in ,

Kerugian PDB dan Stunting Mengancam Jika Air Minum Bersih Belum Terpenuhi

Stunting dan kerugian ekonomi masih mengintai selama akses air minum bersih belum terselenggara dengan baik di seluruh pelosok negeri.

Paparan Kementerian PUPR soal kepemilikan akses sumber minum. Sumber: Kementerian PUPR/2021.

Jakarta, Prohealth.id – Ketersediaan air bersih untuk minum masih menjadi tantangan karena mengancam kesehatan masyarakat dan menghilangkan 24 persen dari potensi Produk Domestik Bruto (PDB).

Kasubdit Perencanaan Teknis Direktorat Air Minum Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Dades Prinandes menjelaskan situasi akses air Indonesia saat ini tergolong dalam definisi air aman. Dia pun memastikan saat ini pemerintah sudah merumuskan kebijakan nasional untuk meningkatkan akses air minum aman. Dia memerinci, saat ini cpaian akses air minum layak meningkat + 1 persen per tahun. Laju pertumbuhan akses perpipaan tidak sampai 1 persen dalam 3 tahun terakhir mulai 2017-2020. Sementara untuk capaian akses air minum aman tahun 2020 adalah 11,9 persen berdasarkan hasil Studi Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAM-RT).

Dades mengakui penyediaan air minum memang masih menantang. Rata-rata kebutuhan air minum untuk keperluan minum dan makan per orang per hari adalah 10 liter per orang per hari. Alhasil kerangka pertama, pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan air minum adalah Rp284.000,00 per bulan dengan asumsi harga isi ulang satu galon adalah Rp18.000, dan kebutuhan air minum satu orang per bulan adalah 300 liter.

Sementara kerangka kedua pengeluaran air minum PDAM adalah Rp1.600,00 per bulan dengan asumsi tarif rata-rata 1 m3 air PDAM adalah seharga Rp5.297,00. Kebutuhan air minum 1 orang per bulan adalah 300 liter. Oleh karena itu dia mengingatkan, jika ketersediaan air minum tak terpenuhi maka akan memberikan dampak pada kesehatan masyarakat khususnya peningkatan stunting pada anak.

Sebagai informasi, saat ini prevalensi balita pendek alias stunting di Indonesia tahun 2020 adalah 24,1 persen. Faktor kesehatan lingkungan yang meliputi tersedianya sarana air minum merupakan faktor yang berpengaruh terhadap potensi terjadinya stunting. Akibatnya, stunting dan berbagai bentuk masalah gizi diperkirakan berkontribusi hilangnya 2-3 persen Produk Domestik Bruto (PDB).

Sementara itu, Elly Setyawati selaku Koordinator Penyehatan Air dan Sanitasi Dasar, Direktorat Kesehatan Lingkungan, Ditjen Kesehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan menjelaskan dalam presentasi tentang temuan kajian kualitas air yang dilakukan Kementerian Kesehatan, studi tentang kualitas air minum, dan penerapan pengelolaan air minum yang baik di tingkat rumah tangga.

Elly mengatakan, Direktorat Kesehatan Lingkungan bekerja sama dengan Badan Litbangkes pada tahun 2020 melaksanakan studi kualitas air minum rumah tangga yang dilakukan di 34 Provinsi dan 514 kab/kota. Hasilnya, jenis sarana air untuk keperluan minum yang utama yang paling banyak digunakan oleh rumah tangga di Indonesia adalah air isi ulang sebanyak 31,1 persen, disusul sumur gali terlindungi sebanyak 15,9 persen, sumur bor/pompa sebanyak 14,1 persen, air ledeng/perpipaan termasuk hidran air sebesar13 persen, air kemasan bermerek hanya 10,7 persen, mata air terlindungi hanya 4,2 persen, sumur gali tidak terlindungi ada 3,8 persen, mata air tidak terlindungi sebesar 2,5 persen, penampungan air hujan hanya 2,3 persen, air yang dibeli eceran sebesar 1,4 persen, air permukaan bahkan hanya 0,6 persen, dan terminal air 0,3 persen.

Studi yang sama juga mencatat, dari total rumah tangga yang menggunakan sumur gali sebagai sumber untuk keperluan minum yang utama 14,8 persen memiliki risiko cemaran tinggi dan amat tinggi. Dari total rumah tangga yang menggunakan penampungan air hujan sebagai sumber untuk keperluan minum yang utama 10,6 persen memiliki risiko cemaran tinggi dan amat tinggi. Sementara dari total rumah tangga yang menggunakan mata air sebagai sumber untuk keperluan minum yang utama 10 persen memiliki risiko cemaran tinggi.

Asal tahu saja, berdasarkan temuan itu Elly mengingatkan bahwa air yang terkontaminasi terkait dengan penularan penyakit seperti kolera, diare, disentri, hepatitis A, tifus, dan polio. Selain itu, air yang tercemar bahan atau senyawa kimia akan menyebabkan penyakit kronis, seperti kerusakan ginjal, gangguan reproduksi dan penyakit lainnya. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah wadah air minum rumah tangga karena dapat berfungsi sebagai tempat berkembang biak vector pembawa penyakit.

Pada sisi lain, air yang tidak aman dan sulit diakses juga menyebabkan orang menghabiskan waktu dan usaha yang lebih besar untuk mengumpulkan air, sehingga mengurangi waktu produktif untuk hal lain. Elly juga mengingatkan akibat dari konsumsi air yang tidak aman akan mengakibatkan pengeluaran keuangan yang lebih besar untuk kesehatan.

Jika mengacu dari teori Hendrik L Blum, dalam meningkatkan derajat Kesehatan masyarakat intervensi melalui lingkungan adalah dapat meningkatkan 40 kualitas lingkungan. Untuk itu diperlukan upaya dan terobosan melaksanakan perbaikan dan peningkatan kualitas lingkungan baik melalui kaji ulang kebijakan yang mencakup target dan indikator serta peluang pembiayaan, dan peningkatan kerjasama dan kemitraan.

“Serta yang paling utama adalah peningkatan pemberdayaan masyarakat melalui pembelajaran stimulant dengan penerapan Teknologi Tepat Guna yang sesuai lokal spesifik,” kata Elly dalam Lokakarya Air Minum Bersih bersama USAID, beberapa waktu yang lalu.

Dia menegaskan, dalam upaya meningkatkan kualitas lingkungan sehat ada beberapa hal yang diperlukan khususnya upaya penyehatan, pengendalian, dan pengamanan air, sanitasi, pangan, udara sehat, pengendalian binatang pengganggu, kualitas bangunan dan ruang yang nyaman, serta pengelolaan limbah domestik yang baik.

Untuk menyelesaikan masalah itu, Elly menegaskan perlu percepatan dan inovasi lintas sektor. Apalagi tantangan yang dihadapi dalam penyediaan air bersih tidak mudah sebut saja; masalah perubahan iklim, meningkatnya kelangkaan air, pertumbuhan penduduk, perubahan demografis dan urbanisasi sudah menimbulkan tantangan bagi sistem pasokan air.

“Oleh karena itu penerapan dokumen Rencana  Pengamanan Air Minum yang  terintegrasi mencakup RPAM,  sistem penyediaan air minum  sampai dengan konsumen perlu diimplementasikan dan evaluasi berjenjang,” jelasnya.

Elly menambahkan, tantangan lain yang harus dituntaskan terkait belum optimalnya pengawasan kualitas air minum di sarana Fasyankes dan TFU serta situasi bencana, insiden, dan kondisi khusus. Selain itu, perlu peningkatan kapasitas SDM yang kompeten untuk melaksanakan pengawasan kualitas air minum dan analisis resiko.

“Perlu optimalisasi terhadap keterlibatan dan pemberdayaan masyarakat mendukung pengawasan kualiras air minum,” tutur Elly.

 

 

 

Penulis: Gloria Fransisca Katharina Lawi

 

Share

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0

Siapa Bilang Tidak Merokok Tetap Tidak Bisa Beli Rumah?

Kenali Gejala Pendarahan Otak Sejak Dini