Serangan terhadap aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Andrie Yunus mendapat perhatian sejumlah media internasional. Mereka pada umumnya mengecam tindakan brutal dan biadab itu. Berita seputar teror kepada Andre ini mereka muat pada Selasa, 13 Maret 2026, dan sejak peristiwa ini terungkap pada Sabtu lalu.
Kantor Berita Reuters, misalnya, menurunkan tulisan penyiraman air keras yang mendapat kutukan dari banyak pihak. “Penyelidikan atas serangan asam terhadap aktivis Indonesia sedang berlangsung di tengah meningkatnya kecaman,” demikian judul Reuters.
The Independent memuat judul, “Kecaman muncul setelah seorang aktivis Indonesia terluka parah dalam serangan air keras: ‘Upaya untuk membungkam suara-suara kritis”. Media ini mengutip berita dari Reuters. Media lain, ABC Asutralia, membuat judul, “Aktivis hak asasi manusia Indonesia, Andrie Yunus, diserang dengan asam di jalanan Jakarta.”
Adapun media berbasis negeri jiran Singapura, The Straits Times, menayangkan berita berjudul, “Polisi Indonesia sedang mencari empat tersangka terkait serangan air keras terhadap seorang aktivis.” Ada banyak media asing lain yang memberitakan kasus Andrie ini dengan suara kritis.
Reuters menyatakan polisi Indonesia pada hari Senin sedang menyelidiki serangan air keras terhadap seorang aktivis yang dikenal karena penentangannya terhadap peran militer yang semakin meluas dalam urusan sipil. Insiden ini menuai kecaman dari kelompok hak asasi manusia lokal dan internasional.
Menurut Reuters, mekhawatiran atas erosi nilai-nilai demokrasi telah meningkat di Indonesia, negara demokrasi terbesar ketiga di dunia. Keterlibatan militer di bidang sipil dan bisnis milik negara telah meningkat secara signifikan di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, seorang jenderal purnawirawan.
Isu ini menjadi faktor dalam kerusuhan nasional yang melanda Indonesia pada bulan Agustus dan September tahun lalu. Isu ini membesar setelah pasukan keamanan membunuh seorang pengemudi ojek di dekat demonstrasi, yang memicu kerusuhan dan penangkapan massal.
Kepala hak asasi manusia PBB Volker Turk dalam sebuah unggahan X pada hari Sabtu menggambarkan serangan itu sebagai “mengerikan” dan menyerukan pertanggungjawaban atas apa yang merupakan “tindakan kekerasan yang pengecut”.
Lebih dari 170 kelompok masyarakat sipil di Indonesia, termasuk Amnesty International, menuduh serangan itu bertujuan untuk membunuh Andrie, menyebutnya sebagai intimidasi terhadap pembela hak asasi manusia.
Pada hari Senin, pejabat kepolisian Jakarta Iman Imanuddin mengatakan penyelidikan sedang berlangsung, dengan petugas memeriksa rekaman CCTV yang menunjukkan Andrie telah diikuti oleh pelaku yang tidak dikenal sebelum serangan itu.
Komisi parlemen yang mengawasi hak asasi manusia menyebut serangan itu sebagai pelanggaran komitmen Prabowo terhadap hak asasi manusia, sementara Menteri Hukum Yusril Ihza Mahendra pekan lalu mengatakan insiden itu “merupakan serangan terhadap demokrasi itu sendiri.”
“Aktivis hak asasi manusia bekerja untuk kepentingan rakyat dan negara, karena perlindungan hak asasi manusia dan demokrasi adalah amanat konstitusional,” katanya.
Made Supriatma, seorang peneliti tamu di ISEAS-Yusof Ishak Institute di Singapura, mengatakan serangan itu dimaksudkan untuk membungkam para kritikus dan mencegah kebangkitan kembali protes. “Ini adalah tembakan peringatan bagi kita semua,” katanya.

Discussion about this post