• Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
Selasa, Oktober 27, 2026
  • Login
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

Waspadai Modus Penculikan Anak di Sekolah, Ahli Ingatkan Pentingnya Pengawasan di Gerbangnya

Gerbang sekolah merupakan salah satu titik penting dalam perlindungan anak karena menjadi tempat bertemunya anak, orang tua, penjemput, dan orang lain, terutama pada jam pulang sekolah.

by Tim Prohealth
Senin, 5 Oktober 2026
A A
Hidup dalam Kepulan Truk: Elektrifikasi Tersangkut Harga dan Kebijakan

Anak-anak SDN Cakung Barat membeli jajanan di depan gerbang sekolah. Foto: Dian/Prohealth

Dugaan modus penculikan anak di sekitar gerbang sekolah kembali mencuat. Dari postingan yang beredar di media sosial, pelaku mencoba mengintip nama anak di buku/tas agar bisa pura-pura mengenali untuk menjemput si kecil.

Dalam situasi seperti ini, kewaspadaan terhadap keselamatan anak perlu ditingkatkan. Namun, di waktu yang sama, masyarakat juga diimbau untuk tidak langsung menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

BacaJuga

Mengapa Indonesia Menolak Pernyataan Resmi Pengendalian Tembakau dan Hipertensi di RC77

KPAI: Tragedi Kekerasan Anak Jangan Hanya Lahirkan Aturan Reaktif

Kepala Pusat Kajian Gender dan Anak (PKGA) IPB University, Yulina Eva Riany, mengatakan gerbang sekolah merupakan salah satu titik penting dalam perlindungan anak karena menjadi tempat bertemunya anak, orang tua, penjemput, dan orang lain, terutama pada jam pulang sekolah.

Orang tua dan sekolah perlu membangun sistem pengawasan berlapis. Hal ini dapat dilakukan dengan memperketat prosedur penjemputan, memastikan perubahan penjemputan dikonfirmasi, serta menentukan area aman bagi anak yang belum dijemput.

Jika terdapat pendekatan yang mencurigakan, pihak sekolah perlu mencatat dan memeriksa kejadian tersebut, menghubungi orang tua, serta melapor kepada pihak berwenang apabila terdapat ancaman.

Selain memperketat pengawasan, orang tua perlu membekali anak pemahaman khusus terkait batas aman atau body safety dan privasi sejak dini. Seseorang yang tahu nama anak belum tentu merupakan orang yang diizinkan untuk menjemput atau mengajak mereka pergi.

Anak perlu mengetahui informasi pribadi yang harus dijaga, seperti nama lengkap, alamat, nama orang tua, nomor telepon, kelas, hingga jadwal dan cara pulang sekolah.

“Edukasi ini dapat dilakukan melalui simulasi atau bermain peran agar anak terbiasa menghadapi situasi ketika seseorang yang tidak dikenal menanyakan informasi pribadi,” katanya.

Yulina juga mengingatkan agar edukasi kepada anak tidak dilakukan dengan menanamkan ketakutan terhadap semua orang asing. Anak perlu diajarkan untuk mengenali perilaku dan situasi yang tidak aman, bukan sekadar menilai seseorang dari penampilannya.

“Anak boleh menolak ajakan, hadiah, atau permintaan untuk pergi bersama seseorang tanpa izin orang tua atau guru, sekalipun orang tersebut terlihat ramah atau mengaku mengenal keluarga,” ucap Yulina.

Ia melanjutkan, keterampilan penting lainnya adalah kemampuan berkata “tidak”, mengambil jarak, mencari bantuan, dan melaporkan kejadian kepada orang dewasa yang dipercaya. Anak juga perlu mengetahui tempat dan orang yang aman untuk meminta pertolongan, seperti guru, petugas keamanan, atau petugas sekolah.

“Anak tidak perlu memastikan lebih dulu apakah seseorang berniat buruk. Jika ada ajakan pergi, perubahan rencana penjemputan, permintaan merahasiakan sesuatu dari orang tua, atau tindakan yang membuatnya tidak nyaman, anak boleh langsung kembali ke guru atau petugas sekolah,” ucapnya.

Di sisi lain, orang tua juga perlu menciptakan ruang aman agar anak tidak takut bercerita ketika mengalami situasi yang membuatnya tidak nyaman. Dengan edukasi yang konsisten, komunikasi terbuka, serta pengawasan bersama antara keluarga dan sekolah, anak dapat memiliki keterampilan untuk mengenali situasi berisiko dan mengambil tindakan perlindungan diri.

Tags: body safetygerbang sekolahipb universitymodus penculikan anakPKGA
ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=6npF_Ocn5bw&t=138s

Pos-pos Terbaru

  • Ayah Mengambil Peran dalam Imunisasi
  • Cek Residu Pestisida dan BPA Semudah Ukur Gula Darah
  • Kabaena-Raja Ampat: Masyarakat Sipil Desak Perlindungan Keanekaragaman Hayati dan Hak Masyarakat Adat
  • Koalisi Masyarakat Sipil Batam: Hentikan Represi dan Kriminalisasi Terhadap Pers dan Warga Sipil
  • Kemenkes dan IDI Perkuat Wujudkan Reformasi Pembiayaan Kesehatan dan Perlindungan Tenaga Medis
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.