Sudah menjadi pemahaman umum, bahwa drama Korea Selatan atau yang akrab disebut drakor, merupakan salah satu hiburan favorit orang Indonesia. Maklum saja, drama Korea terbilang mudah ditonton melalui platform streaming secara berlangganan. Para penggemar drakor di Indonesia pun makin berkembang dan bersatu dalam komunitas fans aktor dan aktris tertentu.
Salah satu drama Korea yang menarik selama masa pandemi dua tahun terakhir adalah ‘Birthcare Center’ yang rilis pada November 2020 di stasiun televisi Korea, TvN. Drama yang dibintangi oleh aktris senior Korea Selatan, Uhm Ji Won, mengangkat kisah para ibu baru yang mengalami pergulatan fisik dan mental pasca melahirkan. Drama ini juga bertabur aktor dan aktris ternama di Korsel seperti Park Ha-sun, Jang Hye-jin, dan Yoon Park. Durasi drama ini juga tidak terlalu lama, hanya 8 episode saja.
Birthcare Center, secara umum menceritakan proses nifas atau masa pemulihan para ibu pasca persalinan. Dikutip dari situs Kanal Pengetahuan Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada, selama masa nifas, perempuan harus melalui proses perawatan kesehatan selama 6-8 minggu. Proses perawatan ini meliputi; stabilitas suhu tubuh, pengeluaran lochea, kesehatan payudara, traktur urinarius, dan sistem kardiovaskuler. Selain itu yang tak kalah penting, masa nifas juga memperhatikan pemulihan kejiwaan ibu setelah persalinan, sebab para ibu harus mendapat dukungan dan pemantauan ekstra setelah melahirkan. Masa nifas juga akan membantu memulihkan organ reproduksi para ibu jika berniat untuk mempersiapkan kehamilan berikutnya.
Kembali pada drakor Birthcare Center, drama ini menceritakan kisah Oh Hyun Jin (Uhm Ji Won), seorang perempuan yang merupakan eksekutif termudah di sebuah perusahaan. Mengingat usianya yang tak lagi muda, Oh Hyun Jin menjadi pasien tertua yang masuk ke rumah perawatan nifas, bernama Serenity (Birthcare Center). Dia dikelilingi banyak ibu-ibu muda yang sangat berbeda dengan latar belakang dirinya.
Memulai hidup di Serenity, Oh Hyun Jin mengenal banyak hal baru misalnya; kelas menyusui, sarana pijat laktasi, restoran dan taman hiburan yang luas untuk membantu ibu beristirahat dengan tenang dan nyaman.

Meski begitu, dalam rumah perawatan masa nifas ini, Oh Hyun Jin juga menjumpai banyak ibu yang memiliki pengalaman unik hingga pergulatan batin. Drama ini menunjukkan konteks masyarakat Korea Selatan yang sangat mempertimbangkan kelas dan status sosial seseorang, termasuk para ibu. Tentu akhirnya, drama ini dengan jujur mengangkat moms war, atau persaingan sosial para ibu di Korea Selatan. Beberapa isu yang menarik misalnya tentang ibu yang sebaiknya menjadi rumah tangga mengurus bayi, ketimbang menjadi pekerja kantoran. Kondisi ini membuat Oh Hyun Jin semakin bingung dan tidak nyaman.
Menurut mahasiswi magister ilmu kesehatan masyarakat di Seoul National University (SNU), dr. Irina Aulianissa, ibu yang baru saja melahirkan kerap merasa dilupakan. Hal ini memicu ibu mengalami post-partum syndrome, salah satu kondisi dimana ibu mengalami depresi pasca melahirkan. Guna mengatasi kondisi kesehatan mental ibu, di Korea Selatan memang tersedia layanan kesehatan ibu pasca melahirkan dengan durasi selama dua minggu seperti dalam drakor Birthcare Center.
“Disini ada perawatan post-partum bagi ibu selama dua minggu. Jadi, ibu membayar semacan daycare untuk bayi, dan bayi dititipkan selama dua minggu di rumah sakit. Ibunya langsung dibawa ke layanan perawatan. Disana akan diajari banyak hal juga,” kata dr. Irina dalam Instagram Live medio Mei 2022 lalu.
Sayangnya, birthcare center yang diceritakan oleh dr. Irina ternyata tidaklah murah. Ibu yang ingin menikmati layanan masa nifas ini harus menggelontorkan sekitar 10-20 juta won, atau setara dengan Rp100 juta sampai Rp200 juta untuk dua minggu perawatan. Artinya, dengan biaya yang cukup besar, layanan birthcare center ini tidak bisa dinikmati oleh semua masyarakat di Korea. “Makanya ini jadi semacam label status sosial juga di kalangan para ibu. Biasa ditanyakan, nanti abis melahirkan ke birthcare center yang mana?” ungkap dr. Irina.
Dikutip dari artikel The Korea Herald yang berjudul, Postpartum centers make life easy for new mothers, masa kritis pada ibu yang baru melalui persalinan adalah dua sampai tiga minggu. Artinya, jika seorang ibu tidak mendapatkan pemulihan yang tepat, hal itu akan sangat mempengaruhi kondisi kesehatan ibu di masa yang akan datang. Oleh karena itu, hadirlah post-partum care centers atau dalam bahasa Korea disebut sanhujoriwon.
Bak layanan di hotel, sanhujoriwon ini menghadirkan kelas perawatan bayi, hingga layanan diet sehat bagi ibu untuk menurunkan berat badan. Komposisi makanan yang disajikan di sanhujoriwon menggunakan bahan organik untuk membantu para ibu memproduksi air susu ibu (ASI). Layanan ekslusif ini juga masih ditambah dengan jaminan, para ibu bisa istirahat dengan tenang tanpa terdistraksi oleh tangisan bayi.
Persis seperti drakor Birthcare Center, di sanhujoriwon, para ibu memang dipisahkan sementara waktu dari si bayi. Keduanya diasuh oleh para tenaga medis yakni perawat dan dokter guna menjamin kesehatan ibu dan anak.
Oh Soo-hyun (33), dalam artikel Korea Herald mengakui dia menginginkan suasana yang tenang dan private setelah melalui persalinan. Ibu satu anak ini mengakui memilih postpartum center karena ini pulih tanpa banyak gangguan, ataupun kunjungan dari anggota keluarga, khususnya dari mertua. Ada kelelahan fisik dan mental ketika dia harus berinteraksi dengan keluarga besar setelah melahirkan. Hal itulah yang juga menjadi pertimbangan postparum center yang bahkan tidak mengizinkan anggota keluarga kecuali suami untuk menjumpai istrinya pasca persalinan.
Senada dengan ujaran dr. Irina, harga untuk postpartum center memang sangat beragam. Harga yang paling mahal bisa lebih dari 10 juta won. Sebaliknya, untuk postpartum center di luar ibu kota Seoul umumnya berkisar 3-5 juta won untuk perawatan selama dua minggu.
Meski demikian, seorang ibu berusia 36 tahun, Cho Young-eun mengakui dia tak punya banyak pilihan untuk menyembuhkan diri selain masuk ke postpartum center sekalipun menguras biaya yang sangat besar. Cho Young-eun mengaku dia hanya punya waktu kurang dari tiga bulan untuk kembali ke dunia pekerjaan. Dia memilih untuk kembali sehat secara mental dan fisik sebelum kembali beraktivitas.
“Saya ingin memilih layanan ini sebagai hadiah kepada diri saya sendiri. Sekalipun suami saya tidak setuju dengan keputusan saya, namun saya sudah membayar sendiri untuk layanan ini,” ungkap Cho.
Bagaimana dengan Indonesia?

Kementerian Kesehatan menyatakan di Indonesia ada berbagai pelayanan masa kehamilan dan pelatihan pasca persalinan. Meski begitu, dikutip dari situs Kemenkes, Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Prof. Abdul Kadir mengatakan program tersebut tak lantas telah menorehkan prestasi lantaran Angka Kematian Ibu dan Bayi (AKI) di Indonesia masih terbilang tinggi. Salah satu penyebabnya adalah fasilitas kesehatan masyarakat yang belum mencapai masyarakat secara merata. Kondisi ini diperparah dengan temuan selama pandemi, angka kematian ibu dan anak juga ikut mengalami peningkatan.
Pasalnya, sebelum tahun 2021, Kemenkes mencatat rata-rata kematian ibu di Indonesia berkisar 4.000-4.900 jiwa. Namun pada 27 Desember 2021 lalu, jumlah AKI sudah menginjak sekitar 6.800 jiwa di seluruh Indonesia.
Dia mengingatkan AKI disebabkan oleh berbagai faktor risiko yang terjadi mulai dari fase sebelum hamil yaitu kondisi wanita usia subur yang anemia, kurang energi kalori, obesitas, mempunyai penyakit penyerta seperti tuberkulosis dan lain-lain. Pada saat hamil ibu juga mengalami berbagai penyulit seperti hipertensi, perdarahan, anemia, diabetes, infeksi, penyakit jantung dan lain-lain.
“Kesulitan ini disebabkan kondisi saat hamil, jadi saat hamil misalnya ibu hamil menderita anemia, mengalami kurang gizi, mengalami penyakit tekanan darah tinggi saat hamil. Inilah yang menyebabkan tingginya angka kematian ibu,” kata Prof. Kadir.
Melihat kondisi tersebut, AKI di Indonesia masih menjadi salah satu tujuan penting untuk segera diatasi. Peran tenaga kesehatan selama dan pasca persalinan sangat berperan dalam penurunan AKI.
Psikolog Klinis Naomi Tobing menambahkan di Indonesia untuk layanan untuk ibu setelah melahirkan memang belum sama dengan layanan di luar negeri, seperti di Korea Selatan. Oleh karena itu, untuk bisa menjaga kesehatan fisik dan mental ibu pasca melahirkan, Naomi mengimbau keluarga untuk menghargai kebutuhan ibu. Salah satunya dengan memberikan ibu waktu istirahat ekstra tanpa banyak tuntutan sosial dan masyarakat.
Penulis: Gloria Fransisca Katharina Lawi
Discussion about this post