Penyakit zoonosis terus menjadi tantangan bagi kesehatan masyarakat di Indonesia. Penyakit-penyakit yang menular dari hewan ke manusia melalui kontak langsung atau kontaminasi makanan, air, dan lingkungan ini mengancam kesehatan serta penghidupan.
Dengan semakin banyaknya interaksi antara manusia dan hewan dan juga meningkatnya kejadian-kejadian terkait iklim seperti banjir dan kekeringan, risiko penyebaran penyakit meningkatkan.
Karena itu, identifikasi dini risiko dan tindakan terkoordinasi antarsektor menjadi penting untuk mencegah kejadian luar biasa (KLB) penyakit serta melindungi masyarakat.
Mengingat pentingnya hal ini, Kementerian Kesehatan dan World Health Organization (WHO) mengadakan tiga lokakarya penilaian risiko bersama atau Joint Risk Assessment pada bulan Juli 2026. Lokakarya di Maros, Sulawesi Selatan berfokus pada rabies; di Bantul, Yogyakarta berfokus pada antraks, dan di Jepara, Jawa Tengah berfokus pada leptospirosis.
Peserta dari sektor kesehatan manusia, hewan, satwa liar, dan lingkungan duduk bersama perwakilan pemerintah daerah, tenaga klinis, pakar laboratorium, akademisi, organisasi profesional, dan perwakilan masyarakat untuk mengkaji bukti dan menyusun rekomendasi.
Penilaian risiko bersama ini merupakan bagian dari pendekatan One Health Indonesia, yang menyadari hubungan antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Penilaian ini mendukung perencanaan berbasis risiko dan kesiapsiagaan dengan mengidentifikasi risiko prioritas, memperkuat koordinasi antar-sektor, dan memperkuat deteksi dini, surveilans (pemantauan penyakit), dan respons terhadap kejadian penyakit.
Penilaian-penilaian sebelumnya telah membantu penguatan pencegahan dan pengendalian penyakit zoonosistik, seperti penguatan surveilans dan deteksi dini penyakit leptospirosis di Demak, Jawa Tengah.
“Penilaian ini menggabungkan berbagai sektor untuk memperkuat kolaborasi dan komitmen bersama melalui pendekatan sistematis dalam menilai risiko, menerjemahkan temuan bukti menjadi tindakan nyata untuk melindungi masyarakat,” kata Hadi Sarwoko, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara.
Di ketiga lokakarya ini, lebih dari 90 peserta mengidentifikasi tindakan-tindakan prioritas untuk menekan risiko penyakit zoonosis dan sepakat untuk menerapkan rekomendasi-rekomendasinya. Rekomendasi ini meliputi memperkuat koordinasi antar-sektor, integrasi surveilans dan respons, penguatan kapasitas tenaga kesehatan melalui pelatihan ulang (refresher), serta komunikasi risiko dan pelibatan masyarakat terarah.
Terkait leptospirosis, para peserta menganjurkan peningkatan sanitasi, penguatan pengolahan limbah, dan penguatan pengendalian hama tikus, khususnya di daerah rawan banjir dan di komunitas petani. Untuk rabies, prioritas meliputi meningkatkan cakupan vaksinasi pada anjing, menerapkan penanganan terintegrasi untuk kejadian gigitan hewan penular rabies, dan memperkuat pelibatan masyarakat, termasuk para pelajar.
Untuk menekan risiko antraks, para peserta merekomendasikan langkah-langkah penguatan untuk menjaga kesehatan hewan ternak dan mencegah penyebaran penyakit antarhewan. Mereka juga merekomendasikan pengendalian mobilitas hewan, sanitasi di rumah potong hewan ditingkatkan, dan pemantauan lingkungan dilakukan dengan lebih ketat. Kesadaran masyarakat menjadi sorotan terkait upaya mencegah pemotongan dan konsumsi hewan dari hewan sakit atau mati.
Temuan-temuan penilaian memberikan arahan berdasarkan bukti untuk tindakan terkoordinasi, dan hal ini dapat dijalankan juga di kabupaten/kota prioritas lain untuk memperkuat pencegahan dan pengendalian penyakit di seluruh Indonesia. Kementerian Indonesia dan pemangku-pemangku kepentingan akan memberikan dukungan kepada pemerintah daerah untuk menerapkan rekomendasi-rekomendasi Joint Risk Assessment dalam tindakan nyata.
Rekomendasi ini meliputi mengoptimalkan komite koordinasi penyakit zoonosis, menyusun pesan-pesan komunikasi risiko spesifik untuk komunitas-komunitas berisiko tinggi, dan memperkuat surveilans terpadu dalam pendekatan One Health.
Dengan bekerja bersama untuk menekan risiko sebelum KLB terjadi, komunitas dapat menjaga kesehatan keluarga, melindungi pencaharian, dan membuat lingkungan sekitar lebih aman bagi semua. Kegiatan ini didukung oleh Pandemic Fund.

Discussion about this post