in ,

Menguji Dampak Mikroplastik pada Tubuh Manusia

Mikroplastik sudah ada dalam tubuh manusia, tetapi belum cukup penelitian untuk tahu dampaknya bagi kesehatan manusia.

Ilustrasi mikroplastik. (Sumber: plasticchange.org)

Penelitian terbaru yang menemukan mikroplastik pada darah manusia membuktikan hubungan antara limbah ini dengan kesehatan manusia. Penelitian yang bertajuk “Discovery and quantification of plastic particle pollution in human blood” ini terbit di jurnal Environment International pada bulan Mei 2022 lalu.

Dalam laporannya, para peneliti, yang semuanya berasal dari Belanda, menemukan polimer yang biasanya ditemukan dalam plastik dengan volume tinggi dari darah manusia. Jumlah terbanyak yang ditemui antara lain polietilen tereftalat (PET), polietilen (PE) dan stirena (penyusun styrofoam), diikuti oleh poli/metil metakrilat (bahan baku pada industri cat, kosmetik, dan polimer).

Kepada The Guardian, Profesor Dick Vethaak, seorang ahlli ekotoksikologi dari Vrije Universiteit Amsterdam, Belanda, menyatakan bahwa hasil riset mereka merupakan indikator pertama partikel polimer telah masuk ke dalam tubuh manusia. Meski demikian, ia mengakui bahwa perlu ada lanjutan riset dengan sampling yang lebih banyak dan jenis polimer lebih beragam.

“Wajar saja untuk khawatir karena partikel-partikel ini ada dalam tubuh dan bergerak ke seluruh tubuh,” lanjutnya kepada The Guardian menambahkan bahwa sudah ada penelitian yang menunjukkan jutaan partikel mikroplastik tertelan oleh bayi dari botol-botol susu plastik mereka.

Yang terbaru, para peneliti asal Inggris mengidentifikasikan mikroplastik pada jaringan paru-paru orang hidup untuk pertama kalinya. Dalam studi tersebut, setidaknya 39 partikel mikroplastik ditemukan di 11 dari 13 sampel jaringan paru-paru yang mereka uji. Jenis plastik yang banyak ditemukan antara lain polipropilen dan polietilen tereftalat, serta resin, yang banyak terdapat dalam kemasan, botol, pakaian, tali dan benang.

Dalam webinar “Mengenal Mikroplastik dan Dampaknya terhadap Lingkungan dan Kesehatan”, 16 Juni yang lalu, Inneke Hantoro, peneliti mikroplastik dan dosen Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian, Universitas Katolik Soegijapranata Semarang menyatakan bahwa keberadaan plastik dalam tubuh manusia sudah ada mulai dari feses, kolon, plasenta, hingga darah.

 

Apa itu mikroplastik?

Berdasarkan kesepakatan para ilmuwan, definisi mikroplastik adalah partikel plastik dengan ukuran kurang dari 5 milimeter. Ada dua kategori mikroplastik, yaitu mikroplastik primer (primary microplastic) dan mikroplastik sekunder (secondary microplastic).

Mikroplastik primer terdapat dalam produk-produk kecantikan, seperti pembersih wajah dan pasta gigi, hingga serat mikrofiber dari pakaian atau jaring ikan. Sementara, mikroplastik sekunder biasanya ditemukan pada sedotan dan botol plastik.

Sumber mikroplastik. (Foto: Will Parson/Chesapeake Bay Program)

Mikroplastik terbentuk dari fragmentasi plastik dengan ukuran lebih besar akibat lingkungan, seperti matahari dan ombak laut. Sayangnya, mikroplastik tidak bisa hilang dari lingkungan dan menetap hingga ratusan tahun lamanya. Mikroplastik yang terbuang ke lautan ini yang akhirnya menetap pada tubuh satwa dan manusia.

Inneke memaparkan bahwa cara mikroplastik masuk ke dalam tubuh manusia adalah melalui pencernaan, yaitu melalui mulut, suplai makanan dan pemrosesan makanan. Kedua, mikroplastik bisa masuk melalui pernapasan dan terakhir bisa masuk melalui kulit, yaitu dari serat sintesis yang terdapat pada baju-baju.

 

Mikroplastik pada satwa dan lingkungan

Sebelum penelitian terbaru terkait dengan mikroplastik dalam darah manusia, sudah ada beberapa studi lain yang memperlihatkan paparan limbah ini bagi satwa laut dan manusia. Dalam kuliahnya, Dwi Amanda Utami menyebutkan ada beberapa penelitian menemukan mikroplastik dalam perut ikan, perairan laut, di terumbu karang, estuari, hingga di sungai di Indonesia.  

Tahun 2015, para peneliti dari Indonesia dan AS menerbitkan hasil studi “Anthropogenic debris in seafood: Plastic debris and fibers from textiles in fish and bivalves sold for human consumption” di jurnal Nature yang menemukan mikroplastik pada makanan laut yang dikonsumsi sehari-hari oleh masyarakat.

“Penelitian ini dilakukan pada sampel ikan dan seafood yang didapatkan di sekolahan maupun pasar tradisional yang artinya ikan dan cepat ini sangat akrab dengan kehidupan manusia dan biasa kita konsumsi sehari-hari,” papar Dwi. “Dan dari hasil penelitian tersebut didapatkan adanya mikroplastik di dalam perut ikan dan kerucut tersebut dan jika dibandingkan sampel di indonesia ikan-ikan tersebut mengandung banyak mikroplastik di perut mereka dibandingkan dengan sampel dari ikan di Amerika Serikat.”

Studi kasus di Cilacap, “Beach macro-litter monitoring and floating microplastic in a coastal area in Indonesia”, menunjukkan adanya kontaminasi mikroplastik dengan konsentrasi 2,5 mg·m3, paling banyak adalah polipropilen (68 persen) dan polietilen densitas rendah (11 persen), dan warna plastik yang dominan adalah putih, biru dan hijau.

 

Risiko pada kesehatan manusia

Inneke Hantoro menyatakan bahwa saat ini masih belum bisa dipastikan dampak langsung terhadap kesehatan manusia atau seberapa batas maksimal bagi mikroplastik masuk ke dalam tubuh. Hal ini dikarenakan studi toksisitas yang dilakukan baru pada sebatas hewan coba dan sel kultur manusia.

“Kalau pada hewan coba itu terbukti, kalau ikan misalnya, larvanya umurnya bisa lebih pendek atau mati dan sistem saraf bisa rusak, sistem reproduksi bisa rusak. Nah, itu pada ikan, kalau di ekstrapolasi ke manusia itu tidak bisa langsung,” jelas Inneke. “Data toksikologi itu butuh waktu. Jadi, studi pada hewan itu kemudian harus difollow-up dulu ikannya kecil bagaimana? Jadi kalau pada tikus bagaimana? Kalau pada hewan yang lebih besar bagaimana? Baru nanti pada manusia.”

Ia menambahkan bahwa kondisi lab belum tentu sama dengan kondisi paparan yang riil. “Karena kan di lab itu baru coba-coba. Kalau, misalnya dikasih polistiren, dikasih bentuk benang, konsentrasinya sekian, kira kira efeknya apa. Kalau kemudian dikasih polistiren bentuknya tidak beraturan, efeknya apa kira kira, baru seperti itu. Kalau tadi, misalnya oke stress selnya bisa stres, kemudian sistem imun bisa terganggu, tetapi dengan catatan kondisi itu baru pakai satu monomer. Belum konsentrasi yang dipaparkan itu pasti jauh lebih tinggi dibandingkan yang riil terpapar dalam tubuh kita sehari-hari. Nah, ini tidak bisa dipakai acuan untuk menentukan toksisitas pada manusia baru memberikan sinyal-sinyal awal saja ada kemungkinan bahwa mungkin memberikan risiko, tetapi seberapa jauh resiko yang bisa diberikan itu belum bisa dijawab,” jelasnya.

Meski demikian, ia mengatakan bahwa memang sudah banyak penelitian yang membuktikan bahwa mikroplastik sudah bisa masuk ke dalam darah. Namun, perlu banyak penelitian lanjutan untuk menentukan kadar kebahayaan bagi kesehatan manusia.

 

Darurat sampah plastik

Tahun 2010, penelitian asal Amerika Serikat telah menempatkan Indonesia sebagai negara penyumbang sampah plastik ke lautan terbesar kedua di dunia, setelah Cina. Berdasarkan penelitian tersebut, Indonesia telah menghasilkan 3,22 juta ton sampah plastik yang tidak terkelola dengan baik. Sekitar 0,48 – 1,29 juta ton dari jumlah tersebut terbuang ke lautan.

Sepuluh tahun berlalu, posisi ini masih belum berubah. Indonesia masih menyumbang 3,21 juta metrik ton per tahun sampah plastik ke lautan.

Ironisnya, produksi plastik semakin meningkat tajam. Tahun 2014, produksi plastik meningkat hingga 20 kali lipat menjadi sekitar 300 juta ton dan akan terus meningkat. Kondisi ini akan membuat perbandingan ikan di laut dengan sampah plastik menjadi 1 banding 3 pada tahun 2025.

“Di tahun 2050, karena produksi plastik yang terus meningkat dan juga karena adanya overfishing maka diperkirakan jumlah sampah plastik di laut dibanding dengan ikan akan terdapat lebih banyak sampah plastik dibandingkan dengan ikan itu sendiri,” jelas Dwi Amanda Utami, Peneliti Geoteknologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dalam Kuliah Umum daring bertajuk “Mengenal Sampah Laut Mikroplastik”.

Sementara itu, Akhmad Zainal Abidin, ahli polimer dari Institut Teknologi Bandung (ITB), menjelaskan bahwa potensi mikroplastik di Indonesia bisa berasal dari open burning (48 persen), terbuang ke saluran air (22 persen), daur ulang (10 persen), dan tempat pembuangan sampah (10 persen). “Semua ini bisa menciptakan potensi mikroplastik yang sudah dijelaskan bahwa sebarannya ya ada di udara, di darat, dan ada juga droplet.” jelas Akhmad dalam webinar “Mengenal Mikroplastik dan Dampaknya terhadap Lingkungan dan Kesehatan”.

Inneke menyampaikan bahwa untuk mengatasi mikroplastik, harus dimulai dari hulu, yaitu meminimalkan penggunaan plastik yang tidak perlu. “Bagaimana pun juga plastik masih kita perlukan sebenarnya untuk banyak hal, tetapi kadang kita berlebihan untuk menggunakannya. Nah, ini yang kemudian memang harus diminimalkan, tetapi kalau sudah terlanjur ada di lingkungan dan mencemari kemudian sampai menjadi mikroplastik itu kan tidak bisa kita tanggulangi siapa yang bisa menyaring mikroplastik di lautan? Tidak ada. Apalagi di udara,” tegasnya.

 

 

Editor: Gloria Fransisca Katharina Lawi

Share

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0
Genap Berusia 495 Tahun Kualitas Udara DKI Jakarta Makin Buruk

Genap Berusia 495 Tahun Kualitas Udara DKI Jakarta Makin Buruk

Krisis Kesehatan Anak Tanpa Revisi PP109/2012