• Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
Senin, Oktober 26, 2026
  • Login
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

Risiko Demensia Dapat Dicegah atau Ditunda, Ada Faktor Tembakau dan Alkohol

Demensia adalah kondisi yang disebabkan penyakit otak dan mempengaruhi ingatan, pemikiran, dan kemampuan untuk berfungsi.

by Sunu Dyantoro
Kamis, 16 Juli 2026
A A
Rokok, Otak, dan Demensia: Tiga Hal Tak Terpisahkan

Demensia. (Sumber: Canva/2025)

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merilis pedoman terbaru tentang pengurangan risiko penurunan kognitif dan demensia, Rabu, 15 Juli 2026. Pedoman ini memberikan rekomendasi berbasis bukti kepada negara-negara untuk membantu mencegah atau menunda timbulnya demensia sepanjang siklus hidup.

Demensia adalah kondisi yang disebabkan penyakit otak dan mempengaruhi ingatan, pemikiran, dan kemampuan untuk berfungsi. Lebih dari 57 juta orang hidup dengan demensia di seluruh dunia dan hampir 10 juta orang didiagnosis menderita demensia setiap tahunnya. Penyakit Alzheimer adalah bentuk demensia yang paling umum dan diperkirakan menyumbang 60–70% dari kasus.

BacaJuga

Kemenkes dan IDI Perkuat Wujudkan Reformasi Pembiayaan Kesehatan dan Perlindungan Tenaga Medis

Menginspirasi Para Pendonor Darah Muda di Seluruh Dunia

Meskipun tidak ada obat untuk demensia, hingga 45% risiko dapat dikaitkan dengan faktor risiko yang dapat dimodifikasi seperti penggunaan tembakau, alkohol, isolasi sosial, kurangnya aktivitas fisik, polusi udara, dan penyakit tidak menular (PTM), termasuk tekanan darah tinggi dan diabetes. Selain kesehatan, demensia memengaruhi kemandirian, martabat, dan keselamatan seseorang.

“Kita sekarang lebih memahami faktor-faktor yang meningkatkan risiko demensia daripada sebelumnya, dan pedoman ini menerjemahkan pengetahuan tersebut ke dalam tindakan,” kata Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.

“Negara-negara sekarang memiliki rekomendasi yang jelas dan berbasis bukti yang dapat mereka terapkan segera untuk melindungi kesehatan kognitif masyarakat.”

Pedoman baru WHO mencerminkan bukti dan inovasi terbaru dalam pengurangan risiko demensia, menyediakan intervensi yang terbukti efektif menurunkan risiko demensia melalui kesadaran dini dan tindakan tepat waktu. Pedoman ini mewakili peluang penting untuk mengurangi beban demensia dalam beberapa dekade mendatang melalui integrasi layanan yang lebih kuat untuk penyakit tidak menular, kesehatan mental, dan kesehatan otak.

Mengurangi risiko, mencegah penyakit

Pedoman yang diperbarui ini mencerminkan pertumbuhan signifikan dalam basis bukti sejak WHO pertama kali mengeluarkan rekomendasi tentang pengurangan risiko demensia pada tahun 2019. Pedoman ini memberikan rekomendasi terpadu tentang mengatasi perilaku tidak sehat, mengelola kondisi medis, dan mengurangi paparan faktor lingkungan yang dapat berkontribusi pada penurunan kognitif dan demensia.

Pedoman tersebut merekomendasikan beberapa perilaku sehat dan intervensi gaya hidup untuk mengurangi risiko demensia. Termasuk pelatihan kognitif dan stimulasi kognitif serta keterlibatan dalam aktivitas sosial bagi orang dewasa yang memiliki kognisi normal atau mengalami gangguan kognitif ringan.

Pedoman terbaru ini juga mencakup intervensi yang mengurangi risiko penyakit tidak menular (PTM), termasuk meningkatkan aktivitas fisik, dan berhenti menggunakan tembakau. Selain itu, mengurangi konsumsi alkohol, menerapkan pola makan sehat, dan rekomendasi baru untuk mengurangi paparan polusi udara.

Pengelolaan kondisi kardiometabolik seperti hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi juga dapat membantu mengurangi risiko demensia. Lebih lanjut, alat bantu dengar dapat ditawarkan sebagai bagian dari strategi pengurangan risiko.

Sebagai intervensi untuk mengurangi risiko penurunan kognitif dan/atau demensia, pedoman itu tidak merekomendasikan suplementasi dengan vitamin B dan E, asam lemak tak jenuh ganda omega-3 (PUFA) dan multivitamin/mineral tanpa adanya defisiensi yang terdiagnosis. Sebab, kurangnya bukti manfaat potensial yang lebih besar daripada efek berbahaya yang tidak terduga.

Demensia mempengaruhi kemampuan seseorang untuk hidup mandiri, bekerja, dan berfungsi, sekaligus memberikan beban yang besar pada keluarga dan pengasuh. Penyakit ini menimbulkan kerugian ekonomi yang besar, diperkirakan menelan biaya ekonomi global sebesar US$ 1,3 triliun setiap tahunnya.

Sekitar setengah dari biaya ini disebabkan oleh perawatan tanpa bayaran yang diberikan oleh keluarga dan teman. Memahami faktor risiko dan mengambil tindakan untuk mencegah demensia dapat meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup, membantu orang untuk hidup lebih lama, lebih sehat, dan lebih mandiri.

ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=6npF_Ocn5bw&t=138s

Pos-pos Terbaru

  • Koalisi Masyarakat Sipil Batam: Hentikan Represi dan Kriminalisasi Terhadap Pers dan Warga Sipil
  • Kemenkes dan IDI Perkuat Wujudkan Reformasi Pembiayaan Kesehatan dan Perlindungan Tenaga Medis
  • Menginspirasi Para Pendonor Darah Muda di Seluruh Dunia
  • BNN: 98 Persen Vape Mengandung Narkotika, Psikotropika, atau NPS
  • Tindakan Bersama Menekan Risiko Penyakit Zoonosis di Indonesia
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.