, pemerintah juga menambah dua jenis vaksin lain yaitu vaksin Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV), dan vaksin Rotavirus. Alhasil, dari 11 vaksin menjadi 14 vaksin rutin. Dengan masuknya vaksin HPV sebagai vaksinasi rutin, berarti masyarakat tidak perlu mengeluarkan biaya untuk mendapatkan vaksin tersebut, termasuk vaksin HPV.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan, guna mengoptimalisasi imunitas anak perempuan, vaksin HPV pada tahun ini diberikan di 131 kabupaten/kota di 8 provinsi, terdiri dari 4 provinsi di pulau Jawa dan 4 provinsi di luar pulau Jawa yakni Provinsi DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, dan Bali). Rencananya, vaksin HPV diwajibkan kepada anak perempuan kelas 5 dan 6 SD. Hal ini dilaksanakan dalam program kegiatan Bulan Imunisasi Anak sekolah (BIAS) yang dilaksanakan pada bulan Agustus setiap tahun.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan vaksinasi merupakan cara yang paling tepat dan murah untuk mencegah Kejadian Luar Biasa (KLB), termasuk salah satunya mencegah kematian. Dia menyebut ada dua masalah besar kesehatan di Indonesia. Pertama adalah kematian ibu, dan kedua kematian anak.
Adapun kematian ibu di Indonesia ternyata banyak diakibatkan oleh kanker, yakni kanker serviks dan kanker payudara. Sedangkan kematian anak paling banyak diakibatkan oleh infeksi dan yang paling tinggi adalah diare dan pneumonia.
“Vaksinasi merupakan salah satu intervensi kesehatan yang lebih murah dan lebih efektif daripada intervensi ketika seseorang sudah masuk perawatan di rumah sakit,” katanya pada konferensi pers Pekan Imunisasi Dunia di gedung Kemenkes, Jakarta, Jumat (22/4/2022) lalu.
Menyadari dirinya tidak memiliki pengalaman banyak di bidang kesehatan, Budi pun merumuskan kebijakan dengan melakukan intervensi kesehatan. Berlatar belakang manajemen dan perbankan, Budi mengambil langkah intervensi yang lebih murah dan lebih efektif. Adapun cara yang dia tempuh dan melalui kebijakan adalah dengan imunisasi.
Imunisasi atau vaksinasi adalah metode intervensi kesehatan di hulu yang cost-effective untuk menurunkan kesakitan, kecacatan dan kematian akibat penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
Dikutip dari siaran pers Kementerian Kesehatan, vaksinasi membuktikan Indonesia telah bebas dari penyakit cacar dan polio, mengeliminasi tetanus pada ibu dan bayi, serta menurunkan kasus campak dan rubella, salah satunya karena keberhasilan imunisasi.
“Kita cek ada vaksinnya untuk ibu itu vaksin kanker serviks, (vaksin) yang untuk kanker payudara belum ada. Selanjutnya untuk mencegah pneumonia pada anak dengan menggunakan vaksin PCV dan diare ada vaksin rotavirus,” sambung Budi.
Sebenarnya vaksinasi HPV sudah dilakukan cukup lama, dan sebelumnya sudah dilakukan di sejumlah kabupaten/kota, salah satunya di Yogyakarta.
“Jadi di daerah-daerah seperti Yogja itu sudah dilakukan dan hasilnya baik. Kita ingin agar ini (vaksinasi HPV) cepat-cepat bisa diluncurkan secara nasional untuk bisa menurunkan kematian ibu yang disebabkan oleh serviks cancer, karena kanker makin lama makin naik kematiannya di Indonesia,” ucapnya.
Sementara itu, Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kemenkes RI dr. Maxi Rein Rondonuwu menambahkan introduksi vaksinasi HPV telah dilakukan di beberapa kabupaten atau kota.
“Itu hasilnya baik mengurangi insiden daripada kanker serviks. Makanya kami perluas tahun ini arahan pak menteri untuk menambah di 8 provinsi jadi 4 provinsi di Jawa dan Bali, dan 3 provinsi di Sulawesi (Provinsi DKI Jakarta, D.I Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, dan Bali) yang ditargetkan selesai tahun 2022,” tutur Maxi.
Mengenal Metode Vaksinasi HPV
Menyoal jenis vaksin HPV, Konsultan Ginekologi Onkologi, dr. Alexy Otoman Djohansyah, SpOG(K)Onk., mengatakan seperti halnya beragam jenis vaksin Covid-19, jenis vaksinasi HPV yang dipakai saat ini adalah jenis rekombinan. Vaksin dengan metode rekombinan, lanjut dr. Alexy, bukan berasal dari virus yang dilemahkan. Sebaliknya, vaksin HPV ini berasal dari hasil copy materi genetik virus ke protein tertentu yang selanjutnya disuntikkan ke tubuh sebagai vaksin.
Sebagai dokter dan konsultan kesehatan, dr. Alexy mengakui program vaksinasi HPV selain pernah diujicobakan di Yogyakarta juga pernah dilakukan di DKI Jakarta dengan fokus penyuntikan untuk anak-anak perempuan siswi SD kelas 4-5. Hanya saja, dia menilai program tersebut tidak berkesinambungan.
“Padahal ini penting disuntikkan sedini mungkin, khususnya ke anak-anak sekolah untuk pencegahan sebelum mereka melakukan aktivitas seksual, dan antibodinya sudah terbangun,” ungkap dr. Alexy. Dia menjamin, anak SD yang menerima suntikan saat usia dini akan punya antibodi yang tinggi meski hanya mendapat dua suntikan dibandingkan usia dewasa yang harus mendapat tiga kali suntikan.
Dia juga mengingatkan vaksinasi HPV tidak lantas membebaskan perempuan dari ancaman kanker serviks. Pasalnya, efektivitas vaksin HPV akan berkurang jika seseorang tetap saja melakukan gaya hidup tidak sehat, kurang bersih terutama dalam melakukan aktivitas seksual. Oleh karenanya diperlukan gaya hidup sehat dan higienis, terutama dalam perilaku seksual.
Penulis: Gloria Fransisca Katharina Lawi
Discussion about this post