• Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
Senin, Oktober 26, 2026
  • Login
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

Eks Direktur WHO Bicara Ebola Kegawatan Internasional

Sampai 16 Mei 2026, ada 8 kasus terkonfirmasi Ebola dan 246 suspek di Republik Demokratik Kongo.

by Admin
Selasa, 19 Mei 2026
A A
Bagaimana Saran WHO atas Merebaknya Ebola yang Belum Ada Vaksinnya

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara Tjandra Yoga Aditama mengatakan WHO telah menyatakan Ebola sebagai “public health emergency of international concern (PHEIC)”. Saat menjadi Direktur Jenderal P2PL Kementerian Kesehatan, ia menerjemahkannya sebagai “Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia”.

Menurut dia, setidaknya ada tiga alasan mengapa WHO menyatakan Ebola sebagai PHEIC kali ini. Pertama, ini memang kejadian “extraordinary”, atau luar biasa. Sampai 16 Mei 2026, ada 8 kasus terkonfirmasi Ebola dan 246 suspek di Republik Demokratik Kongo. Tragisnya ada 80 “suspected deaths”.

BacaJuga

Kemenkes dan IDI Perkuat Wujudkan Reformasi Pembiayaan Kesehatan dan Perlindungan Tenaga Medis

Menginspirasi Para Pendonor Darah Muda di Seluruh Dunia

Tjandra menyatakan, juga ada kluster penyakit dengan gejala yang sesuai dengan Ebola karena virus Bundibugyo “Bundibugyo virus disease (BVD)” pada beberapa daerah. Bahkan juga ada dugaan kematian pada kluster 4 petugas kesehatan. Juga ditemukan tingginya angka kepositifan, 8 terkonfirmasi dari 13 yang diperiksa.

“Saat ini terus berdatangan laporan kasus dan kematian yang menunjukkan wabah kali ini berpotensi lebih besar dari data yang resmi terlaporkan,” kata dia.

Kedua, sudah ada penularan di luar Kongo, yaitu di Uganda, dengan 2 kasus terkonfirmasi dan salah satunya meninggal. Jadi, sudah ada penularan antarnegara, makanya disebut “internasional”.

Ketiga, kata dia, karena pola penularannya maka perlu kerja sama dan koordinasi internasional, dalam hal surveilans, pencegahan, dan respons. “Ketiga alasan di atas membuat WHO menyatakan Ebola sebagai “Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia”.

Tjandra menyatakan, ada tiga jenis Ebola yang utama, yaitu Ebola virus karena virus Zaire, Sudan virus, dan Bundibugyo virus yang sekarang terjadi. Sejauh ini untuk Ebola karena Bundibugyo virus memang belum ada obat dan vaksin yang di setujui WHO.

Selain itu, kata dia, angka kematian akibat Ebola berkisar antara 25%-90%, tinggi sekali. “Sejauh ini kasus Ebola utamanya ada di Afrika dan pernah dilaporkan kasus di Eropa dan Amerika, dan belum pernah dilaporkan di Asia,” kata Tjandra.

ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=6npF_Ocn5bw&t=138s

Pos-pos Terbaru

  • Koalisi Masyarakat Sipil Batam: Hentikan Represi dan Kriminalisasi Terhadap Pers dan Warga Sipil
  • Kemenkes dan IDI Perkuat Wujudkan Reformasi Pembiayaan Kesehatan dan Perlindungan Tenaga Medis
  • Menginspirasi Para Pendonor Darah Muda di Seluruh Dunia
  • BNN: 98 Persen Vape Mengandung Narkotika, Psikotropika, atau NPS
  • Tindakan Bersama Menekan Risiko Penyakit Zoonosis di Indonesia
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.