• Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
Senin, Oktober 26, 2026
  • Login
Prohealth
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis
No Result
View All Result
Prohealth
No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

Mahasiswa UGM Kembangkan Inovasi Penghantaran Obat Tuberkulosis ke Paru Melalui Inhalasi

Keberadaan bakteri di dalam makrofag alveolar, salah satu sel pertahanan tubuh di paru-paru, menjadi salah satu pertimbangan tim dalam merancang sistem penghantaran obat.

by Tim Prohealth
Selasa, 1 September 2026
A A
Mahasiswa UGM Kembangkan Inovasi Penghantaran Obat Tuberkulosis ke Paru Melalui Inhalasi

Penyakit Tuberkulosis (TB) yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis ini umumnya menyerang paru-paru dan pada kondisi tertentu dapat memerlukan penggunaan obat lini kedua, termasuk levofloksasin. Upaya mencari pendekatan baru dalam penanganan tuberkulosis, mendorong lima mahasiswa UGM mengembangkan sistem penghantaran obat yang dirancang untuk mengeksplorasi cara membawa antibiotik levofloksasin menuju paru-paru melalui pemberian obat menggunakan inhalasi.

Keberadaan bakteri di dalam makrofag alveolar, salah satu sel pertahanan tubuh di paru-paru, menjadi salah satu pertimbangan tim dalam merancang sistem penghantaran obat. Dari kondisi ini, tim mahasiswa UGM mencoba melihat apakah obat dapat dibawa dengan pendekatan yang sekaligus mempertimbangkan lokasi infeksi.

BacaJuga

BNN: 98 Persen Vape Mengandung Narkotika, Psikotropika, atau NPS

Tindakan Bersama Menekan Risiko Penyakit Zoonosis di Indonesia

Inovasi ini dikembangkan tim Levocross terdiri dari Alphatar Magnus Jonathan Tambunan, Emeliana Putri Ayu Ningsih, dan Ernestus Revan Yogantara Arjuna dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, serta Desrika Dwi Handayani dan Fatharani Hasya Tsabita dari Fakultas Farmasi. Penelitian ini didampingi oleh Ronny Martien dari Fakultas Farmasi UGM.

Penelitian ini menjadi bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Eksakta (PKM-RE) 2026. Levocross memadukan levofloksasin dengan teknologi pembawa berukuran nano dan asam hialuronat. Kombinasi ini dikembangkan untuk membantu membawa obat melalui saluran pernapasan sekaligus mengeksplorasi kemungkinan penghantaran menuju sel tertentu di paru-paru.

Alphatar Magnus Jonathan Tambunan, salah satu anggota menjelaskan penelitian ini bertujuan mengeksplorasi terkait jalannya obat. Ia menjelaskan bahwa bagaimana obat dapat dihantarkan dengan mempertimbangkan lokasi infeksi dan sel yang menjadi target pada tuberkulosis.

“Penelitian ini masih terus berjalan sehingga berbagai pengujian yang kami lakukan menjadi bagian penting untuk mengetahui formulasi yang paling optimal,” ujarnya, Senin, 31 Agustus 2026.

Ia menjelaskan dalam prosesnya, levofloksasin dimasukkan ke dalam sistem pembawa menggunakan metode hot emulsification-ultrasonication. Alphatar menceritakan campuran bahan kemudian diproses menggunakan gelombang ultrasonik hingga terbentuk partikel berukuran nano.

Setelah itu, disebutkannya asam hialuronat ditambahkan pada sistem tersebut. Formulasi yang dihasilkan selanjutnya dipersiapkan untuk melalui berbagai tahapan evaluasi.

Alphatar kemudian menguji formulasi untuk mengetahui karakteristik dan kemampuannya dalam membawa obat. Ia menyatakan pengujian meliputi ukuran dan keseragaman partikel, jumlah obat yang berhasil dimuat, kestabilan, hingga pelepasan levofloksasin.

“Selain itu, formulasi juga diuji menggunakan nebulizer untuk melihat kemampuannya menghasilkan aerosol sebagai bagian dari pengembangan pemberian obat melalui inhalasi,” katanya.

Hingga saat ini, penelitian Levocross masih berlangsung dan tim sedang melakukan pengumpulan serta analisis data. Pengujian in vitro juga dilakukan untuk melihat kemampuan formulasi berinteraksi dan masuk ke dalam sel.

Hasil dari berbagai evaluasi ini nantinya akan digunakan untuk menentukan formulasi yang paling optimal. Melalui penelitian ini, tim berharap Levocross dapat menjadi salah satu langkah dalam mengeksplorasi pendekatan baru pada sistem penghantaran obat untuk mendukung terapi tuberkulosis.

Tags: inovasituberkulosistuberkulosis resisten obatuniversitas gadjah mada
ShareTweetSend

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=6npF_Ocn5bw&t=138s

Pos-pos Terbaru

  • BNN: 98 Persen Vape Mengandung Narkotika, Psikotropika, atau NPS
  • Tindakan Bersama Menekan Risiko Penyakit Zoonosis di Indonesia
  • Bakteri Pembawa Gen Resistansi Antimikrob Ditemukan di Ekosistem Pemotongan Hewan, Ini Penjelasannya
  • Seperlima Penyakit Penyebab Disabilitas Disumbang oleh Katarak
  • Bahaya Vape bagi Kesehatan, 35 Negara Melarang
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Kesehatan
  • Ekonomi
  • Perempuan dan Anak
  • Profil
  • Regulasi
  • Lingkungan
  • Cek Fakta
  • Opini
  • Infografis

© 2024 Prohealth.id | Sajian Informasi yang Bergizi dan Peduli.