• Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
Senin, Oktober 26, 2026
  • Login
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

Hilangnya Independensi Jika Kampus Kelola Dapur MBG

Rencana kebijakan ini sangat melenceng dari tugas pokok dan fungsi universitas.

by Sunu Dyantoro
Rabu, 13 Mei 2026
A A
Hilangnya Independensi Jika Kampus Kelola Dapur MBG

Menteri Pendidikan Tinggi Riset dan Teknologi, Brian Yuliarto, menyebut kampus harus terlibat secara aktif dalam jalannya program pemerintah. Salah satunya pendirian dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di setiap kampus.

Gagasan ini memicu kritik dari kalangan akademisi. Mereka menilai perguruan tinggi berisiko bergeser dari fungsi utamanya sebagai institusi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, menjadi operator teknis program pemerintah.

BacaJuga

Koalisi Masyarakat Sipil Batam: Hentikan Represi dan Kriminalisasi Terhadap Pers dan Warga Sipil

Negara Hukum: Fatamorgana yang Makin Digilas Kuasa

Dosen Manajemen Kebijakan Publik UGM, sekaligus pakar analisis kebijakan publik, Subarsono, menyatakan rencana kebijakan ini sangatlah melenceng dari tugas pokok dan fungsi universitas. Hal ini menurutnya sangat tidak sejalan dengan visi dan misi institusi pendidikan tinggi.

Ia menekankan agar kampus tetap konsisten pada jalur pengembangan kualitas akademik. “Perguruan tinggi tidak sepantasnya membuka SPPG karena tidak ada kaitannya dengan visi, misi, dan Tridharma Perguruan Tinggi,” ujarnya, Selasa, 12 Mei 2026.

Dalam laman UGM, ia menyebut keterlibatan kampus untuk menjalankan program ini dikhawatirkan dapat menguras energi sumber daya internal dalam skala besar. Masifnya pengelolaan dapur dianggap dapat membebani infrastruktur kampus, mulai dari aspek sumber daya manusia, hingga rumitnya pengelolaan limbah.

“Keterlibatan kampus dalam mengelola MBG akan menyedot banyak energi sumberdaya yang ada di kampus, di antaranya seperti SDM, listrik, air, pengolahan limbah, hingga pengawasan kesehatan dan gizi menu,” katanya.

Selain permasalahan teknis, ia mengkhawatirkan muncul persoalan lain mengenai independensi akademisi. Apabila perguruan tinggi turut menjadi bagian dari implementasi program pemerintah, nantinya daya kritis civitas akademika terhadap kebijakan publik dikhawatirkan dapat melemah karena terdapat benturan antar kepentingan.

“Bagaimana bisa bersuara kritis dan lantang, kalau perguruan tinggi terlibat dan ikut menikmati benefit implementasi MBG yang saat ini penuh dengan persoalan dan menyedot APBN yang luar biasa banyaknya,” ujarnya tegas.

Ia juga menilai keterlibatan kampus dalam jalannya program ini juga dapat berdampak pada persepsi negatif di masyarakat. Masyarakat akan melihat fenomena ini sebagai bagian pemerintah dalam membungkam suara kritis dari institusi pendidikan melalui pemberian peran dalam proyek ini.

Menurut dia, publik akan membaca sebagai wujud politisasi kampus dan pemerintah akan mendapatkan legitimasi lebih ketika kampus terlibat pada SPPG. Hal ini juga berdampak pada civitas akademika yang akan kurang mampu mengkritisi kebijakan dan program pemerintah.

Ia turut mengingatkan adanya konsekuensi hukum yang dapat terjadi sewaktu-waktu apabila terjadi kendala di lapangan, seperti kasus keracunan makanan yang masih dikhawatirkan dari jalannya program ini. Ia menyarankan agar kampus tetap berada di luar pusaran operasional program guna menjaga integritas institusi.

“Kampus harus tetap mengambil posisi di luar program MBG merupakan pilihan yang rasional guna menjaga marwah universitas agar tidak tergelincir pada pusaran isu yang kontroversial saat ini,” tutur Subarsono.

ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=6npF_Ocn5bw&t=138s

Pos-pos Terbaru

  • Koalisi Masyarakat Sipil Batam: Hentikan Represi dan Kriminalisasi Terhadap Pers dan Warga Sipil
  • Kemenkes dan IDI Perkuat Wujudkan Reformasi Pembiayaan Kesehatan dan Perlindungan Tenaga Medis
  • Menginspirasi Para Pendonor Darah Muda di Seluruh Dunia
  • BNN: 98 Persen Vape Mengandung Narkotika, Psikotropika, atau NPS
  • Tindakan Bersama Menekan Risiko Penyakit Zoonosis di Indonesia
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.