Organisasi Lingkungan dan Konservasi Geopix menyoroti sebaran titik api kebakaran hutan dan lahan (Karhulta) di sejumlah konsesi perusahaan perkebunan kelapa sawit yang tergabung dalam lembaga sertifikasi internasional Roundtable On Sustainable Palm Oil (RSPO). Sebaran titik api itu dinilai mengancam habitat gajah Sumatera, meningkatkan risiko konflik antara manusia dan gajah, serta mengancam ruang hidup orangutan.
Geopix melakukan pemantauan titik api selama periode 1 Juni hingga 28 Oktober 2026. Di kurun waktu 5 bulan itu, mereka mengidentifikasi keterkaitan antara titip api, konsesi perkebunan kelapa sawit, 40 perusahaan anggota RSPO serta rantai pasok minyak sawit.
Temuan ini diungkap dalam kegiatan bertajuk “RSPO Certified To Burn? Komitmen Keberlanjutan Yang Terbakar” di Kedai Tjikini, pada 2 November 2026.
GIS Specialist Geopix, Rahmadani Luthfiah, menjelaskan sejumlah perusahaan perkebunan kelapa sawit menjadi penyumbang titik api di wilayah Kalimantan dan Sumatera. Padahal, perusahan-perusahaan itu telah mengantongi tersertifikasi oleh RSPO sebagai perusahaan yang menerapkan prinsip keberlanjutan dalam industri kelapa sawit.
Luthfiah mengatakan, selama periode pemantauan, Geopix mendeteksi sebanyak 695.955 titik api terdeteksi di Pulau Kalimantan. Dari jumlah itu, sebanyak 88,84 persen titik api berada di habitat orangutan Kalimantan.
Sementara itu, sebanyak 377.845 titik api atau sekitar 54,29 persen dari total temuan di Kalimantan terdeteksi di Kalimantan Tengah.
Sejumlah perusahaan induk perkebunan kelapa sawit tercatat menyumbang ribuan titik api. First Resources Limited menjadi perusahaan dengan jumlah titik api terbanyak, yakni 3.763 titik api. Selanjutnya, Bumitama Agri mencatat 3.439 titik api dan PT Musim Mas Holding sebanyak 2.710 titik api.
Selain itu, terdapat Golden Agri Resources (GAR) tercatat memiliki 2668 titik api, disusul Wilmar International Limited dengan 1679 titik api. Sementara, PT Triputra Agro Persada menyumbang 1.467 titik api.
Dari sisi luasan konsesi GAR menjadi perusahaan anggota RSPO dengan konsesi terbesar di Kalimantan, yakni mencapai 140.000 hektar. Adapun total konsesi perusahaan anggota RSPO terluas berada di Kalimantan Tengah dengan sekitar 900.000 hektar, disusul Kalimantan Barat seluas 750.000 hektar.
Perusahaan induk lainnya yang turut tercatat menyumbang titik api antara lain PT Goodhope Asia Holding (PT GAH) dengan 1.413 titik api, Genting Plantations Berhad sebanyak 1.191 titik api, PT Prime Agri Resources Tbk (PT PAR) memiliki 1.163 titik api, serta IOI Corporation Berhad dengan 1.097 titik api.
Tidak hanya perusahaan induk, sejumlah anak perusahaan juga tercatat memiliki sebaran titik api di wilayah konsesinya. PT Damai Agro Sejahtera (PT DAS) tercatat memiliki 2.408 titik api. Kemudian, PT Globalindo Alam Perkasa (PT GAP) memiliki 1.597 titik api dan PT Kayung Agro Lestari ( PT KAL) sebanyak 1588 titik api.
“Di PT DAS titik apinya meningkat 19,2 kali lipat dibandingkan pada Agustus lalu, akhirnya pada September itu terjadi 2.023 titik api dalam konsesi mereka,” katanya.
Dia menambahkan, PT Golden Agri-Resources (PT GAR) tercatat memiliki 1.358 titik api dan PT Agrolestari Mandiri (PT AM) sebanyak 1.184 titik api. Sedangkan, PT Mitra Karya Sentosa Ketapang Sanggau, sebanyak 1.053 titik api.
Selain itu, PT Sukses Karya Sawit ( PT SKS) tercatat memiliki 992 titik api, PT Rafi Kramajaya Abadi (PT RKA) sebanyak 951 titik api, PT Anugerah Palm Indonesia (PT API) sebanyak 934 titik api, serta PT Gawi Bahandep Sawit Mekar dengan 924 titik api.
Dengan demikian, kata Luthfiah, berdasarkan hasil pemantauan itu terdapat 26.420 titik api di area konsesi perkebunan kelapa sawit milik perusahaan RSPO di Kalimantan. Dari jumlah itu, sekitar 23,37 persen titik api berada di habitat orangutan, dengan angka keterkaitan yang disebut mencapai 88,48 persen.
Sementara itu, GIS Specialist Geopix, Muhammad Fadhil, menjelaskan Geopix juga menemukan sebaran titik api di Pulau Sumatera. Selama periode pemantauan, tercatat sebanyak 185.639 titik api di pulau ini.
Sejumlah perusahaan induk anggota RSPO di Sumatera turut tercatat memiliki titik api. PT Prime Agri Resources (PT PAR) menyumbang sebanyak 679 titik api, disusul Golden Agri Resources dengan 523 titik api.
Kemudian, perusahaan negara PT Perkebunan Nusantara III (PT PN III) tercatat 188 titik api, sedangkan Wilmar International Limited menyumbang 85 titik api.
Perusahaan lainnya, M.P Evans Group PLC tercatat menyumbang 79 titik api, S&G Biofuel Pte. Ltd. sebanyak 74 titik api, SIPEF Group sebanyak 59 titik api, dan SD Guthrie Berhad menyumbang sebanyak 28 titik api.
“Terakhir, perusahaan induk itu di PT Sumber Tani Agung Resources Tbk (PT STAR). Pelaku perusahaan ini berasal dari negara Malaysia, dan Singapura,” ujarnya.
Fadhil juga menyebutkan dari 10 perusahaan induk anggota RSPO yang teridentifikasi di Sumatera, terdapat sejumlah anak perusahaan yang turut menyumbang titik api.
PT Bahana Karya Semesta (BKS) tercatat menyumbang 262 titik api, disusul PT Sawit Selatan (PT SS) dengan 200 titik api. Selanjutnya, PT Selatan Jaya Permai (PT SJP) memiliki 191 titik api dan PT Perkebunan Nusantara VII (PT PKN VII) sebanyak 176 titik api.
Selain itu, PT Telaga Hikmah (PT TH) tercatat memiliki 112 titik api dan PT Sumber Indah Perkasa (PT SIP) sebanyak 110 titik api.
Perusahaan lainnya meliputi PT Prima Alumga yang menyumbang 103 titik api, PT Gunung Tua Abadi (PT GTA) sebanyak 91 titik api, PT Tania Selatan tercatat 82 titik api serta PT Gandaerah Hendana memiliki 74 titik api.
Dengan demikian, kata Fadhil, total terdapat 1,913 titik api di area konsesi perkebunan kelapa sawit milik anggota RSPO di Sumatera. Dari jumlah itu, sebanyak 100 titik api berada di area yang mengancam habitat harimau Sumatera, sedangkan 11 titik api lainya mengancam habitat gajah Sumatera.
Selain memantau sebaran titik api, Geopix juga menelusuri rantai pasok minyak sawit melalui platform Palmtrace. Dari penelusuran ini, Geopix menemukan sejumlah perusahaan pemasok dan eksportir di berbagai provinsi, seperti Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Bangka Belitung, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Aceh, statusnya belum diketahui oleh RSPO.

Sementara itu, Senior Wildlife Campaigner Geopix Annisa Rahmawati mengatakan, sejumlah perusahaan yang telah mengantongi sertifikasi RSPO diduga hanya memanfaatkannya untuk membangun citra ramah lingkungan demi meraih keuntungan dari pasar global, bukan untuk mewujudkan keberlanjutan industri kelapa sawit yang sesungguhnya.
Nisa mengkritik proses pemberian sertifikasi RSPO yang masih memiliki bias. Salah satu faktor yang disorot adalah mekanisme pembayaran auditor yang dilakukan langsung oleh perusahaan yang diaudit.
Nisa juga menyoroti pola peningkatan produksi perusahaan perkebunan kelapa sawit, baik perusahaan induk maupun anak perusahaan, yang masih mengandalkan perluasan lahan. Menurutnya, metode ini sebagai cara yang merugikan berbagai habitat satwa liar, termasuk orangutan, harimau Sumatera, dan gajah Sumatera.
“Kebun sawit tidak bisa menggantikan pakan alami satwa. Contohnya Gajah Jovi yang alami gangguan serius setelah memakan daun kelapa sawit,” katanya.
Ia menilai perusahaan perkebunan kelapa sawit seharusnya lebih berfokus pada peningkatan produktivitas melalui teknik penanaman dan pengelolaan perkebunan yang lebih baik. Dengan demikian, perusahaan dapat meningkatkan keuntungan tanpa harus terus memperluas lahan perkebunan.
“Stop melakukan ekspansi atau perluasan perkebunan kelapa sawit, sudah cukup untuk menderita karenanya,” ujarnya.
Bagi Nisa, sejumlah anggota RSPO telah melanggar ketentuan hingga menyebabkan kebakaran hutan dan lahan. Oleh karena itu, ia mendesak RSPO untuk menjatuhkan sanksi tegas kepada perusahaan-perusahaan yang terbukti menyebabkan kebakaran serta mempersempit ruang hidup satwa liar dan merusak ekosistem hutan.
Menurut Nisa, dampak kebakaran hutan dan lahan tidak hanya dirasakan masyarakat di Indonesia, tetapi juga masyarakat di negara lain, seperti Malaysia, SIngapura, dan Filipina. Selain manusia, satwa liar juga menjadi pihak yang dirugikan akibat kerusakan lingkungan ini.
Nisa menambahkan, Geopix mendesak RSPO yang tengah menggelar RSPO Annual Roundtable Conference (RT2026) di Jakarta pada 3-4 November 2026 untuk membuka data secara transparansi dan menyeluruh. Keterbukaan ini mencakup data peta konsesi serta seluruh rantai pasok yang terlibat dalam industri kelapa sawit.
Selain transparansi data, Geopix juga meminta RSPO melakukan investigasi independen terhadap seluruh perusahaan anggotanya yang wilayah konsesinya mengalami kebakaran.
Geopix turut mendesak RSPO agar memberikan sanksi kepada perusahaan yang terbukti melakukan pelanggaran. Sanksi ini dapat berupa pencabutan sertifikasi maupun pembekuan keanggotaan sementara (suspension), bukan sekadar imbauan sukarela.
“Tema RT2026 oleh RSPO melalui Strong Foundations: Impacts in Action, RSPO harus menyadari situasi yang saat ini darurat akibat bencana karhutla karena ulah anggota mereka.” ujarnya.

Discussion about this post