Virus Nipah adalah virus yang ditemukan pada hewan tetapi juga dapat menyerang manusia. Orang yang terinfeksi dapat mengalami demam, dan gejala yang melibatkan otak seperti sakit kepala atau kebingungan, dan/atau paru-paru, seperti kesulitan bernapas atau batuk.
Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan surat edaran (SE) tentang kewaspadaam terhadap penyakit virus Nipah. SE terbit sebagai upaya pemerintah mengantisipasi penularan virus yang telah menjangkiti sejumlah negara ini.
Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, Murti Utami menyatakan penyakit virus Nipah merupakan penyakit zoonotik emerging yang disebabkan oleh virus Nipah, anggota genus Henipavirus dan famili Paramyxoviridae.
Virus ini memiliki reservoir alami pada kelelawar buah yang dapat menularkan virus ke manusia secara langsung atau melalui perantara hewan lain seperti babi. “Virus ini juga bisa menular melalui konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi virus, misalnya buah atau nira,” kata Murti dalam SE itu, ProHealth mendapatkannya, Kamis, 5 Februari 2026.
World Health Organization (WHO), badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menghubungkan negara, mitra, dan masyarakat untuk meningkatkan kesehatan, menyatakan, kasus infeksi virus Nipah pertama kali dilaporkan pada tahun 1998 dan sejak itu telah dilaporkan di Bangladesh, India, Malaysia, Filipina, dan Singapura. Tingkat kematian kasus diperkirakan antara 40% hingga 75%.
Kelelawar buah dari famili Pteropodidae adalah inang alami virus Nipah. Virus Nipah biasanya menular dari kelelawar dan hewan lain yang terinfeksi ke manusia dan juga dapat menular langsung antar manusia.
Saat ini belum ada pengobatan atau vaksin yang tersedia untuk virus Nipah, namun beberapa kandidat produk sedang dalam pengembangan. Perawatan suportif intensif sejak dini dapat meningkatkan angka harapan hidup.
Apa virus Nipah?
Virus Nipah adalah virus zoonosis, biasanya ditularkan dari hewan ke manusia, tetapi juga dapat ditularkan melalui makanan yang terkontaminasi atau langsung antar manusia.
Virus Nipah pertama kali diidentifikasi pada tahun 1998 selama wabah di antara peternak babi di Malaysia. Pada tahun 1999, wabah dilaporkan di Singapura setelah impor babi yang sakit dari Malaysia. Tidak ada wabah baru yang dilaporkan dari Malaysia atau Singapura sejak tahun 1999.
Pada tahun 2001, wabah infeksi virus Nipah terdeteksi di India dan Bangladesh. Di Bangladesh, wabah telah dilaporkan hampir setiap tahun sejak saat itu. Di India, wabah dilaporkan secara berkala di beberapa bagian negara, termasuk yang terbaru pada tahun 2026. “Pada tahun 2014, wabah dilaporkan di Filipina dan tidak ada kasus baru sejak saat itu,” demikian pernyataan WHO, yang dikutip ProHealth, Kamis 5 Februari 2026.
Bagaimana penularannya?
WHO mnyatakan, kelelawar buah dari famili Pteropodidae dianggap sebagai inang alami virus Nipah dan terdapat di berbagai bagian Asia dan Australia. Kelelawar buah Afrika dari genus Eidolon, famili Pteropodidae, telah ditemukan memiliki antibodi terhadap virus Nipah dan Hendra, yang menunjukkan bahwa virus-virus ini mungkin juga ada dalam sebaran geografis kelelawar Pteropodidae di Afrika.
Infeksi virus Nipah tampaknya tidak menyebabkan penyakit pada kelelawar buah. Penularan virus ke manusia dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi seperti kelelawar, babi, atau kuda, dan dengan mengonsumsi buah-buahan atau produk buah, seperti jus kurma mentah, yang terkontaminasi oleh kelelawar buah yang terinfeksi. “Virus ini juga dapat menyebabkan penyakit parah pada hewan ternak seperti babi,” kata pernyataan WHO.
Virus Nipah juga dapat menyebar antar manusia. Virus ini telah dilaporkan di lingkungan perawatan kesehatan dan di antara keluarga serta pengasuh orang sakit melalui kontak dekat. Di fasilitas kesehatan, risiko penyebaran dapat meningkat di lingkungan rumah sakit yang padat, berventilasi buruk, dan dengan implementasi tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi yang tidak memadai. Ini seperti penggunaan alat pelindung diri, pembersihan dan disinfeksi, serta kebersihan tangan.

Discussion about this post