• Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
Senin, November 2, 2026
  • Login
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

Kala Tata Niaga Buruk sampai Ancaman Bencana Dorong Petani Tembakau Klaten Beralih ke Tanaman Lain (Bagian 2)

by Prohealth
Jumat, 30 April 2021
A A
Kala Tata Niaga Buruk sampai Ancaman Bencana Dorong Petani Tembakau Klaten Beralih ke Tanaman Lain (Bagian 2)

Sukiman menunjukkan betapa subur tanaman kopi arabika khas Merapi. Foto: mongabay.co.id/Tommy-Apriando

Sukiman Mohtar Pratomo, tampak sibuk menyemai bibit kopi Arabika di belakang rumahnya di Desa Deles, Kecamatan Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, medio Juni 2017.

Dia berangan ingin mengembalikan kejayaan kopi Merapi pada 1990-an. Harga kopi murah, sempat membuat petani beralih ke tembakau.

BacaJuga

Bali Butuh Rp623,28 Triliun untuk Capai Emisi Nol Bersih 2045

Riset: Pemotongan Komisi Ojol 8% Belum Efektif Tingkatkan Kesejahteraan Driver

Pada 2003, dia mulai memilih tak lagi tanam tembakau, beralih ke berbagai macan sayur dan kopi Arabika. “Harga tembakau tak jelas. Di desa ini petani tembakau rugi hingga tak kembali lagi,” katanya.

Tak semua warga berpindah tanam sayur dan kopi, masih tanam tembakau sebagai selingan. Bagi petani,  yang mengutungkan akan mereka pilih. Sayur dipilih karena bisa dipanen tiap bulan, jikapun tak laku dimakan sendiri atau dibagikan pada tetangga.

Di 3.000 meter persegi luas lahan Sukiman, tak ada tembakau. Ada  410.000 meter persegi lahan pertanian warga dua rukun warga di desa itu. Hanya sekitar 0,5% petani tembakau di Deles. “Mereka beralih sendiri, saya tak mengajak,” katanya.

Alasan lain memilih kopi dan sayur, kata Sukiman, mereka hidup di daerah rawan bencana Gunung Merapi. Tembakau memaksa petani banyak menebang tanaman keras, karena perlu matahari cukup.

Risiko bencana makin besar. Kopi sebagai tanaman kayu keras. Jika terkena hujan abu letusan Merapi, hilang daun, bisa tumbuh lagi. Kopi bisa ditanam di bawah pepohonan lain dan tanaman hutan.

 

Selengkapnya, baca: Kala Tata Niaga Buruk sampai Ancaman Bencana Dorong Petani Tembakau Klaten Beralih ke Tanaman Lain (Bagian 2)

Sumber: Mongabay.co.id
Penulis: Tommy Apriando

Tags: Bahaya RokokPetaniPetani KopiPetani TembakauRokokTembakau
ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=6npF_Ocn5bw&t=138s

Pos-pos Terbaru

  • Negeri yang Berjanggut Berhasil Hilangkan Penularan HIV dari Ibu ke Anak
  • Kampus Sudah Terapkan Kawasan Tanpa Rokok, Tapi Mengapa Masih Banyak yang Klepas-klepus?
  • Penerapan Cukai Minuman Berpemanis Dalam Kemasan Kembali Ditunda, Ada Indikasi Lobi Industri
  • Inilah Tujuh Kandidat Direktur Jenderal WHO
  • Bagaimana Asap Rokok dan Vape Mengintai Kesehatan Masyarakat, Ini Penjelasan Dokter Paru
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.