• Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
Senin, Oktober 26, 2026
  • Login
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

Kekerasan di Daycare, Normalisasi Perilaku Kasar dan Lemahnya Pengawasan

Kekerasan di daycare itu diduga karena motif ekonomi dan sistem kerja yang tidak sehat.

by Admin
Senin, 11 Mei 2026
A A
Kekerasan di Daycare, Normalisasi Perilaku Kasar dan Lemahnya Pengawasan

Kepolisian Resor Kota Yogyakarta telah menetapkan 13 orang tersangka dalam kasus kekerasan anak di salah satu tempat penitipan anak (daycare) Yogyakarta, Little Aresha. Tersangka terdiri dari kepala yayasan, kepala sekolah, serta 11 orang pengasuh yang dijerat pasal berlapis pada perlindungan anak.

Kasus ini tentu menyita perhatian publik, terlebih lembaga pengasuhan anak ini sudah berdiri sekitar 4 tahun lamanya. Dosen Fakultas Psikologi UGM, Diana Setiyawati, menilai kasus ini sebagai alarm serius bagi seluruh pihak, termasuk keluarga dengan pengalaman serupa, maupun pemangku kebijakan.

BacaJuga

Mengapa Indonesia Menolak Pernyataan Resmi Pengendalian Tembakau dan Hipertensi di RC77

KPAI: Tragedi Kekerasan Anak Jangan Hanya Lahirkan Aturan Reaktif

Diana menyampaikan, praktik kekerasan di daycare itu diduga karena motif ekonomi dan sistem kerja yang tidak sehat. Ia turut menjelaskan posisi nanny sitter atau pengasuh cenderung berada dalam posisi rentan di bawah aturan dan tuntutan dari atasan.

Beberapa orang dalam kondisi tertentu dapat menormalisasi tindakan yang sebenarnya melanggar nilai-nilai kemanusiaan dengan alasan efisiensi kerja. “Motifnya bisa jadi karena ekonomi, agar lebih mudah mengatur anak sekaligus bisa ‘merawat’ banyak anak,” ujarnya, Senin, 11 Mei 2027 di laman UGM.

Ia mengatakan kekerasan tentu berdampak signifikan pada psikologis manusia. Terlebih korbannya adalah anak bayi yang masih sangat jauh di bawah umur anak.

Diana menerangkan, bayi belum mampu mengekspresikan ketakutan atau ketidaknyamanan. Mereka akan menangis untuk mengekspresikan emosi-emosi negatif yang mereka rasakan. Ketika orang dewasa tidak memahami, atau justru mencoba membungkam emosi bayi, maka bayi akan berpotensi memendam perasaan yang mereka rasakan.

“Misalnya respons bayi saat dipukul menangis, ia bisa jadi akan menyembunyikan emosinya di hari kemudian. Padahal itu caranya menunjukkan apa yang ia rasakan,” katanya.

Diana turut menyampaikan dampak psikologis pada bayi juga sangat bergantung pada bentuk kekerasan dan kronologi yang terjadi. Sehingga memahami kronologi menjadi catatan penting.

Bagi bayi yang sempat mengalami kekerasan, kata dia, maupun bayi yang secara psikis sehat, lingkungan yang hangat, aman, dan penuh kasih sayang menjadi fundamental. Menurut Diana, bayi membutuhkan lingkungan yang aman agar rasa takut yang sempat dirasakan tidak mendatangkan trauma permanen.

Menurut dia, ekosistem yang baik berupa dukungan orang tua maupun pengasuh yang responsif menjadi faktor penting dalam proses pemulihan. Relasi emosional yang sehat sejak dini akan membantu anak membangun kepercayaan diri dan kestabilan emosi pada perkembangannya.

“Bayi perlu diberikan lingkungan yang hangat, dipeluk, disayangi, dan diberikan rasa aman untuk membantu menyembuhkan trauma,” katanya.

Pakar Psikologi UGM itu turut membagikan pengalaman pribadinya semasa bekerja paruh waktu di daycare ketika belajar di Australia. Pengalaman itu mengarah pada upaya penciptaan ruang daycare yang aman bagi anak dan bayi.

“Saat bekerja paruh waktu di daycare dulu, pemerintah secara rutin melakukan inspeksi terhadap layanan pengasuhan anak. Normalisasi perilaku kasar di lembaga pengasuhan dapat terjadi apabila tidak ada sistem pengawasan yang kuat,” ungkapnya.

Ia menilai tanggung jawab tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada lembaga pengasuhan. Perlu keterlibatan aktif pemerintah dalam supervisi dan sertifikasi tenaga pengasuh anak.

Dengan ini, kata dia, kasus Little Aresha menjadi pengingat keamanan anak harus menjadi prioritas utama dalam setiap lembaga pengasuhan. Termasuk dengan menciptakan ekosistem yang aman bagi anak dari berbagai pihak.

ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=6npF_Ocn5bw&t=138s

Pos-pos Terbaru

  • Koalisi Masyarakat Sipil Batam: Hentikan Represi dan Kriminalisasi Terhadap Pers dan Warga Sipil
  • Kemenkes dan IDI Perkuat Wujudkan Reformasi Pembiayaan Kesehatan dan Perlindungan Tenaga Medis
  • Menginspirasi Para Pendonor Darah Muda di Seluruh Dunia
  • BNN: 98 Persen Vape Mengandung Narkotika, Psikotropika, atau NPS
  • Tindakan Bersama Menekan Risiko Penyakit Zoonosis di Indonesia
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.