in ,

Perundungan Media Sosial Mengintai Kesehatan Mental Anak Indonesia

Perundungan media sosial masih mengintai anak-anak di Indonesia, apa yang harus dilakukan orang tua dan komunitas masyarakat?

Diskusi cyberbullying anak Indonesia oleh Uni Eropa. Sumber Foto: Uni Eropa/2021.

Jakarta, Prohealth.id – Angka anak  yang menjadi korban perundungan di media sosial alias children cyberbullying semakin meningkat dan mengkhawatirkan.

Berdasarkan beberapa hasil survei yang dilakukan baik oleh EU Kids Online Survey 2020, maupun SEJIWA, KPIA, UNICEF, APJII maupun laporan yang diterima Polda Metro Jaya, menunjukkan ada kenaikan dari kasus perundungan yang paling banyak dialami oleh anak-anak usia remaja.

Cyberbullying adalah kondisi dimana seseorang merasa tidak nyaman terhadap komentar/informasi/gambar foto yang ditujukan untuk dirinya, yang bertujuan menyakiti, intimidasi, menyebar kebohongan dan menghina, yang di posting di internet, jejaring media atau teknologi digital lainnya, yang dilakukan oleh orang lain

Menurut Diena Haryana, Founder Yayasan Sejiwa, media online memberikan dampak terhadap beberapa kasus yang dialami anak seperti ketergantungan gawai, cyberbullying, eksploitasi seksual serta penipuan online.

“Dampaknya bisa sangat besar, membekas hingga jangka panjang karena rasa malu yang ditimbulkan mengingat postingan buruk terhadap dirinya telah disaksikan ribuan orang netizen,” ujar Diena.

Akibatnya sangat membahayakan, bukan hanya sebatas malu dan depresi bahkan hingga tindakan bunuh diri. Sayangnya, banyak korban yang lebih memilih diam, tidak mengadukan kasus yang menimpanya, sehingga pada akhirnya mengganggu pertumbuhan jiwanya.

Diena menegaskan ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mencegah dampak buruk cyberbullying.

Pertama, sebagai teman kita memberi dukungan untuk mendengarkan masalah yang dihadapi, menyemangati dan dapat mengajaknya untuk melaporkannya kepada guru atau orangtuanya.

“Kita juga dapat meng-counter informasi negatif dengan memberikan komentar positif tentang sahabat kita,” jelas Diena kepada para anak dan remaja.

Kedua, sebagai orang tua Diena mengingatkan agar mengarahkan anak untuk memblok pelaku dan melaporkannya melakukan media sosial. Orang tua juga dapat mengalihkan anak dari media sosial melalui kegiatan lain seperti hobi, berlibur maupun hal-hal kreatif lainnya.

“Bila sudah semakin parah dampaknya, segera konsultasikan anak kepada ahlinya untuk mendapat tindakan terbaik,” kata Diena.

Ketiga, Diena mengingatkan agar masyarakat mendorong kebisaan bijak dalam menggunakan media sosial. Misalnya, harus pikir baik-baik sebelum mengunggah sesuatu karena jejak digital tidak akan mudah dihilangkan.

“Tumbuhkan empati dalam diri dan hindari mem posting hal-hal negatif tentang orang lain karena hal itu tidak akan memberikan manfaat untuk hidup kalian,” tutur Diena.

 

 

Penulis: Gloria Fransisca Katharina Lawi

Share

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0

Pandemi Belum Berakhir, Kader PKK Dorong Donasi di Pulih Kembali 2.0

Lindungi Anak, Pembaharu Muda Dorong Pengendalian Tembakau